Renungan

Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?

Judul artikel di atas dikutip dari : 1Co 15:55
O death, where is thy sting? O grave, where is thy victory?

Rasul Paulus menulis 1Co 15:55 untuk menjelaskan bahwa di dalam Kristus Yesus, kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan atau mengerikan. Bagi mereka yang mempercayai Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat ( sebagai Lord dan Savior / sebagai Adonai dan Mashiach ) maka kehidupan ini adalah untuk berbakti bagi Kristus sedangkan kematian merupakan keuntungan.
Php 1:21 For to me to live is Christ, and to die is gain.

Artikel ini saya tulis ketika saya melihat masih banyak anak-anak Tuhan pengikut Kristus yang ketika ditinggal oleh sanak saudara terkasih melalui kematian kemudian mengalami dukacita yang mendalam seakan-akan tidak akan bertemu kembali.

Tetapi apa yang Alkitab katakan tentang mereka yang meninggal di dalam Nama Yesus Kristus?

Paulus menulis :
1Th 4:13
But I would not have you to be ignorant, brethren, concerning them which are asleep, that ye sorrow not, even as others which have no hope.

Dalam bahasa aslinya dituliskan :
1Th 4:13
OU [not] THELO [I would] DE [but] HUMAS [have you] AGNOEO [to be ignorant] ADELPHOS [bretheren] PERI [concerning] HO [the] KOIMAO [them which are asleep] HINA [that] ME [not] LUPEO [ye sorrow] KATHOS [as] KAI [even] HO [the] LOIPOI [others] HO [the] ME [no] ECHO [which have] ELPIS [elpis].

Paulus menjelaskan bahwa mereka yang telah meninggal di dalam Nama Yesus Kristus adalah sebagai mereka yang asleep atau dalam bahasa Yunani adalah KOIMAO. Berdasarkan Thayer’s Greek Definition arti kata KOIMAO adalah :
κοιμάω
koimaō
Thayer Definition:
1) to cause to sleep, put to sleep
2) metaphorically
2a) to still, calm, quiet
2b) to fall asleep, to sleep
2c) to die

Sedangkan kata dead dalam bahasa Yunani adalah NEKROS.
Mat 8:22
But Jesus said unto him, Follow me; and let the dead bury their dead.

Mat 8:22
HO [the] DE [but] IESOUS [Jesus] EPO [said] AUTOS [unto him] AKOLOUTHEO [follow] MOI [Me] KAI [and] APHIEMI [let] HO [the] NEKROS [dead] THAPTO [bury] HO [the] HEAUTOU [their] NEKROS [dead].

Berdasarkan arti kata dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Yunani, maka kita mengetahui bahwa bagi kita yang ada di dalam Tuhan Yesus Kristus, kematian adalah bukan NEKROS. NEKROS adalah untuk mereka yang ada di luar Kristus. Mereka yang ada di luar Kristus sebenarnya mengalami dead. Baik itu spiritual dead, dan juga real dead ketika ajal menjemput.

Bagi kita yang ada di dalam Kristus, maka kematian adalah hanya sebuah KOIMAO. Kematian bagi anak-anak Tuhan adalah sebuah asleep, sebuah tidur atau istirahat. Karena kematian di dalam Kristus kini adalah sebuah tidur, maka Paulus mengatkan agar kita yang masih hidup, yang ditinggal oleh mereka yang meninggal di dalam Kristus agar jangan berdukacita seakan-akan seperti orang yang tidak mempunyai pengharapan.

Dalam 1Th 4:13 Paulus mengtakan agar kita that ye sorrow not.

Kata sorrow berasal dari bahasa Yunani yaitu LUPEO. Berdasarkan Thayer’s Greek Definition dijelaskan arti kata LUPEO sebagai berikut :
λυπέω
lupeō
Thayer Definition:
1) to make sorrowful
2) to affect with sadness, cause grief, to throw into sorrow
3) to grieve, offend
4) to make one uneasy, cause him a scruple

Artinya firman Tuhan melalui tulisan Paulus mengatakan agar kita mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kita jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Elohim bersama-sama dengan Dia. Kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.

Lalu, bagaimana keadaan mereka yang telah meninggal di dalam Tuhan pada saat kedatangan Tuhan? Firman Tuhan mengatakan :
1Th 4:16
For the Lord himself shall descend from heaven with a shout, with the voice of the archangel, and with the trump of God: and the dead in Christ shall rise first:
1Th 4:17
Then we which are alive and remain shall be caught up together with them in the clouds to meet the Lord in the air: and so shall we ever be with the Lord.

Pada saat hari kedatangan Tuhan ( pada saat Rapture ), maka mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.

Jadi apakah kita akan bertemu kembali dengan mereka yang telah meninggal? Ya. Kita akan bertemu dan berkumpul kembali dan selama-lamanya kita akan bersama-sama dengan Tuhan bersama keluarga kita.

Lalu, adakah alasan bagi pengikut Kristus untuk berdukacita tanpa pengharapan, tanpa penghiburan? Tidak ada, itu semua karena Tuhan kita Yesus Kristus…Halleluyah!

Karena itulah Paulus mengatakan :
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?

Tuhan Yesus memberkati.
Andre

Menjadi seperti Yesus

Kita tidak pernah bisa sebagaimana Yesus pernah ada, tetapi kita bisa melakukan sebagaimana yang Yesus telah lakukan.

Ingatkah menyanyikan lagu “I would Be Like Jesus”?

Be like Jesus, this my song (Seperti Yesus, inilah laguku).
In the home and in the throng (Di rumah dan di tengah keramaian).
Be like Jesus all day long! (Seperti Yesus sepanjang hari!)
I would be like Jesus (Aku mau seperti Yesus).

Apakah mungkin untuk menjadi seperti Yesus? Atau apakah lagu tersebut sebuah kesalahan? Apakah mungkin menjadi seperti Yesus dalam beberapa cara dan tidak dalam cara lain?

Untuk memulai, kita tahu bahwa ada satu cara dalam mana kita tidak akan pernah bisa seperti Yesus—karena Dia adalah Allah dan kita tidak. Dia adalah Pencipta kita, dan kita hanyalah ciptaan. Kita dapat menjadi pengambilbagian dari sifat keilahian-Nya melalui kehadiran-Nya dalam hidup kita. Tetapi kita tidak akan pernah menjadi lebih dari pada manusia. Jadi dalam pengertian itu kita tidak dapat menjadi seperti Yesus.

Penjelmaan Yesus telah, dan akan selalu tetap sebuah misteri. Itu dinyatakan, bagi kita dan bagi anak-anak kita, namun biarlah setiap manusia diamarkan dari wilayah yang menyamakan Kristus dengan manusia lain, seperti diri kita; karena itu tidak bisa.”—Komentar-komentar Ellen G. White, S.D.A. Bible Commentary, vol. 5, hal. 1129.

Tetapi walaupun ketika kita membatasi perbandingan kita kepada aspek sifat manusia Yesus, kita masih menemukan bahwa kita tidak akan pernah benar-benar seperti Dia. Dia lahir sebagai “yang disebut kudus”, tanpa dosa dalam sifat alamiah sejak lahir, sebagai mana yang kita telah ketahui dalam Thesis 90. Kita dilahirkan terpisah dari Allah, berdosa dalam sifat alamiah sejak lahir. Selama kita hidup di dunia ini, kita akan memiliki perbedaan itu dalam setiap sifat alamiah kita. Lihat Christ Object Lessons, hal. 160.

Cara lain dalam mana kita tidak akan pernah bisa menjadi seperti Yesus adalah dosa-dosa masa lalu kita. Kita memiliki sebuah catatan masa lalu yang buruk. Melalui kekekalan kita akan selalu menemukan diri kita dalam kebutuhan akan kasih karunia pembenaran dan pengampunan Kristus untuk menutupi dosa-dosa masa lalu kita. Karena Yesus tidak pernah berdosa, Dia tidak pernah mempunyai dosa-dosa masa lalu.

Namun, masih mungkin bagi kita untuk menjadi seperti Yesus! Kita dapat hidup sebagai mana Yesus hidup dan bekerja sebagaimana Dia bekeja. Kita dapat memiliki kemenangan atas pencobaan-pencobaan dalam cara yang sama Dia telah menang, melalui ketergantungan kepada kuasa dari atas, dari pada kuasa dari dalam. Kita dapat hidup dalam hubungan kepada Allah sebagai mana Dia hidup dan kemudian menemukan bahwa perbedaan-perbedaan di antara kita tidak menjadi perbedaan!

Yesus hidup sebagai manusia. Melalui seluruh kehidupan-Nya di bumi ini, Dia tidak pernah menggunakan kuasa keilahian-Nya hingga pada pagi Kebangkitan.

Semua mukjizat yang Yesus buat—membangkitkan orang mati, menyembuhkan penyakit, memulihkan penderita kusta, mengusir setan, berjalan di atas air, membaca pikiran orang—semua juga dilakukan oleh para pengikut-Nya. Pekerjaan yang Yesus lakukan adalah pekerjaan yang dilakukan oleh Bapa-Nya. Yesus mengatakannya dalam Yohanes 14:10, “Bapa yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Sekitar sebelas kali buku The Desire of Ages menyebutkan bahwa “keilahian terpancar melalui kemanusiaan”. Pertama kali adalah pada saat pembersihan kaabah yang pertama, ketika untuk sesaat selubung kemanusiaan kelihatannya tersingkap sedikit, dan umat manusia sekilas melihat keilahian di dalamnya. Namun walaupun di sana, kata-kata itu penting. Dikatakan bahwa keilahian terpancar melalui—bukan dari. Walaupun demikian, Bapalah yang mengendalikan, dan itu adalah keilahian Bapa yang dinyatakan melalui Anak-Nya.

Tetapi yang lebih penting bahwa mukjizat yang Yesus lakukan adalah kemenangan yang diberikan kepada-Nya dalam peperangan-Nya melawan musuh. Melalui persekutuan bersama Bapa-Nya, melalui ketergantungan pada Bapa-Nya, Dia mendapatkan kemenangan. Dan kemenangan-Nya dapat menjadi milik kita. Sebagaimana pekerjaan Bapa dinyatakan dalam kehidupan Yesus, demikianlah Dia bekerja di dalam kita, “baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:13.

by Joriko Melvin S

DOSA

Setiap orang dilahirkan penuh dosa (atau berpusat pada diri) karena setiap orang dilahirkan terpisah dari Allah

Sebagai manusia, kita memiliki sedikitnya dua persamaan. Pertama, kita telah dilahirkan. Kedua, kita dilahirkan penuh dosa. Masalah dosa kita berawal dari kelahiran, karena kita dilahirkan terpisah dari Allah.

Kadang kala orang merasa sulit menerima kebenaran ini. Mereka melihat pada seorang bayi yang baru lahir dan berkata, “Bagaimana mahluk yang begini mungil, tidak berdaya, bisa penuh dosa?” Tetapi beberapa orang merasa sulit menerima kenyataan bahwa seorang bayi yang baru lahir sepenuhnya mementingkan diri! Tidak peduli betapa lelahnya sang ibu atau sang ayah yang harus bekerja besok. Jika seorang bayi ingin diberi makan atau dibersihkan atau diajak bermain, dia selalu punya cara untuk agar diperhatikan. Seorang bayi sepenuhnya berpusat pada diri.

