Raih Tingkat Tinggi Kerohanian Anda

Beberapa hal yang sangat penting untuk diketahui guna meraih Tingkat Tinggi Kerohanian Anda

DOA SYAFAAT PROFETIK: MENDENGAR SUARA TUHAN

Pengertian
Doa syafaat profetik adalah doa syafaat yang berhubungan dengan nubuatan, suara Tuhan, untuk disampaikan kepada jemaat/orang lain dan atau untuk menjadi beban doa. Orang yang melakukan doa syafaat profetik, berdoa bukan saja atas pergumulan orang lain tetapi menerima beban doa di dalam dirinya dari Roh Kudus. Dia akan berhenti berdoa setelah Roh Kudus menyampaikan jawaban atau memberikan konfirmasi bahwa Surga telah mendengar dan/atau memberi respon.

Doa syafaat profetik adalah salah satu spesifikasi doa syafaat yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang percaya pada tingkat panggilan tertentu. Misalnya, panggilan untuk menjadi pendoa syafaat. Orang-orang seperti ini tahu bagaimana mengklaim janji Allah dan mampu melakukan peperangan untuk menarik janji itu “turun” ke bumi.

Melalui doa syafaat profetik, pesan-pesan Tuhan diungkap secara khusus dan dapat ditangkap atau dinyatakan kepada seorang pendoa. Apabila pesan Tuhan sudah dinyatakan secara profetik dan ditangkap, maka pesan tersebut dapat berarti dua hal :
– Pesan itu disampaikan sebagai sebuah beban untuk didoakan oleh pendoa
– Pesan itu diterima oleh pendoa untuk disampaikan dengan tujuan menegur, menasehati, membangun, menghibur, meneguhkan, melakukan peperangan rohani, berjaga-jaga dan memberi arahan.

Dalam hal inilah seorang pendoa harus memahami bahwa tidak semua pesan Tuhan harus disampaikan sebagai sebuah suara nubuatan. Oleh karena itu, pendoa syafaat profetik perlu menetapkan ukuran-ukuran di dalam dirinya dengan bantuan Roh Kudus sebelum memutuskan apakah pesan tersebut menjadi beban doa pribadi, menjadi pergumulan di dalam kelompok terbatas, diteruskan kepada pemimpin atau menjadi konsumsi jemaat. Dalam hal inilah seorang pendoa syafaat perlu meminta secara khusus pada Tuhan karunia hikmat, pengertian dan kemampuan membedakan roh serta sikap disiplin profetik yang kuat.

Manfaat Rohani

Mengklaim janji Tuhan Doa syafaat profetik dimulai dari sebuah janji Tuhan yang telah dinubuatkan melalui nabi-nabiNya. Setiap kali janji Allah dilepaskan, maka Allah bertanggung-jawab untuk enggenapinya. Penggenapan janji Allah itu amat tergantung dari sikap doa kita yang mampu menemukan, mengklaim janji itu dan memperjuangkannya di dalam roh sehingga kuasa doa itu mampu menarik janji tersebut menjadi nyata. Mengapa? Doa syafaat profetik, sanggup  melepaskan kuasa Allah yang membuat alam roh bergerak dan menyatakan dirinya di alam nyata.

Janji Tuhan bukanlah sesuatu yang harus ditunggu. Kita harus secara pro-aktif mengejar janji itu sebab Allah membutuhkan peran serta kita untuk pekerjaanNya. Doa-doa yang kita panjatkan akan mendorong Allah bekerja! Melalui doa syafaat profetik, terjadi sebuah peperangan rohani di dalam Roh yang membantu Allah menggenapi kehendakNya dan melawan
iblis yang mencoba menggagalkan kehendak Allah tersebut.

Melakukan Peperangan Rohani
Dibagian lain buku ini disinggung bahwa doa syafaat adalah sebuah perjumpaan. Demikian halnya juga dengan doa syafaat profetik. Kita berjumpa dengan Allah dan mendorongNya bekerja. Tetapi kita juga berjumpa dengan iblis dan seluruh penguasa kegelapan yang selalu berusaha menghambat pekerjaan Allah tersebut. Peperangan rohani terjadi untuk memenangkannya. Daniel melakukan itu. Dia menyadari bahwa ada satu janji Allah yang sangat penting untuk pemulihan bangsa Israel. Bangsa ini berada di dalam penghukuman Tuhan atas kedegilan, pemberontakan dan dosa-dosa yang dilakukannya. Tetapi Daniel menangkap sebuah pesan pemulihan yang akan Allah kerjakan bagi mereka, melalui nubuatan Nabi Yeremia. Masa penjajahan dan pembuangan akan berakhir di masa dimana Daniel hidup (Daniel 9:2). Inilah yang Daniel perjuangkan di dalam doa dan puasanya supaya janji itu digenapi! Apa yang terjadi? Doa Daniel didengar oleh Surga langsung pada hari pertama dia berdoa. Tetapi baru 21 hari kemudian jawaban itu menembus alam roh dan disampaikan kepadanya. Sebab apa? Peperangan rohani telah terjadi!

Allah menghendaki kita melakukan doa syafaat profetik untuk mendorong dan mempersiapkan jalan bagiNya untuk bekerja. Dia membutuhkan respon dan kerjasama kita. Allah juga menghendaki kita menyadari satu hal penting, bahwa melalui doa yang kita lakukan, kemenangan atas maut yang telah diraihNya, adalah kemenangan kita, anak-anakNya di dunia!