Dilahirkan ke dunia ini adalah pengalaman tragis! “Warisan untuk anak-anak adalah dosa. Dosa telah memisahkan mereka dari Allah.”—Child Guidance, hal. 475. Karena dosa Adam, keturunannya dilahirkan dengan membawa kecenderungan ketidakmenurutan. Baca komentar-komentar Ellen G. White, S.D.A. Bible Commentary, Vol. 5, hal. 1128.

Pada tujuh thesis pertama kita telah belajar tentang kebenaran. Karena lawan dari kebenaran adalah dosa, kelihatannya cukup masuk akal bila kita menjadikannya pokok pembahasan berikutnya. Pengertian yang jelas tentang kebenaran dan dosa adalah penting bagi setiap pelajaran keselamatan oleh iman. Bagaimana engkau menangani kedua topik ini dapat menjadi retakan kecil yang akan menganga menjadi jurang nantinya.

Pelajaran kita tentang kebenaran sejauh ini mungkin dapat dirangkumkan dengan mengatakan bahwa kebenaran datang melalui hubungan Yesus, hal itu tidak didasarkan pada tingkah laku. Jika itu benar, maka kita juga harus mendefinisikan dosa sebagai sesuatu yang lebih dari pada sekedar tingkah laku. Kita penuh dosa oleh kelahiran. Kita pada dasarnya penuh dosa. Sifat dasar kita adalah jahat; perbuatan-perbuatan jahat kita hanyalah hasil dari sifat dasar kita.

Paulus berkata dalam Efesus 2:3, “Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai.” Mazmur 58:4, “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah tersesat.” Dan bila engkau merasa ragu siapakah yang termasuk di antara “orang fasik”, ingatlah Roma 3:10, “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.”

Alkisah, Seekor kalajengking ingin menyeberangi sebuah sungai. Dia bertemu dengan katak di tepi sungai dan meminta agar diizinkan untuk naik ke punggung katak.

“Oh tidak,” jawab sang katak. “Jika aku mengizinkan engkau merangkak ke punggungku, engkau akan menyengatku dan aku akan mati.”

“Mengapa aku harus melakukan itu?” tanya kalajengking. “Jika aku menyengatmu dan engkau mati, maka kita berdua akan tenggelam, dan aku tidak akan berhasil menyeberangi sungai.”

Pendapat kalajengking masuk akal bagi katak, maka dia mengizinkan kalajengking naik ke punggungnya dan diapun mulai berenang.

Sekitar separuh perjalanan menuju ke seberang, kalajengking menyengat sang katak. Saat katak dalam keadaan sekarat dia berkata, “Mengapa engkau melakukan itu? Sekarang kita berdua akan mati!”

Kalajengking menjawab dengan sedih, “Aku tahu, tapi aku tidak mampu menahannya. Itu adalah sifat alamiahku.”

Ini adalah dilema umat manusia. Sifat dasar kita adalah kemerosotan. Kita tidak bisa menolong diri kita. Bahkan walaupun kita menyadari bahwa kita sedang menghancurkan diri kita, kita menemukan bahwa kita tidak berdaya untuk berhenti berbuat dosa, karena sifat dasar kita adalah kejahatan. “Akibat dari memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat dinyatakan di dalam pengalaman setiap manusia. Dalam sifat dasarnya ada kecenderungan berbuat jahat, sebuah kekuatan, bila tanpa bantuan, tidak dapat dilawannya.”—Education, hal. 29. Karena dosa Adam, “sifat alamiah kita telah jatuh, dan kita tidak dapat membuat diri kita benar.”—Steps to Christ, hal. 62.

Karena masalah dosa lebih dalam dari pada sekedar berbuat hal-hal yang salah, karena sifat alamiah kita penuh dosa dari sejak kita dilahirkan ke dunia yang berdosa ini, maka jawaban untuk masalah dosa harus lebih dalam dari pada sekedar tingkah laku. TUHAN menawarkan untuk mulai dari awal lagi. Dia menawarkan kita kelahiran baru, bersama dengan sifat alamiah baru.

Yesus menjelaskan kepada Nikodemus dalam khotbah tengah malam-Nya kepada satu-satunya pendengar bahwa kecuali dilahirkan kembali, kita tidak memiliki pengharapan untuk melihat kerajaan surga. Kelahiran pertama tidak berguna bagi kehidupan kekal—sebuah kelahiran kedua harus mengikutinya. Kabar baik tentang keselamatan adalah bahwa karena Yesus kita dapat menerima sifat alamiah baru, dan oleh memberikan sifat alamiahnya yang suci, kita dapat melepaskan diri dari kejahatan dunia yang penuh dosa dimana kita dilahirkan ini.

http://kebenaran-oleh-iman.blogspot.com

6 responses to “Renungan

  1. Samolala Lase

    Lumayan juga nats bahasan ini sangat membantu utk mengerti arti kehidupan ini.

    Yaahowu

    Ama Rahmat Lase

  2. Agus Zai

    RAHASIA DOA YANG DIJAWAB

    Anatoli Levitin, seorang penulis dan ahli sejarah Rusia, menghabiskan hidupnya bertahun-tahun di Gulag Siberia di mana doa-doa kepada Tuhan mungkin sudah membeku di tanah. Namun ia kembali dengan keadaan kerohanian yang baik. Ia menulis, “Keajaiban yang terbesar adalah doa-doa.” Saya hanya perlu berbalik secara mental kepada Tuhan, dan pada saat itu saya merasakan sebuah kekuatan dicurahkan kepada saya dari suatu tempat, masuk ke dalam jiwa saya, seluruh tubuh saya. Apakah itu? Di manakah saya berada, seorang tua yang biasa-biasa saja, yang sudah lelah menempuh perjalanan kehidupan, mendapatkan kekuatan yang memperbaharui dan menyelamatkan saya, dan mengangkat saya di atas bumi? Itu semua datang dari luar diri saya “dan tidak ada kekuatan di dunia ini yang dapat melawannya.” Dalam penuntun ini kita akan melihat bagaimana doa dapat menolong kita membangun hubungan yang lebih erat dengan Tuhan dan memupuk kehidupan kekristenan kita.

    1. PERCAKAPAN DENGAN TUHAN

    Bagaimana kita bisa yakin Tuhan mendengar doa kita?

    “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk BERDOA KEPADAKU, maka AKU AKAN MENDENGARKAN KAMU; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.” – Yeremia 29-12, 13. (Kecuali disebutkan secara khusus, semua ayat Alkitab di dala Panduan DISCOVER ii diambil dari Alkitab berbahasa Indonesia Terjemahan Baru, terbitan Lembaga Alkitab Indonesia).

    Jaminan apa yang Yesus berikan bahwa Ia akan mendengar dan menjawab doa kita?

    “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” – Lukas 11:9.

    Doa merupakan komunikasi dua arah. Itu sebabnya Yesus berjanji:

    “Lihat, Aku beridiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” – Wahyu 3:20.

    Bagaimana kita bisa duduk dengan nyaman, bercakap-cakap dan menikmati santapan malam bersama Kristus? Pertama, dengan mencurahkan segala sesuatu yang ada dalam hati kita di dalam doa. Kedua, mendengar dengan seksama. Pada saat bermeditasi dalam doa, Allah dapat berbicara langsung kepada kita. Dan dalam membaca dan merenungkan firmanNya, Allah akan berbicara kepada kita melalui lembaran-lembaran itu. Doa dapat menjadi jalan kehidupan bagi orang Kristen.

    “BERDOA TANPA BERKESUDAHAN; Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” – 1 Tesalonika 5:16-18.

    Bagaimana kita dapat berdoa “tanpa berkesudahan”? Apakah kita harus terus berlutut sepanjang hari atau terus mengulangi pujian dan
    permohonan kita? Tentu saja tidak. Namun kita harus hidup dekat dengan Yesus dan tidak sungkan berbicara denganNya kapan saja, di mana saja. “Dalam kebisingan di jalan, di tengah pekerjaan bisnis, kita dapat menaikkan permohonan kita kepada Tuhan dan meminta bimbinganNya… Kita harus terus membuka pintu hati dan mengundang kehadiran Yesus dan tinggal sebagai tamu surgawi di hati kita.” Steps to Christ halaman 99. Salah satu cara terbaik untuk mengembangkan hubungan akrab adalah dengan belajar melakukan renungan pada saat kita berdoa.

    “Biarlah renunganku manis kedengaran kepadaNya! Aku hendak bersukacita karena Tuhan.” – Mazmur 104:34.

    Jangan terburu-buru dengan daftar permintaan saat berdoa. Tunggu. Dengar. Perenungan kembali dalam doa akan sangat memperkaya hubunganmu dengan Tuhan.

    “Mendekatlah kepada Allah dan Ia akan mendekat kepadamu.” – Yakobus 4:8.

    Semakin dekat kita datang kepada Yesus, semakin mampu kita merasakan kehadiranNya. Karena itu tetaplah berbicara dengan Yesus dan jangan kuatir tentang mencari kata-kata yang tepat. Berbicaralah dengan jujur dan terbuka. Bicarakan segala sesuatu. Ia sudah merasakan penderitaan dan kematian itu sendiri seperti untuk dapat menjadi sahabatmu.

    2. BAGAIMANA CARA BERDOA

    Saat kita berdoa, kita dapat mengikuti Doa Bapa Kami, doa yang diajarkan Yesus kepada murid-muridNya ketika menjawab permintaan mereka: “Ajarilah kami berdoa.”

    “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah namaMu, datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.” – Matius 6:9-13.

    Sesuai pola yang diberikan Yesus di dalam doaNya, kita datang kepada Tuhan yang adalah Bapa kita yang di surga. Minta kepadaNya untuk menguasai hati kita sebagaimana Ia menguasai surga. Kita mencari Dia karena kebutuhan fisik, pengampunan, dan tingkah laku yang penuh pengampunan. Ingatlah bahwa kemampuan kita untuk melawan dosa datang dari Tuhan. Doa Tuhan Yesus ditutup dengan pujian.

    Dalam kesempatan lain Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk berdoa kepada Bapa “dalam namaKu” (Yohanes 16:23), yang berarti berdoa sejalan dengan prinsip-priinsip Yesus. Itu sebabnya orang Kristen biasanya menutup doa mereka dengan kata-kata: Dalam nama Yesus, Amin. Amin berasal dari Bahasa Ibrani yang berarti “biarlah jadi demikian.”

    Walaupun Doa Bapa Kami memberikan tuntunan untuk berdoa dan bagaimana membuat doa, komunikasi kita dengan Tuhan bekerja optimal apabila keluar dari hati kita. Kita dapat mendoakan segala sesuatu. Allah mengundang kita untuk pengampunan dosa kita (1 Yohanes 1:9), menguatkan iman (Markus 9:24), keperluan hidup (Matius 6:11), menyembuhkan dari penderitaan dan penyakit (Yakobus 5:15), dan kecurahan Roh Kudus (Zakaria10:1). Yesus menjamin bahwa kita dapat membawa semua kebutuhan dan kekhawatiran kita kepadaNya; tidak ada hal yang terlalu kecil untuk didoakan.

    “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab ia yang memelihara kamu.” – 1 Petrus 5:7.

    Juru Selamat kita berminat dengan segala detail kehidupan kita. HatiNya menjadi hangat saat hati kita datang kepadaNya dalam kasih dan iman.

    3. DOA PRIBADI

    Kebanyakan dari kita mempunyai hal-hal yang enggan kita ceritakan bahkan dengan sahabat terdekat kita. Nah, Allah mengundang kita untuk menghilangkan beban diri sendiri dalam doa pribadi: hati ke hati dengan Allah. Tidak berarti bahwa Allah tidak memerlukan informasi. Allah Yang Maha Tahu mengetahui ketakutan yang tak terungkap, motif yang tersembunyi, dan luka yang terkubur – lebih dalam dari yang kita ketahui. Tetapi kita harus membuka hati kita kepadaNya yang mengetahui kita dengan akrab dan mengasihi kita tanpa berkesudahan. Penyembuhan dapat dimulai pada saat Yesus menyentuh luka kita. Pada saat kita berdoa, Yesus, Imam Besar kita, ada dekat untuk menolong kita:

    “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya SAMA DENGAN KITA, IA TELAH DICOBAI, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rakhmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” – Ibrani 4:15, 16.

    Apakah anda merasa cemas, tertekan, berdosa? Serahkan semua itu kepada Tuhan. Ia dapat memenuhi segala kebutuhan kita. Perlukah kita mempunyai tempat khusus untuk doa pribadi?

    “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” – Matius 6:6.

    Sebagai tambahan – berdoa pada saat berjalan di jalan bekerja, atau menikmati acara sosial, setiap orang Kristen harus mempunyai waktu yang dipisahkan setiap hari untuk doa pribadi dan mempelajari Alkitab. Buatlah janji pertemuan harian dengan Tuhan pada waktu engkau merasa paling siap dan dapat berkonsentrasi penuh.

    4. DOA BERSAMA

    “Bergabung dengan orang lain dalam doa menciptakan ikatan khusus dan mengundang kuasa Tuhan dalam cara khusus. “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam NamaKu, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” – Matius 18:20.

    Salah satu hal terbesar yang dapat kita lakukan di dalam keluarga adalah untuk mengembangkan kehidupan doa bersama. Tunjukkan kepada anak-anak bahwa kita dapat membawa kebutuhan kita kepadaNya langsung. Mereka akan senang mengetahui Tuhan sebagaimana Ia menjawab doa dalam kehidupan sehari-hari. Buatlah kebaktian keluarga yang menyenangkan, waktu untuk berbagi bersama-sama yang menyegarkan.

    5. TUJUH RAHASIA DOA YANG DIJAWAB

    Waktu Musa berdoa, Laut Merah terbelah. Waktu Elia berdoa, api turun dari surga. Waktu Daniel berdoa, malaikat menutup mulut singa-singa yang lapar. Alkitab menceritakan doa-doa yang dijawab. Dan itu semua menganjurkan bahwa doa adalah jalan untuk melangkah menuju kuasa Tuhan Allah yang besar. Yesus berjanji:

    “Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya.” – Yohanes 14:14.

    Namun beberapa doa tampaknya tidak dijawab. Kenapa? Ada tujuh prinsip yang dapat membantu kita berdoa lebih efektif:

    (1) Tetaplah dekat dengan Yesus.
    “JIKALAU KAMU TINGGAL DI DALAM AKU dan firmanKu TINGGAL DI DALAM KAMU, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” – Yohanes 15:7.

    Pada saat kita menjadikan hubungan dengan Tuhan sebagai prioritas dan tetap menjaga hubungan denganNya, kita akan mendengar dan mencari jawaban-jawaban atas doa kita, yang mungkin terlepas dari perhatian kita.

    (2) Tetap percaya kepada Tuhan.
    “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa DENGAN PENUH KEPERCAYAAN, kamu akan menerimanya.” – Matius 21:22.

    Untuk percaya atau mempunyai iman, berarti kita betul-betul melihat kepada Bapa di surga untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika anda khawatir karena merasa kurang iman, ingatlah bahwa Penebus kita menunjukan mujizat kepada orang yang memohon dalam keputusasaan:

    “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” – Markus 9:24.

    Pusatkan saja pemikiran anda kepada pelaksanaan iman yang engkau MILIKI; jangan kuatir dengan iman yang TIDAK engkau miliki.

    (3) Berserah pada kehendakNya.
    “Dan inilah keberanian kepercayaan kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.” – 1 Yohanes 5:14.

    Ingatlah bahwa Tuhan ingin mengajarkan kita, di samping juga memberikan kita berbagai hal, melalui doa. Kadang Ia berkata, “Tidak”; Kadang Ia membawa kita ke arah lain. Doa merupakan saran untuk lebih mengenal kehendak Allah. Kita harus peka atas tanggapan Allah dan belajar dari sana. Tetap mengikuti permohonan yang khusus dan melihat apa hasilnya adalah sangat membantu. “Roh Kudus akan menolongmu mengatasi hal yang mustahil: Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.” (Roma 8:27). Ingatlah bahwa kemauan kita akan selalu sama dengan kemauan Allah jika kita dapat mengetahui kemauanNya.

    (4) Menunggu dengan sabar di dalam Dia.
    “AKU SANGAT MENANTI-NANTIKAN TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.” – Mazmur 40:2.

    Sasaran utama di sini adalah untuk tetap berfokus pada Tuhan, tetap berfokus pada jawabanNya. Dan jangan minta Tuhan untuk mendukung dan sesaat kemudian mencoba mengalihkan masalah-masalah kepada pencarian akan kesenangan berikutnya. Tunggu dengan sabar di dalam Tuhan; kita harus berdisiplin dalam hal penantian.

    (5) Tinggalkan dosa.
    “Sendainya ada NIAT JAHAT DALAM HATIKU, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.” – Mazmur 66:18.

    Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaranNya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar ialah segala dosamu (Yesaya 59:1-2). Engkau tidak dapat tetap berdosa di satu sisi sementara di sisi lain datang meminta pertolongan ilahi. Pengakuan dan pertobatan memecahkan masalah. Jika kita tidak mengizinkan Tuhan membebaskan kita dari pikiran jahat, kata-kata, dan perbuatan, doa kita tidak akan efektif.

    “Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” – Yakobus 4:3.

    Tuhan tidak akan menjawab “YA” kepada doa-doa yang mementingkan diri sendiri.

    Bukalah telingamu pada hukum-hukumNya, kehendakNya, dan Ia akan membuka telingaNya atas segala permohonanmu

    “Siapa yang memalingkan telinganya untuk tidak mendengarkan hukum, juga doanya adalah kekejian.” – Amsal 28:9.

    (6) Rasakan kebutuhan akan Tuhan.
    Tuhan menjawab orang yang mengundang kehadiran dan kuasaNya ke dalam kehidupan mereka.

    “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” – Matius 5:6

    (7) Bertekun dalam doa.
    Yesus mengilustrasikan perlunya bertekun dalam permohonan kita dengan menceritakan kisah janda yang sangat tekun yang terus datang kepada hakin dengan permintaannya. Akhirnya hakim yang merasa terganggu itu memenuhi permintaan sang janda, “karena janda ini terus menerus mengganggunya, dan berbuat sesuatu agar janda itu mendapat keadilan.” Kemudian Yesus menyimpulkan: “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya yang siang malam berseru kepadaNya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:5-7).

    Ungkapkan kebutuhan, harapan, dan angan-anganmu dengan Tuhan. Mintalah berkat-berkat tertentu, pertolongan saat dibutuhkan. Tetaplah mencari, dan tetaplah mendengar, sampai engkau mengetahui sesuatu dari jawaban Tuhan.

    6. MALAIKAT MELAYANI KEBUTUHAN UMAT-UMAT YANG BERDOA

    Pemazmur bergembira bahwa melalui pelayanan malaikat Tuhan, doanya dijawab:

    “Aku telah mencari Tuhan, lalu ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku… Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.” – Mazmur 34:4-7.

    Waktu kita berdoa, Tuhan mengirimkan malaikatNya untuk menjawab doa kita (Ibrani 1:14). Setiap orang Kristen mempunyai malaikat pengawal:

    “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di surga.” – Matius 18:10.

    Karena doa kita:

    “Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapu juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam kristus Yesus.” – Filipi 4:5-7.

    7. GAYA HIDUP KRISTIANI

    Alkitab memaparkan gaya hidup Kristiani dengan jelas. Menurut Efesus 4:22-24, orang Kristen harus “menyingkirkan” gaya hidup lama yang berasal dari “keinginan daging”, dan “mengenakan” gaya hidup baru “yang diciptakan untuk menjadi seperti Dia.” Dalam ayat ini juga dalam Panduan 6 kita menemukan bahwa kelahiran kembali kita “diciptakan” menjadi orang yang baru di dalam Kristus.

    Panduan ini dan enam panduan berikutnya, menunjukkan gaya hidup Kristiani; mereka menyingkapkan rahasia kehidupan Kristen yang berbahagia. Mereka akan membantu anda membangun hubungan yang lebih erat dengan Kristus, yang akan menghasilkan gaya hidup Kristiani yang berbeda. Jadi pandanglah kepada Yesus hari ini dan anda akan menjadi bagian perayaan kemenangan akhir ketika Kristus memerintah dengan kedamaian penuh.

    sumber : http://www.discoveronline.org/indonesian/indo14.htm

  3. Gunawan

    Para cendekiawan Oxford telah mencatatkan di dalam versi Oxford Annotated RSV mereka bahawa Yahweh adalah sebenarnya bentuk pihak ketiga bagi kata kerja itu, yang sebenarnya bermaksud Dia menjadikannya.
    Jah adalah bentuk akar bagi Jehovah, iaitu salah satu nama yang dipakai bagi Tuhan. Ianya berlaku sebanyak 49 kali di dalam kitab. Kejadian pertama bagi nama Jah ini adalah di dalam Keluaran 15:2. Nama Bait Suci yang berkuasa di dalam nama Yaho adalah sebutan kuno Jah atau Jahh.
    Nama Jehovah atau lebih tepat lagi Yahovah digabungkan dengan sepuluh gelaran yang lain. Mereka adalah menurut aturan kemunculannya di dalam teks-teks Ibrani:
    Jehovah-Jireh Jehovah melihat atau menyediakan (Kejadian 22:14).
    Jehovah-Ropheka Jehovah yang menyembuh aku (Keluaran 15:26).
    Jehovah-Nissi Jehovah panji-panjiku (Keluaran 17:15).
    Jehovah-Mekaddishkem Jehovah yang menyucikan kamu (Keluaran 31:13; Imamat 20:8; 21:8; 22:32; Yehezkiel 20:12).
    Jehovah-Shalom Jehovah [mengutus] keselamatan/kedamaian (Hakim 6:24).
    Jehovah-Zeba’oth Jehovah Semesta Alam (1Samuel 1:3 dan lazim digunakan).
    Jehovah-Zidkenu Jehovah kebenaran/keadilan kita (Yeremia 23:6; 33:16).
    Jehovah-’Elyon Jehovah Yang Mahatinggi (Mazmur 7:17; 47:2; 97:9).
    Eloah (SHD 433) adalah nama bagi Tuhan. Ianya singular di dalam pengertiannya dan digunakan sebanyak 55 kali di dalam Perjanjian Lama. Eloah adalah Allah Yang Merencana. Tuhan inilah yang menjadi tumpuan ibadah dan adalah entiti utama serta pencipta di dalam Elohim. Inilah Dia yang merencana dan melalui siapa semua benda wujud dan diciptakan (Wahyu 4:11). Elahh adalah sebutan Aram/Aramaik-nya, yang berpadanan dengan Eloah, dan digunakan 89 kali di dalam kitab suci.
    El (SHD 410) adalah kata nama Ibrani yang menekankan kekuatan. Ia dipakai bagi manusia, malaikat, dan dewa-dewa pagan, serta Allah Sebenar yang Satu apabila digabungkan dengan perkataan lain.
    Elyon (SHD 5945) ada di seluruh dunia (Mazmur 83:18). Gelaran ini terjadi 36 kali.
    El Elyon adalah nama yang digunakan bagi Eloah sebagai El (Tuhan) yang Mahatinggi. Eloah atau Elyon adalah tumpuan ibadah. Israel tidak menyembah elohim subordinat.
    Elohim (SHD 430) bermakna Tuhan dan tuhan-tuhan. Ianya suatu perkataan plural yang bergantung pada penggunaannya untuk memahami maksudnya. Ia boleh merujuk kepada ciptaan rohani, ataupun ciptaan fizikal apabila bertindak bagi pihak Tuhan.
    HaElohim bermaksud Tuhan itu dan merujuk kepada Eloah.
    Bintang Fajar atau bintang siang/pagi adalah pangkat yang telah diberikan kepada Kristus dan dikongsi oleh umat-umat pilihan (2 Petrus 1:19; Wahyu 2:28; 22:16). Terdapat banyak bintang fajar (Ayub 38:4-7). Iblis masih lagi Lucifer atau pembawa terang sebagai putera fajar, iaitu bintang fajar. Dia adalah tuhan bumi ini dan dan penguasa kerajaan angkasa (2Korintus 4:4; Efesus 2:2).
    Shaddai merujuk kepada Yang Mahakuasa dengan pengertian menyediakan segala keperluan umat. Ianya digunakan apabila Abraham dipanggil untuk berjalan di hadapanNya di dalam Kejadian 17:1.
    Adon adalah satu daripada tiga gelaran, (Adon, Adonai, Adonim). Ketiganya secara umumnya diertikan sebagai Tuhan. Ia merujuk kepada Tuhan sebagai pemimpin di dalam dunia. Ia berbeza daripada Adonai, yang digunakan bagi makhluk yang melaksanakan rencana Allah di atas bumi ini. Terdapat 134 petikan di mana golongan Sopherim telah mengubah Yahovah (Jehovah) kepada Adonai (lihat Companion Bible Ap. 32 bagi teks-teks yang telah diubah itu).
    Ianya penting untuk kita ketahui siapa dia Allah Sebenar yang Tunggal dan bagaimana untuk menyembahNya dengan betul. Melalui pelbagai nama serta gelaran itu, kita mendapat pemahaman yang lebih dalam tentang Tuhan Tertinggi Alam Semesta ini. Semoga hari itu cepat tiba apabila seluruh planet ini akan mengenali Allah Sebenar yang Satu dan menurut Perintah-perintahNya.

    http://www.logon.org/indonesian/z/p116z.htmlhttp://www.logon.org/indonesian/z/p116z.html

  4. Primus

    1. ALLAH – Nama Ilahi yang serba komprehensif. Nama panggilan Ketuhanan yang merupakan asal-usul segenap Nama lain-Nya.
    2. AR-RAHMAN – Yang Maha Pemurah. Ia yang melimpahkan Kemurahannya kepada segenap Makhluk-Nya.
    3. AR-RAHIEM – Yang Maha Penyayang. Ia melimpahkan Kemurahannya kepada semua orang yang beriman.
    4. AL-MALIK – Yang Maha Kuasa dan Merajai. Ia Raja seluruh alam semesta.
    5. AL-QUDDUS – Yang Maha Suci dari Sifat Kekurangan. Atau Yang Maha Kudus.
    6. AS-SALAAM – Yang Maha Sejahtera (memberi keselamatan). Yang Maha Suci dari Sifat Buruk. “Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal.”
    7. AL-MUKMIN – Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati Janji-Nya; Yang Memberi keamanan kepada Makhluk-Nya. Atau Maha Pelindung Iman, atau Maha Pelindung Mukminin. Dia mengaktifkan Nama ini di dalam diri mukminin sehingga terpelihara imannya.
    8. AL-MUHAIMIN – Yang memperhatikan, menjaga, serta menaungi Hamba-Hamba-Nya dalam segala keadaan. Atau Yang Maha Pelindung, khususnya Pelindung iman.
    9. AL-AZIZ – Yang Maha Kuat dan Mengalahkan segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan oleh apapun. Atau Yang Maha Mulia, atau pun Yang Maha Jaya.
    10. AL-JABBAR – Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya atas semua Makhluk-Nya; Yang Maha Perkasa. Yang Kehendak-Nya tidak terkalahkan atau diingkari.
    11. AL-MUTAKABBIR – Yang patut Dipuja karena Keagungan Sifat-Sifat-Nya; Yang Memiliki Kebesaran. Atau Yang Maha Bangga, atau Yang Maha Agung. Hanya Tuhan, Yang Berkuasa atas segala Hidup, berhak berbangga.
    12. AL-KHALIK – Yang Maha Pencipta. Yang Maha Kuasa Menciptakan segala sesuatu, seluruh alam semesta, dan segala Makhluk di dalamnya.
    13. AL-BARI’ – Yang menjadikan segala sesuatu. Atau Yang Maha Pengembang. Tuhan merencanakan Makhluk-Nya dan menuntunnya melalui tahap-tahap dalam proses perkembangannya.
    14. AL-MUSHAWWIR – Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu. Secara aktif, Tuhan mencetak segala sesuatu dan membentuknya seraya Ciptaan-Nya menempuh segala tahap dalam proses perkembangannya.
    15. AL-GHAFFAR – Yang Maha Kuasa Menutupi segala kesalahan Hamba-Hamba-Nya dengan mengampuni dosa-dosa mereka. Melalui Kuasa Nama ini, Tuhan mengampuni orang yang berdosa.
    16. AL-QOHHAR – Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu; Yang dapat Memaksakan segala yang menjadi Kehendak-Nya. Atau Yang Maha Penekan. Tuhan menaklukan dan mengakhiri segala sesuatu.
    17. AL-WAHHAB – Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya. Tuhan memberi Kurnia-Nya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya.
    18. AR-ROZZAQ – Yang Memberi Rezeki. Tuhan adalah satu-satunya Pemberi Rezeki.
    19. AL-FATTAH – Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk. Tuhan jualah yang membuka jalan ke arah segala pengembangan.
    20. AL-‘ALIEM – Yang Maha Mengetahui. Atau Yang Serba Mengetahui. Tiada suatu pun yang luput dari Pengetahuan-Nya.
    21. AL-QOBIDH – Yang Maha Kuasa Menyempitkan. Dia yang menyempitkan atau menyusutkan sesuatu untuk mempersulit urusan Makhluk-Nya.
    22. AL-BASITH – Yang Maha Kuasa Melapangkan. Dia yang mempermudah segala urusan Makhluk-Nya atau sebaliknya membiarkan mereka berkembang.
    23. AL-KHOFIDH – Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
    24. AR-ROFI’ – Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
    25. AL-MU’IZZ – Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya.
    26. AL-MUDZILL – Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya. Yang mampu meninggikan martabat juga mampu menurunkannya.
    27. AS-SAMIE’ – Yang Maha Mendengar. Tiada suatu pun yang luput dari Pendengaran-Nya.
    28. AL-BASHIER – Yang Maha Melihat. Tiada suatu pun yang luput dari Pengamatan-Nya.
    29. AL-HAKAM – Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu. Tuhan adalah Hakim seluruh umat manusia, terutama pada Hari Kiamat.
    30. AL-‘ADLU – Yang Maha Adil. Tuhan adil dalam Keputusan-Nya dan membagikan hukuman dan pahala dengan segala cermat-Nya, sehingga di seluruh alam semesta, termasuk Keputusan-Nya, tidak terdapat ketimpangan atau deviasi yang kecil sekali pun.
    31. AL-LATHIEF – Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik. Yang bersifat santun dan lembut kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia yang Maha Pemurah, mengagumkan, dan terlalu halus untuk dilihat dengan mata kepala. (“Tuhan Allah sulit ditebak, tetapi Ia tidak jahat.” Albert Einstein.
    32. AL-KHOBIER – Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu. Karena Ia Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, niscaya Tuhan memantau segala kejadian.
    33. AL-HALIEM – Yang tetap dapat menahan amarah. Atau Yang Maha Lemah Lembut. Atau Yang Maha Penyabar. Tuhan baru tega menghukum bila digusarkan terus-menerus.
    34. AL-‘ADHIEM – Yang Maha Besar; Yang Maha Luhur; Yang Maha Agung. Ia Raja alam semesta dan Maha Besar dari sudut martabat.
    35. AL-GHAFUR – Yang Maha Pengampun. Dia memaafkan segala dosa yang disesali pelakunya.
    36. ASY-SYAKUR – Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik.. Tuhan menerima syukur mereka yang bersyukur kepada-Nya. Sampai tingkat tertentu, Ia sekali gus pengucap syukur serta perbuatan mengucapkan syukur.
    37. AL-‘ALIY – Yang Maha Tinggi Martabat-Nya. Ia Tuhan Yang bertakhta jauh-jauh di atas.
    38. AL-KABIER – Yang Maha Besar. Ia teramat Besar dari sudut ukuran ruang dan waktu.
    39. AL-HAFIEDZ – Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya. Ia melindungi segala sesuatu, terutama Sabda-Nya (Alquran), sampai tiba ajalnya, dengan pengertian bahwa Alquran akan bertahan sampai akhir segala zaman.
    40. AL-MUQIET – Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk-Makhluk-Nya., seperti makanan, minuman dan sebagainya. Atau Yang Maha Pemelihara. Di antara ketiga fase hidup (Kreasi, Hidup, dan Pemusnahan), Nama ini bertalian dengan fase kedua.
    41. AL-HASIEB – Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat. Juga berarti Juru Hitung, yang menunjukkan bahwa Tuhan mencipta berdasarkan perhitungan yang amat sangat halus (oleh Al-Muhshi).
    42. AL-JALIEL – Yang memiliki segala Sifat kebenaran dan kebesaran. Juga menyangkut segi Ilahi sebagai Yang Maha Pemurka.
    43. AL-KARIEM – Yang Maha Mulia, yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelumnya. Karena Ia jua yang memberikan kita segala milik yang kita punyai, maka Kemurahan-Nya tak terhingga.
    44. AR-RAQIEB – Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu, dan tiada suatu pun yang luput dari Pegawasan-Nya. Ia memantau, menyelia, dan mengontrol. (Banyak di antara penemuan teknologi mutakhir menjelmakan Nama ini.)
    45. AL-MUJIEB – Yang dapat mengabulkan doa Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Pengabul Doa.
    46. AL-WASI’ – Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Yang Maha Besar dari sudut keluasan atau permuaian.
    47. AL-HAKIEM – Yang Maha Bijaksana. Ia Asal-Usul, Pemilik, dan Pembagi segala sifat kearifan.
    48. AL-WADUD – Yang Mencintai dan Mengasihi. Tuhan adalah Cinta Kasih dan Pembagi-nya—Pengasih, Kasih, dan Kekasih.
    49. AL-MAJIED – Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya. Ia teramat Ajaib dan patut dipuja, dan oleh karena itu paling patut diagungkan.
    50. AL-BA’ITS – Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat. Tuhan membangkitkan ahli kubur pada Hari Kiamat. Ia juga menciptakan hidup baru dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang hanya dikira mati.
    51. ASY-SYAHIED – Yang menyaksikan segala sesuatu. Karena Ia Yang Serba Sadar dan Yang Maha Pengawas, maka Tuhan adalah Saksi akan segala kejadian sejagat raya, termasuk perbuatan kita yang kecil sekali pun.
    52. AL-HAQ – Yang Haq; Yang Maha Benar; Yang Menunjukkan Kebenaran. Ia inti terdalam seluruh alam dan sama sekali luput dari segala sifat dusta dan kesilapan.
    53. AL-WAKIEL – Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya. Melalui Nama ini kita percaya kepada Tuhan, dan melalui Nama ini Ia memberi rezeki asalkan kita telah berusaha sendiri (memenuhi kewajiban dan mengambil tindakan pencegahan seperlunya).
    54. AL-QOWIYU – Yang Maha Kuat lagi Perkasa. AtauYang Tak Terbatas.
    55. AL-MATIEN – Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya. Ia Yang Bertahan, yang Maha Melawan, atau Yang Maha Pemberani. (Nama ini terwujud dalam bahan adikeras sebangsa intan.)
    56. AL-WALIYU – Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya. Atau Yang Maha Sahabat lagi Pelindung. Tuhan merupakan Sahabat setia terhadap segenap Sahabat-Nya
    57. AL-HAMIED – Yang Patut dipuja dan dipuji. Segala puja dan puji adalah Milik-Nya jua.
    58. AL-MUHSHI – Dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu, Dia menghitung dan memelihara segala ada, baik yang besar maupun yang kecil sekali pun, hingga tiada suatu pun yang luput dari Perhitungan dan Pemeliharaan-Nya. Atau Yang Maha Penghitung atau pun Yang Maha Perancang. Ia sumber ilmu matematika, dan oleh sebab itu sumber segala ilmu pengetahuan alam (lihat juga Al-Hasieb). Menurut Leopold Kronecker, seorang ahli matematika tersohor, “Tuhan hanya menciptakan nomor; selain itu, segala sesuatu adalah ciptaan manusia.” Atau, yang lebih tepat, di alam semesta ini Tuhan mewujudkan ilmu matematika-Nya yang tinggi serta Kalkulasi dan Proporsi Ilahi, sehingga tugas manusia ialah hanya menemukan dan meniru Kemuliaan-Nya.
    59. AL-MUBDI’U – Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada. Segala apa yang diambil oleh Tuhan dapat dikembalikan-Nya.
    60. AL-MU’IED – Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap. Melalui Kekuatan Nama ini, semua doa kita untuk arwah tercinta yang telah tiada akan dikabulkan oleh-Nya pada Hari Kebangkitan.
    61. AL-MUHYI – Yang Maha Kuasa Menghidupkan segala sesuatu yang sudah mati. Ia memberi hayat kepada segala Makhluk hidup.
    62. AL-MUMIET – Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup. Atau Yang Maha Pencipta Maut, atau Yang Maha Pemusnah. Segala sesuatu yang hidup akhirnya ditakdirkan mati oleh-Nya.
    63. AL-HAYYU – Yang Maha Tetap Hidup. Hanya Tuhan jualah yang mempunyai Hidup abadi, karena Ia tidak lahir dan tidak mati pula.
    64. AL-QOYYUM – Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya. Ia untuk selama-lamanya berdiri tegak, siaga, dan awas.
    65. AL-WAAJID – Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki. Ia memberi bentuk badani kepada segala sesuatu yang terdapat di dunia ini.
    66. AL-MAAJID – Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan. Satu-satunya Ada yang patut diagungkan.
    67. AL-WAAHID – Yang Maha Tunggal. Atau Yang Maha Tersendiri dalam bentuk dan jenis. Atau Yang Maha Pemersatu. Segala kelipat-gandaan tersatu di dalam Diri-Nya.
    68. AL-AHAD – Yang Maha Esa. Yang Maha Tunggal, tanpa salinan, (maksudnya tidak ditinjau dari sudut urutan angka matematika, tetapi sebagai “Ia Yang tidak diserupai oleh sesama satu pun.”)
    69. ASH-SHOMAD – Yang menjadi tujuan segala makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka. Atau Yang Maha Abadi. Segenap Makhluk menyeru-Nya dalam kekurangan, dan Dia, yang bebas dari segala kebutuhan, menyediakan kebutuhan mereka.
    70. AL-QODIR – Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki. Tuhan Maha Kuasa. (Sezarah dari segala Sifat Nama ini terwujud pada laut lepas, ilmu Ilahi, dan bidang keuangan.)
    71. AL-MUQTADIR – Yang sangat berkuasa. Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa.
    72. AL-MUQODDIM – Yang Maha Kuasa Mendahulukan. Atau Yang Maha Pemercepat. Bila dikehendaki-Nya, Tuhan sanggup mempercepat segala urusan.
    73. AL-MU’AKHKHIR – Yang Maha Kuasa Mengakhirkan. Atau Yang Maha Pemerlambat. Sebaliknya, Ia sanggup memperlambat segala urusan.
    74. AL-AWWAL – Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada.
    75. AL-AAKHIR – Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir).
    76. ADH-DHAHIR – Yang Lahir – Yang dapat dilihat kekuasaan-Nya. Segala sesuatu yang ada di luar.
    77. AL-BATHIN – Yang Batin – Yang tidak dapat dilihat Zat-Nya. Segala sesuatu yang ada di dalam.
    78. AL-WAALI – Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk-Nya. Direktur seluruh alam.
    79. AL-MUTA’AAL – Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi dan tidak dapat diatasi atau dilampaui oleh siapa atau apa pun.
    80. AL-BARRU – Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan. Sumber segala kebaikan. Segala sesuatu yang baik berasal dari-Nya.
    81. AL-TAUWAAB – Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa. Setelah menerima tobatnya, Ia mengampuni mereka.
    82. AL-MUNTAQIM – Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa. Tuhan tidak meridai perbuatan jahat, dan lambat laun mesti membalas dendam-Nya.
    83. AL-AFUWWU – Yang Maha Memberi Maaf, asalkan pendosa bertobat.
    84. AR-RO’UF – Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang. Belas Kasih ialah Tanda-Nya.
    85. MALIKUL-MULKI – Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan Kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki. Atau Pemilik Kerajaan. Atau Pemilik Abadi segala Kedaulatan. Atau pun Pemilik Kerajaan Allah.
    86. DZUL JALAALI wal IKROM – Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan, serta Kemurahan. Tuhan Segala Keagungan dan Kemurahan. Dia Lebih Besar, Penuh Rahmah, dan Maha Pemurah.
    87. AL-MUQSITHU – Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya. Ilmu ekonomi juga berasal dari Nama ini. Ekonomi Ilahi bersifat adil dan cermat.
    88. AL-JAAMI’U – Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu. Tuhan mempersatukan segala sesuatu (yang beraneka segi) di dalam Diri-Nya.
    89. AL-GHONIYYU – Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun. Yang Maha Mandiri. Sedemikian agung Kekayaan-Nya sehingga besarnya seluruh alam semesta ibarat kepala peniti saja.
    90. AL-MUGHNI – Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk dan Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya. Ia melimpahkannya kepada siapa saja menurut Kehendak-Nya.
    91. AL-MAANI’U – Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu. Pada akhirnya, hanya Tuhan jualah yang mampu menahan sesuatu sehingga batal.
    92. ADH-DHAARRU – Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan. Hanya Tuhan jualah yang mampu mengganggu atau menyusahkan Makhluk-Nya.
    93. ANN-NAAFI’U – Yang dapat memberikan manfaat. Atau Yang Maha Menguntungkan. Hanya Tuhan jualah yang mampu menolong atau menyembuhkan Makhluk-Nya.
    94. AN-NURU – Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu. “Allah yang menerangi langit dan bumi.” (Q24.35) Makhluk pertama ialah Nur Ruh Muhammad, yang muncul dari Nur Ilahi Yang Purba. Itu berarti bahwa Rasul adalah Makhluk yang terdekat pada Tuhan, dilihat dari sudut ontologis (hakikat hidup), dan tidak hanya dari sudut temporal (berkenaan dengan waktu).
    95. AL-HAADI – Yang memberi petunjuk. Tuhan dapat menuntun kita sepanjang jalan yang lurus (atau benar).
    96. AL-BADIE’U – Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapa pun. Atau Yang Tiada Bertara. Ia yang menimbulkan segala sesuatu.
    97. AL-BAQI – Yang Maha Kekal Wujud-Nya. Atau Maha Selamat. Atau Yang Maha Tetap. Meskipun segala sesuatu akan habis, tetapi Ia takkan berkesudahan.
    98. AL-WARITSU – Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada. Atau Yang Maha Waris. Pada saat segala sesuatu kembali kepada-Nya, Ia akan berada di tempat untuk menerimanya.
    99. AR-ROSYIEDU – Yang Maha Pandai dan Bijaksana. Atau Yang Maha Penyuluh. Atau Yang Maha Pemandu yang merintis Jalan yang Benar. Nama ini dikaruniakan kepada segenap nabi, rasul, wali Allah, ahli hikmah, dan syekh yang patut dipercaya.
    100. ASH-SHOBURU – Yang Maha Sabar. Tuhan adalah sumber segala Kesabaran. Banyak Nama-Nya, namun Dia telah ridha mengungkapkan yang di atas kepada Hamba-Hamba-Nya sebagai Nama-Nya yang paling berguna baginya.

    Yang Maha Pemurah;
    Yang Maha Penyayang;
    Yang Merajai;
    Yang Maha Suci;
    Yang Maha Sejahtera;
    Yang membenarkan rasul-rasul-Nya dan menepati janji-Nya;
    Yang menaungi Hamba-Hamba-Nya; Yang Maha Kuasa;
    Yang dapat Memaksakan Kehendak-Nya;
    Yang Maha Perkasa;
    Yang patut Dipuja karena keagungan Sifat-Sifat-Nya;
    Yang Maha Pencipta;
    Yang menjadikan segala sesuatu;
    Yang Memberi Rupa dan Bentuk kepada segala sesuatu;
    Yang Maha Kuasa Menutupi kesalahan Hamba-Hamba-Nya;
    Yang dapat Menaklukkan segala sesuatu;
    Yang Maha Kuasa Memberi segala sesuatu kepada Makhluk-Nya;
    Yang Memberi Rezeki;
    Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan Rahmat-Nya kepada semua Makhluk; Yang Maha Mengetahui;
    Yang Maha Kuasa Menyempitkan;
    Yang Maha Kuasa Melapangkan;
    Yang Maha Kuasa Merendahkan Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya;
    Yang Maha Kuasa Mengangkat Martabat sesiapa yang dikehendaki-Nya;
    Yang meninggikan derajat sesiapa yang dikehendaki-Nya;
    Yang menghinakan kedudukan sesiapa yang dikehendaki-Nya;
    Yang Maha Mendengar;
    Yang Maha Melihat;
    Yang menetapkan Keputusan-Nya atas segala sesuatu;
    Yang Maha Adil;
    Yang Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang samar dan pelik;
    Yang Maha Mengetahui Hakikat segala sesuatu;
    Yang tetap dapat menahan amarah;
    Yang Maha Besar;
    Yang Maha Pengampun;
    Yang Maha Mensyukuri Hamba-Hamba-Nya yang taat dengan memberikan pahala atas setiap perbuatan yang baik;
    Yang Maha Tinggi Martabat-Nya;
    Yang Maha Agung;
    Yang Memelihara dan Menjaga semua Makhluk-Nya;
    Yang Menjadikan segala apa yang dibutuhkan oleh Makhluk;
    Yang memberi kecukupan dengan kadar perhitungan yang tepat;
    Yang Maha Mulia; Yang melimpahkan karunia kepada Makhluk-Makhluk-Nya tanpa diminta sebelum-Nya; Yang Selalu Mengawasi dan Memperhatikan segala sesuatu;
    Yang dapat mengabulkan do’a Hamba-Hamba-Nya;
    Yang Maha Luas Kekayaan-Nya dan Pemberian-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya;
    Yang Maha Bijaksana;
    Yang Mencintai dan Mengasihi;
    Yang Maha Mulia dan Maha Besar Kemurahan-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya;
    Yang Maha Kuasa Membangkitkan sesiapa yang sudah wafat;
    Yang menyaksikan segala sesuatu;
    Yang Hak;
    Yang Maha Benar;
    Yang Menunjukkan Kebenaran;
    Yang dapat mengurusi dan menyelesaikan segala urusan Hamba-Hamba-Nya;
    Yang Maha Kuat lagi Perkasa;
    Yang Maha Kokoh dan Maha Sempurna Kekuatan-Nya;
    Yang Maha Melindungi dan Menolong serta membela Hamba-Hamba-Nya;
    Yang Patut dipuja dan dipuji; dengan Ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu,
    Yang Maha Penghitung dan Pemelihara segala sesuatu;
    Yang menjadikan segala sesuatu dari tiada;
    Yang mengembalikan lagi segala sesuatu yang telah lenyap;
    Yang Maha Kuasa Menghidupkan apapun yang sudah mati;
    Yang Maha Kuasa mematikan apapun yang hidup;
    Yang Maha Tetap Hidup;
    Yang berdiri sendiri dan tetap mengurusi Makhluk-Makhluk-Nya;
    Yang Maha Kaya dengan Penemuan dan dapat melaksanakan segala sesuatu yang dikehendaki;
    Yang Mempunyai Kemuliaan dan Maha Tinggi dari segala Kekurangan;
    Yang Maha Tunggal;
    Yang Maha Esa;
    Yang menjadi tujuan segala Makhluk dan tempat meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka;
    Yang sanggup melaksanakan semua hal yang dikehendaki;
    Yang sangat berkuasa, Kekuasaan-Nya menguasai segala yang kuasa;
    Yang Maha Kuasa Mendahulukan;
    Yang Maha Kuasa Mengakhirkan;
    Yang pertama Ada-Nya sebelum segala sesuatu ada;
    Yang tetap ada setelah segala sesuatu musnah (berakhir);
    Yang lahir;
    Yang batin;
    Yang mengendalikan dan menguasai segala macam urusan Makhluk;
    Yang Pencapaian-Nya berada di puncak ketinggian yang amat tinggi;
    Yang Maha Baik dan membuat segala macam kebajikan;
    Yang menerima tobat dan memberi maaf kepada Makhluk yang berdosa;
    Yang Maha Kuasa Menindak Hamba-Nya yang bersalah dengan menyiksa;
    Yang Maha Memberi Maaf; Yang Maha Belas Kasih dan Penyayang;
    Yang memiliki segala kekuasaan di alam ini, dan dengan kekuasaan-Nya melaksanakan segala hal yang dikehendaki;
    Yang memiliki sifat Kebesaran, Keagungan, Kemuliaan serta Kemurahan;
    Yang Maha Adil dalam Hukum-Nya;
    Yang dapat mengatur dan mengumpulkan segala sesuatu;
    Yang tidak membutuhkan sesuatu apapun;
    Yang dapat memberikan segala kebutuhan Makhluk
    Yang Maha Kuasa Memberikan Kekayaan kepada Hamba-Nya;
    Yang dapat mencegah dan mempertahankan sesuatu;
    Yang dapat mendatangkan bahaya dan memberikan kemelaratan;
    Yang dapat memberikan manfaat;
    Yang memberi cahaya kepada segala sesuatu; Yang memberi petunjuk;
    Yang menciptakan alam semesta dalam bentuk yang indah yang belum pernah dibuat oleh siapapun;
    Yang Maha Kekal Wujud-Nya; Yang tetap ada setelah segala makhluk tiada;
    Yang Maha Pandai dan Bijaksana; Yang Maha Sabar. Subhana-llah.”

  5. Melina

    PENCOBAAN DI PADANG GURUN-1

    oleh: Pdt. Effendi Susanto, S.Th.

    Eksposisi Injil Lukas

    Point yang penting, sering kali pencobaan di padang gurun ini terlalu cepat diangkat di dalam khotbah untuk kemudian ditarik menjadi perbandingan bagaimana orang Kristen overcome akan temptation, tanpa melihat terlebih dahulu apa fungsi dan makna penting dari pencobaan Tuhan Yesus ini. Kenapa Yesus harus dicobai? Yesus adalah Anak Allah, sekarang datang berinkarnasi di dalam daging dan tubuh ini, memulai satu pelayanan sebagai Allah yang tidak terbatas sekarang harus bersalutkan dengan tubuh yang terbatas. Allah yang maha tahu itu, sekarang berada di dalam diri dari manusia yang belajar bertumbuh di dalam pengetahuan. Lukas mengatakan Yesus makin hari makin dewasa dan bertambah pengetahuanNya. Jadi Dia berproses. Maka sebagai Mesias, Juruselamat yang datang, akan muncul pertanyaan: Mesias dan Juruselamat seperti apa Yesus itu? Misi-Nya datang ke dalam dunia itu bagaimana? Cara Dia menjadi Mesias itu seperti apa? Dan Dia menjalankan rencana Allah menyelamatkan manusia dengan cara apa? Maka seluruh pertanyaan itu tercatat di dalam pencobaan tiga kali dari si jahat kepada Yesus. Di situlah kita menemukan Mesias ini Mesias yang seperti apa.

    Di dalam surat Ibrani, Yesus disebut sebagai Israel yang sejati. Dan di dalam surat Roma, Paulus membandingkan Yesus dengan Adam yang pertama. Maka fungsi pencobaan Yesus di padang gurun ini merupakan hal yang penting, yang memperlihatkan Yesus sebagai anti-type dari Israel yang mengembara 40 tahun di padang gurun dan Adam yang dicobai di taman Eden. Mesias yang datang ini adalah Mesias yang menggenapkan apa yang tidak bisa dikerjakan oleh mereka. Adam sebagai representative umat manusia gagal untuk setia kepada Allah. Israel sebagai umat Allah yang dipanggil keluar dari Mesir, gagal untuk setia dan taat kepada Tuhan. Sekarang muncul satu mesias anti-type yang namanya Yesus. Saya melihat beberapa kontras: Adam yang pertama tidak berada di padang gurun, tetapi di taman Eden yang enak. Di dalam kondisi yang enak di taman yang indah, taman yang baik, ketika pencobaan datang manusia pertama itu gagal dan jatuh. Anti-type-nya: Adam yang kedua tidak ditaruh di taman Eden yang enak tetapi di padang gurun yang gersang, di tengah-tengah segala kesulitan, lapar dan dahaga, tapi justru Adam yang kedua ini berhasil taat sepenuhnya kepada Tuhan. Yang kedua, umat Israel memang betul dibawa keluar oleh Tuhan dari exodus menuju ke padang gurun yang penuh dengan segala macam kesulitan. Tetapi mereka menggerutu dan melawan Tuhan. Padahal Tuhan sudah memberi Firman kepada mereka. Anti-typenya Israel yang sejati, benih satu-satunya yang dari Isai yang setia, ditaruh di padang gurun, menghadapi segala kesulitan yang sama dengan Israel, namun Ia taat. Maka kita bersyukur kepada Tuhan bahwa Mesias yang datang ini adalah Mesias yang mengalami segala pencobaan yang pernah dialami wakil kita yang pertama dan Dia menang terhadap seluruh pencobaan itu.

    Sesudah 40 hari 40 malam laparlah Dia, lalu Setan mencobai Dia. Lukas mencatat hal penting di ayat 13, sesudah pencobaan ini gagal, Setan tetap tidak menyerah dan tunggu waktu yang tepat. Jadi di dalam perjalanan Yesus melayani 3 tahun, Setan itu tidak pernah istirahat atau pensiun. Petrus memakai ilustrasi: Setan seperti singa yang meraung dan menunggu kapan kita lengah. Maka Petrus sadar pencobaan ini, pencobaan yang everyday, kapanpun. Maka waktunya tepat, saat Yesus lapar Iblis datang, menyuruh Yesus merubah batu menjadi roti. Apakah pencobaan ini merupakan pencobaan yang berat buat Tuhan Yesus? Berat sekali. Oleh sebab Dia adalah anak Allah. Dia adalah pencipta segala sesuatu. Dia Allah yang tidak pernah berkekurangan. Apa inti dari pencobaan ini kepada Tuhan Yesus? Secara theologis Dia adalah satu pribadi yang mempunyai 2 sifat penting. Dia 100% memiliki sifat ilahi dan dia 100% memiliki sifat manusia. Memiliki sifat ilahi berarti Dia menjadi juruselamat yang sanggup untuk menebus kita. Memiliki sifat manusia, maka Dia berhak untuk menjadi pengganti engkau dan saya. Itu titiknya. Sekarang, kalau Engkau anak Allah, rubah batu itu menjadi roti, Yesus tolak. Kenapa Dia tolak? Bukan karena Dia tidak mampu. Bukan karena Dia tidak berkuasa. Bukan karena Dia tidak perlu makan. Tetapi inti dasarnya adalah sekarang Dia menjalankan satu tugas penting yang Dia harus emban. Dia adalah anak Allah yang menerima kehendak Bapa untuk menjadi Mesias dan juruslamat. Dia harus mengambil sifat kemanusiaan menjadi milik Dia. Allah itu adalah Allah yang tidak pernah lapar, sekarang harus lapar. Allah itu adalah Allah yang tidak pernah capai, sekarang Dia capai, berhenti dan perlu minum. Dia taat sepenuhnya panggilan Tuhan menjadi darah dan daging. Maka Dia menyatakan satu sikap: Saya menerima sepenuhnya segala kekurangan, kelemahan daging manusia menjadi milik-Ku. Ini untuk memberitahukan kepada kita, kita memiliki satu mesias yang sepenuhnya menerima kekurangan dan kelemahan kita. Menerima segala apa yang menjadi kelemahan daging dari manusia. Sekalipun Dia adalah anak Allah yang memiliki kuasa supranatural, bisa merubah batu menjadi roti, bahkan Dia juga punya hak untuk memberi makan 5000 orang. Tapi pada moment itu Dia mau jadi mesias seperti apa? Dia bukan jadi mesias datang dari luar dan tidak ada kaitannya dengan manusia. Dia menjadi mesias yang mau menyelamatkan manusia. Dan di dalam darah dan daging ini Dia mempunyai kelemahan daging, salah satunya dia bisa lapar. Itu sebab tidak heran Ibrani mengatakan juruslamat, mesias yang kita miliki bukanlah imam besar yang tidak mengetahui segala pergumulan kita. Dia tahu. Karena sekarang Dia datang, mengambil kelemahan natur manusia. Dia bisa digoda tetapi Dia tidak jatuh. Maka puji Tuhan, Allah yang kita miliki adalah Tuhan yang datang bersalutkan keterbatasan dan kelemahan kemanusiaan kita. Bukan saja untuk menjadi wakil kita, tetapi untuk memposisikan diri merasakan betapa beratnya hidup di dalam pencobaan.

    Yesus menjawab, “Ada tertulis manusia hidup bukan dari roti saja” Dia tahu kita bisa lapar. Dia tahu kita manusia yang mempunyai berbagai macam kebutuhan fisik. Tetapi pada waktu Dia menjawab Setan, sekaligus Dia mengangkat harkat manusia yang tidak boleh kita jatuhkan. Manusia hidup bukan dari roti saja. Saya menjadi manusia, saya punya keinginan, saya lapar, saya haus, saya punya rencana. Tapi sekaligus di dalam keterbatasan tubuh dan daging ini, bagaimana kita memahami kebutuhan dan arti menjadi seorang manusia. Yesus berkata, engkau dan Saya hidup bukan dari roti saja. Berarti hidup kalau diequalkan dengan roti, maka itu bukan hidup. Hidup more than bread. Berarti hidup manusia melampaui kondisi materi, melampau kondisi fisikal kebutuhannya. Reinhold Niebuhr mengatakan, kalau kita telusuri ke dalam hati manusia yang paling dalam, maka kebutuhan manusia yang paling mendalam adalah needs of security, kebutuhan akan rasa aman. Sadar atau tidak sadar manusia mempunyai satu perasaan dia adalah orang yang bisa mempunyai ide yang tidak terbatas, tetapi sekaligus terbatas. Manusia yang bisa menerobos waktu di dalam rencana, tetapi sekaligus sadar tidak bisa melampaui waktu. Bahkan hari esokpun kita tidak tahu. Sekaligus sadar dia terbatas, tetapi sekaligus mempunyai keinginan yang tidak terbatas. Itu sebab manusia di dasarnya paling dalam membutuhkan security. Maka manusia sepanjang hidupnya tidak pernah tenang dan dan selalu berada didalam kondisi worry dan anxious. Kita butuh security. Itu sebab tidak heran di dalam segala hal kita ingin sekelililng kita memberikan rasa aman. Manusia hidup bukan dari roti saja. Berarti manusia perlu roti. Pertanyaannya tinggal berapa banyak roti yang kita perlukan? Berapa lama roti itu perlu kita simpan? Ini merupakan pertanyaan etis yang penting kita melihat kaitannya dengan pencobaan Tuhan Yesus di sini. Amsal 6 mengatakan manusia tidak boleh malas dan menganggap hidup ini sepenuhnya 100% harus Tuhan yang care. “Pergilah hai pemalas belajar dari semut”, kata Amsal. Pada saat bisa jalan cepat, dia kumpulkan secepatnya, supaya musim dingin dia ada persediaan. Bagi saudara yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, tentunya mau tidak mau, kita memerlukan spread waktu dan time resources yang cukup banyak untuk masa-masa winter dan paceklik dalam hidup kita yang kita tidak tahu. Itu sebab kita perlu menabung dan menyimpan. Kenapa? Karena di dasarnya we need security. Bagaimana kita membedakan: saya menyimpan segala sesuatu itu sebagai satu bijaksana panggilan Amsal untuk hidup ini berjaga-jaga, tetapi akhirnya need of security kemudian kita rubah bukan lagi bersandar kepada Tuhan, tetapi menjadi otonomis untuk diri saya sendiri? Pointnya di sini. Yesus bilang ‘Saya perlu roti, tapi pun Saya hidup bukan dari roti saja’. Itu menjadi point yang penting sekali. Sekaligus Dia menjadi manusia, tetapi sekaligus Dia mengingatkan kita, manusia itu menjadi manusia bukan sekedar kebutuhan materi. Bagaimana membedakan hidup berserah kepada Tuhan dan hidup terserah Tuhan? Mana yang lebih biblikal? Terserah itu pasif, berserah itu aktif. Terserah tidak ada planning. Whatever will be tomorrow, makan apa terserahlah. Berserah berarti percaya Tuhan yang pimpin dan cukupkan hidupku, sekaligus saya mempunyai planning. Sejauh mana kita prepare, kita simpan uang, tetapi sekaligus tidak membuat hidupku bersandar kepadanya karena hidupku bukan dari hal ini.

    Yang kedua, bicara mengenai kekuatiran. Worry, kekuatiran, anxious menjadi persoalan dalam hidup manusia. Yesus pernah berkata kepada murid-murid-Nya ‘Jangan pernah kuatir dalam hidup, sebab Allah tahu mencukupkan segala sesuatu.’ Hidup kita lebih dari sekedar makan dan minum. Yang ketiga, kenapa orang menyerah kepada temptation? Ada orang mencuri, lalu dia mengatakan karena dia miskin. Dibenarkan tidak? Ada orang marah-marah sama istrinya, waktu konseling ditanya, dia pasti mempunyai segudang alasan motif untuk membenarkan dia boleh marah-marah. Orang itu lapar, orang itu dahaga, orang itu haus, orang itu kepepet dsb, apakah itu bisa menjadi motif orang itu jatuh ke dalam pencobaan? Kita masuk ke dalam satu point yang menarik di sini. Pencobaan Tuhan Yesus di padang gurun merupakan satu pencobaan yang penting karena Yesus menghadapi segala kekuatiran dan segala konteks umat manusia. Dia berada di dalam keadaan lapar. Dia berada di dalam keadaan di mana bisa menciptakan segala pembenaran untuk bisa melakukan segala sesuatu. Tetapi Yesus tidak menyerah kepada temptation. Itu membuktikan, situasi konteks anxiety tidak boleh menjadi trigger kita jatuh ke dalam dosa. Itu sebab Alkitab tidak pernah membenarkan kontesks apa pun boleh menjadi pembenaran dosa itu kita katakan bukan dosa. Di sini konteksnya Yesus lapar. Tetapi konteks itu tidak boleh menjadi trigger untuk mengambil decision seperti itu. Maka kita akhirnya jatuh kedalam pencobaan, triggernya itu apa? Ingat, semua konteks dan pembenaran tidak bisa menjadi trigger. Ada orang dalam kesulitan, dalam kelaparan, tetapi tidak akan mengambil roti orang lain. Ada orang dalam kesulitan apa pun, tetap dia bisa tidak jatuh ke dalam pencobaan.

    Maka Cornelius Plantinga mengatakan ini satu misteri, itu sebab sin God always name as a sin. Wanita yang berdosa yang mau dirajam batu, Yesus tidak bilang itu bukan dosa. Yesus bilang, pulang, jangan berbuat dosa lagi. Ada konteks membenarkan dia menjadi pelacur? Mungkin ada. Ditinggal suami, tidak ada warisan. Terlalu banyak motif dan konteks. Tetapi, trigger dia menjadi pelacur bukan itu. Kembali lagi karena hati manusia mau lakukan apa yang kita mau tanpa memperdulikan yang lain. Kita akhirnya melukai hati anak kita, kita melukai hati istri, melukai hati suami dengan kata-kata yang kasar. Apa triggernya? Setelah caci maki, kita menyesal sendiri bukan? Apa triggernya? Karena saya mau marah, karena saya mau berbuat dosa. Itunya yang harus dikontrol dulu. The heart wants to do what it wants, itulah triggernya. Kita yield kepada temptation karena kita mau otonomi atas hidup kita. Kita tidak mau diperintah oleh apa-apa. Maka bagian ini menjadi point yang penting bagaimana pencobaan Yesus sekaligus menjadi jawaban bagi kita untuk menghadapi temptation dalam hidup kita. Titiknya di mana kita jangan yield. Tuhan, Tuhan sudah bilang didalam Firman-Nya, saya hidup bukan dari roti saja. Lapar tetap tidak menjadi alasan saya bikin batu jadi roti, tetap tidak menjadi alasan saya untuk mengambil roti orang lain, tetap tidak menjadi alasan saya untuk menjadi marah-marah kenapa orang tidak kasih saya roti. Karena Tuhan memberitahukan bahwa hidupku bukan dari situ saja. Yesus lapar. Situasi itu tidak membenarkan Dia untuk melakukan apa yang Dia mau. Sekalipun mungkin Dia lakukan itu, Dia masih bisa mempunyai pembenaran. Tetapi saya mau hati saya, saya lindungi oleh Firman Tuhan. Panggilan saya pada hari ini kepada saudara, jikalau Tuhan kita menghadapi kesulitan, pencobaan dan konteks hidup yang sama seperti engkau, bersyukurlah kita punya Mesias yang mengerti segala pergumulan kita. Tapi sekaligus Dia mengangkat status kita, di dalam situasi itu kita yang menjadi tuan atasnya. Bukan situasi yang mempengaruhi hidup kita. Karena kita manusia lebih dari sekedar persoalan-persoalan itu. Karena manusia hidup bukan dari roti saja, berarti kekuatan nilai-nilai rohani spiritual, takut akan Tuhan, mau menyenangkan Tuhan dalam hidup kita itu menjadi akar yang tidak bisa kita cabut dan kita rubah dalam hidup kita. Dari situ kita berjalan. Dari situ kita menyelesaikan kesulitan ekonomi kita, menyelesaikan persoalan cekcok keluarga kita, persoalan anak kita, persoalan kehidupan kita.

  6. Iman Setiaji

    Iman dari Allah Roh Kudus

    Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

    (1Kor. 12:7-11)

    Di dalam 1 Korintus 12:7-11 ini, kita melihat bahwa Roh Kudus memberikan berbagai karunia kepada umat Allah, kepada setiap orang percaya. Ini yang kemudian dikenal sebagai karunia Roh Kudus. Setiap orang percaya dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Karunia Roh diberikan “seperti yang dikehendaki-Nya” yaitu seturut kehendak Roh Kudus, bukan menurut kehendak kita, doa kita, ataupun ambisi kita. Karunia Roh Kudus hanya berasal dari Roh Kudus dan atas kehendak Roh Kudus. Di sini dinyatakan bahwa Roh Kudus yang memberikan iman kepada umat-Nya. Ayat ini adalah satu-satunya ayat yang menyatakan bahwa iman berasal dari Roh Kudus, dan sekaligus satu-satunya ayat yang menyatakan bahwa iman adalah karunia.

    Allah Tritunggal dan Iman

    Allah Bapa memberikan iman dasar; Allah Kristus memberikan iman keselamatan; dan Allah Roh Kudus memberikan iman pelayanan sebagai karunia. Allah Bapa menanamkan iman kepada kita sehingga kita bisa mengetahui adanya Tuhan Allah dan Dialah yang memberikan anugerah kepada manusia. Melalui Kristus, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan kita dan menyelamatkan kita dengan Kristus mati dan bangkit bagi kita. Melalui iman yang ditanamkan oleh Roh Kudus, kita percaya kepada Tuhan dan bersandar kepada-Nya sambil berani melakukan banyak hal yang dianggap sulit atau tidak mungkin bagi orang lain. Jikalau ketiga macam iman yang diberikan oleh Allah Tritunggal ini ada di dalam diri kita, maka kita akan menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman. Orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman adalah orang yang tidak menghasilkan iman dari diri sendiri yang berdosa, tidak mengandalkan diri yang hanya ciptaan ini, melainkan yang mendapatkan imannya dari Allah Tritunggal – Dialah satu-satunya dan yang paling berhak memberikan iman yang benar kepada manusia. Hal ini mengungkapkan apa yang dikenal sebagai theologi yang theosentris, yaitu theologi yang berpusat pada Allah, yaitu iman dimulai dan didasarkan pada Allah sendiri. Theosentris berarti berpusat pada Allah, bukan pada diri. Ada dua macam agama, yaitu agama yang dari Allah dan agama yang dari manusia; demikian juga ada dua macam gereja, yaitu Gereja yang dari Allah dan gereja yang dari manusia.

    Jika ada manusia yang pandai, mempunyai banyak uang, dan kemampuan manajemen mendirikan gereja, maka gereja itu menjadi gereja yang antroposentris, yaitu gereja yang berpusat pada manusia, bukan pada Allah. Gereja yang berpusat pada manusia akan selalu mengandalkan kekuatan manusia, mengandalkan orang pandai, orang kaya, atau orang-orang yang mempunyai pengaruh sosial atau politik di masyarakat. Gereja yang berpusat pada Allah adalah Gereja yang mengandalkan kuasa Allah, anugerah Allah, pimpinan Allah, dan berjalan berdasarkan gerakan Roh Kudus yang memimpin seluruh Gereja-Nya untuk memuliakan Allah, bukan diri.

    Demikian juga ada dua macam theologi, yaitu theologi yang berpusat pada Allah (theologi theosentris) dan theologi yang berpusat pada manusia (theologi antroposentris). Theologi antroposentris menggunakan pendekatan psikologis untuk menjelaskan Alkitab, memakai pengalaman manusia untuk menafsirkan Alkitab, dan memakai rasio manusia untuk membuat tafsiran Alkitab. Diri manusia menjadi pusat, kemudian memperalat firman Tuhan dan memanipulasi firman Tuhan agar sesuai dengan pengalaman, rasio, dan pergumulan manusia yang salah. Theologi theosentris berdasarkan pada wahyu Tuhan, percaya penuh akan kebenaran firman Tuhan – bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan, dan percaya pada Allah yang memberikan Firman.

    Iman Palsu

    “Siapa yang percaya kepada Tuhan Yesus pasti diselamatkan.” Benarkah pernyataan ini? Pernyataan ini baru benar sebagian karena firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa ditarik oleh Bapa akan datang kepada Kristus.” Barulah kalimat berikutnya adalah kalimat yang di atas. Di sini kita melihat perlunya mengerti kebenaran firman Tuhan secara penuh.

    Saat ini, ada begitu banyak orang yang mengajarkan iman yang berpusat pada manusia. Mereka berkata, “Asal percaya saja, nanti engkau pasti sembuh.” Banyak orang senang mendengar pengkhotbah seperti Benny Hinn, Reinhard Bonnke, dan lain-lain, yang berbicara tentang iman yang berbeda dari ajaran Alkitab. Iman yang bukan kembali kepada Allah dan kebenaran-Nya, tetapi kepada keinginan dan kepentingan manusia. Kalau saya mau berkhotbah seperti ini, tentu pendengar saya akan menjadi jauh lebih banyak, karena lebih menyenangkan bagi manusia. Akan tetapi saya harus taat kepada Allah dan Firman-Nya, karena ini bukan untuk kepentingan ataupun kenikmatan manusia. Theologi sejati adalah theologi yang theosentris bukan antroposentris. Theologi sejati menyenangkan Allah bukan manusia. Saat ini, semua yang menyenangkan Allah tetapi merugikan dan tidak menguntungkan manusia, dibuang.

    Saluran Iman

    Dengan jalur apakah Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus memberikan iman kepada kita?

    Pertama, iman datang dari pendengaran. Ini prinsip Alkitab yang pertama. Di dalam Roma 10:17, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Khotbah tentang Kristus yang menyatakan kerahasiaan Kristologi adalah khotbah yang paling penting untuk menimbulkan iman. Orang yang sungguh-sungguh memberitakan Firman dengan benar, berkatnya besar sekali dari Tuhan. Tetapi orang yang terus-menerus mengkhotbahkan berkat yang besar, mungkin akan mendapat pukulan yang berat sekali dari Tuhan. Jikalau engkau memberitakan tentang Kristus dan terus memuliakan Kristus, maka tidak mungkin Roh Kudus tidak bekerja untuk mendukung engkau. Di mana ada seorang pemuda, seorang hamba Tuhan, seorang pengkhotbah, yang membicarakan Kristologi dengan sungguh-sungguh, di situ Roh Kudus mengurapi, memenuhi, mendampingi, memberi kekuatan, mengesahkan, dan mengkonfirmasikan apa yang dikhotbahkan, karena Roh dikirim untuk itu. Oleh karena itu, anak muda tidak boleh takut bersaksi tentang Kristus.

    Saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan pada usia 17 tahun dan selalu bersaksi. Saya menggunakan sekitar 20% dari pendapatan saya untuk membeli dan membagikan traktat penginjilan, serta 40% untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Suatu waktu ketika menginjili di kereta api, saya takut menginjili seorang polisi yang galak sekali wajahnya. Saya takut ia marah, tetapi akhirnya saya memberanikan diri. Saya katakan, “Pak, silahkan percaya kepada Tuhan Yesus.” Sambil menerima traktat, Ia menjawab, “Oh, terima kasih.” dan tersenyum. Saya baru tahu orang galak kalau tersenyum manis juga. Itu membuat saya lebih berani membagikan traktat kepada orang lain. Saya bersyukur Tuhan terus memberkati saya hingga saat ini, semakin banyak orang yang menghadiri khotbah penginjilan yang saya kerjakan setiap tahun. Puji Tuhan! Jika engkau betul-betul mengabarkan Injil, betul-betul memberitakan Kristus, betul-betul mencintai Tuhan dan jiwa sesama, maka Tuhan akan memberkati. Orang beriman akan sungguh-sungguh meninggikan Kristus. Jika orang meninggikan diri, Tuhan tidak akan memberkati dan orang lain akan melihat bahwa motivasinya tidak beres.

    Kedua, iman datang dari tuntutan doa yang sungguh-sungguh. Murid Tuhan Yesus berkata, “Tuhan, iman kami tidak cukup, tambahkanlah iman kepada kami.” Itu berarti doa yang meminta iman tidaklah salah. Banyak orang berdoa minta uang, minta kekayaan, minta kesembuhan, minta kesuksesan, tetapi jarang sekali yang berdoa meminta iman, minta mengerti kehendak Tuhan, dan minta diberi kekuatan untuk menjalankan kehendak Tuhan. Doa yang baik adalah berdoa untuk kemuliaan Tuhan, kerajaan Tuhan, kehendak Tuhan, dan kebesaran nama Tuhan. Doa untuk diri sendiri cukup satu kalimat saja yaitu, minta makanan yang secukupnya untuk hari itu. Itu saja tidak ada yang lain. Iman datang dari mana? Iman datang dari permohonan doa yang sungguh – permohonan untuk mau mengenal Allah, mau mengerti kehendak-Nya dengan benar, minta kekuatan untuk mengerjakan kehendak-Nya dengan benar, itulah permohonan yang benar. Tidaklah salah seseorang berdoa meminta iman.

    Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu. Saya jarang berdoa untuk kesehatan saya, terus terang saya jarang berdoa untuk keamanan diri saya. Saya tidak pernah berdoa minta uang, minta kesehatan, ataupun minta keamanan, tetapi saya berdoa minta agar firman Tuhan dapat saya jelaskan dengan baik, minta agar Injil dapat dikabarkan, minta agar banyak pemuda menyerahkan diri, minta agar Tuhan memberkati orang yang memberitakan Injil dengan berani, serta minta agar Tuhan memberkati dan menolong para misionaris. Saya berdoa agar saya dapat menjalankan kehendak-Nya dan hanya kehendak-Nya sajalah yang jadi.

    Ketiga, iman datang dari ujian. Mereka yang mengalami ujian iman akan menjadi lebih berharga daripada emas yang murni. Kalimat ini muncul dua kali, pertama di Perjanjian Lama yaitu, kitab Ayub: “Setelah aku diuji, aku akan menjadi seperti emas murni.” Lalu di Perjanjian Baru yaitu, surat Petrus: “Tidak tahukah kamu, imanmu setelah diuji akan lebih berharga dari emas yang murni?” Dalam dua perjanjian ini, secara konsisten dikatakan bahwa iman diperkuat bagaikan emas yang diuji, makin dibakar dan dicairkan, semakin murni. Pada mulanya iman kita tidak murni karena banyak si “aku” dan “keuntunganku”, tetapi akhirnya iman bisa menjadi murni. Pemurnian ini hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Jika kita melayani bagi kepentingan diri kita sendiri, bagi kemuliaan kita, profit kita, keluarga kita, maka kita tidak bisa dipakai oleh Tuhan. Jika kita melayani bagi kemuliaan Allah dan bagi Kristus, maka pelayanan kita akan diperkenan oleh Tuhan.

    Iman datang dari ujian. Setelah diuji melalui api, maka cairan yang kotor dapat dibuang sehingga emas menjadi semakin murni. Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diperintahkan untuk menyembah berhala yang dibuat dari emas, mereka berada di dalam ujian. Jika mereka menolak, maka dapur api yang sedemikian panas menanti mereka. Ini adalah ujian. Akhirnya, bukan saja tidak mati, tetapi ketika mereka keluar, sama sekali tidak ada bau terbakar ataupun bekas api. Hal ini membuat saya kagum. Banyak orang saat ini masih berbau hangus ketika baru keluar dari ujian, sehingga semua orang tahu bahwa dia baru saja susah. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berbeda, mereka tidak ada bau terbakar sama sekali. Banyak orang berpuasa tapi membuat orang lain tahu bahwa dia sedang susah dan mengharuskan orang lain ikut susah. Sudah lelah, tidak terlihat lelah; sudah susah, tidak terlihat susah, sudah menderita tidak terlihat menderita, inilah sikap orang Kristen. Orang yang melayani Tuhan dengan beriman tidak bisa dilelehkan oleh api, karena “api” mereka lebih dari itu. Setelah melampaui ujian, aku menjadi lebih murni dari emas murni. Inilah kesaksian Alkitab.

    Di sorga nanti, yang paling keras bukanlah berlian, melainkan orang Kristen yang pernah dilatih, yang pernah pikul salib, yang pernah dianiaya, yang pernah diumpat, difitnah, ditekan, maupun disalah mengerti. Ketika semua ujian sudah dilewati namun ia masih tetap berdiri tegak, maka saat itulah ia akan melebihi berhala. Berhala dibuat dari emas yang dicairkan dan akhirnya menjadi cair oleh api. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak bisa dicairkan oleh api, karena mereka jauh lebih keras dari api yang mau membakarnya. Jika demikian, mengapa kita mau menyembah apa yang bisa dicairkan? Maukah engkau menjadi manusia beriman? Iman yang sejati adalah iman yang lebih keras dari berlian, platinum, ruby, atau batu apapun. Iman yang sudah teruji lebih kuat, lebih tinggi, lebih bernilai, dan lebih berharga daripada emas murni. Siapakah mereka? Mereka adalah orang beriman yang sudah lewat ujian.

    Maka, pertama, iman datang dari Firman; kedua, iman datang dari tuntutan doa yang sungguh-sungguh; dan ketiga, iman yang mengalahkan ujian. Kiranya kita boleh menjadi orang yang beriman. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s