Peperangan rohani yang kita lakukan di dalam doa adalah sebuah peneguhan akan kemenangan tersebut. Allah menghendaki kita berdoa profetik untuk menyadarkan bahwa kita punya posisi lebih dari pemenang terhadap sistem apapun di alam roh.

Menerima pesan Tuhan
Pesan Tuhan adalah ciri khas dari sebuah doa syafaat profetik atau selanjutnya kita sebut doa profetik. Petrus mengalami hal yang sama di dalam roh saat berdoa di loteng sebuah rumah di Yope. Pesan Tuhan jelas. Tuhan tidak menginginkan Petrus menyampaikan Injil secara eksklusif kepada bangsa Yahudi saja tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain. Dalam sebuah penglihatan, sebuah kain lebar yang dihuni oleh berbagai jenis binatang diturunkan dari langit dan disertai perintah kepada Petrus untuk memakannya. Tetapi Rasul Petrus menolak karena beberapa diantara binatang yang ada di dalam bentangan kain itu dinyatakan haram oleh agama dan kebiasaan Yahudi. Kejadian itu berulang selama tiga kali dan Petrus tetap pada pendiriannya. Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi. Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain  lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung. Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: “Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!” Tetapi Petrus menjawab: “Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir.” Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya:

“Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram.” Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit. (Kisah 10:10-16)

Perhatikan kembali seluruh kisah ini! Pesan Tuhan di dalam doa itu terjadi saat :
o Petrus berdoa (ada kontak dari dirinya dengan Surga)
o Petrus kelaparan (ada kebutuhan di dalam dirinya)
o Roh Petrus diliputi kuasa Ilahi (ada kuasa Allah yang melingkupinya)
Allah punya kepentingan bagi tersebarnya Injil di permukaan bumi. Itu berarti perintah amanat agung harus segera dilaksanakan dan tidak terkonsentrasi di Yerusalem belaka. Karena  keinginan Allah harus terlaksana, maka Dia menyampaikan pesan itu ke bumi melalui orang-orang yang berdoa. Pesan yang ditangkap inilah yang disebut pesan profetik. Pada saat seseorang sedang berdoa secara profetik, maka saluran di dalam alam roh akan terbuka.

Pesan itu bisa kita terima karena roh kita terkoneksi dengan roh Allah. Itu sebabnya, setiap pesan profetik selalu didahului oleh hadirat Allah.

Pesan profetik Tuhan bisa sampai ke bumi karena ada orang-orang yang berdoa dan menyediakan rohnya diliputi kuasa Ilahi. Ada sebuah kebutuhan yang harus terpuasakan di dalam dirinya. Inilah ciri khas utama dari doa profetik. Saat melakukannya, kuasa Ilahi melingkupi pendoa sehingga inderanya masih tetap aktif tetapi hanya peka terhadap suara di dalam roh. Bisa melihat, bisa mendengar dan bisa bicara, tetapi terbatas dalam dimensi roh saja. Pendoa profetik saat berada di titik tunning point (sedang terhubung untuk transfer data), memang secara fisik ada di bumi tetapi dirinya tidak lagi memiliki kesadaran fisik terhadap bumi dan hal-hal material. Pesan profetik yang diterima pendoa pada saat itu disampaikan di dalam bentuk penglihatan terbuka yang bergerak, simbol atau gambar mati, suara yang audibel, kunjungan Surgawi (teofani) atau kesadaran Ilahi yang kuat.

Apakah sebenarnya pesan profetik itu?
Pesan profetik dapat digolongkan dalam dua bagian utama. Pertama adalah pesan Tuhan yang muncul dan turun ke bumi atas inisiatif Tuhan. Dia berkehendak dan menyatakan isi hatiNya melalui para pendoa atau orang-orang tertentu yang menjadi saluranNya (imparter). Kedua adalah sebagai tanggapan/hasil dari pergumulan manusia yang dipanjatkan ke Surga. Dapat muncul berupa jawaban doa atau peneguhan bahwa Allah berkenan atau tidak berkenan terhadap pergumulan tersebut.

Sebagaimana pengalaman Petrus, pesan Tuhan terhadap kedua hal tersebut dapat disampaikan dalam bentuk penglihatan, suara, kesadaran Ilahi atau kunjungan Surgawi (teofani). Juga bisa muncul melalui mimpi (Yusuf di PL dan Yusuf di PB), kejadian atau peristiwa dan tindakan profetik/prophetic act (nabi Yehezkiel di PL).

Beberapa saluran pesan Tuhan yang relevan

Penglihatan Rohani
Penglihatan rohani terjadi saat roh kita sedang terhubung dengan Roh Allah. Baik itu secara korporat (berdasarkan dukungan atmosfir pada waktu itu) ataupun saat doa syafaat pribadi.

Penglihatan ini dapat berupa simbol, tekanan di dalam roh, gambar yang terulang-ulang, rekaman peristiwa atau tanda-tanda tertentu. Semuanya ini tergambar di dalam imajinasi kita saat berdoa atau menyembah Tuhan. Apabila pesan profetik itu merupakan sesuatu yang sifatnya visual, maka hal ini tergolong pada penglihatan rohani.

Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa terdapat beberapa jenis penglihatan rohani yang pernah terjadi.

a. Penglihatan Sesaat
Terjadi berupa simbol, gambar, tanda-tanda, gambaran yang berlangsung cepat dan sesaat, kilasan peristiwa, dsb. Pada saat itu, semua indera kita masih berada di dalam tingkat kesadaran maksimal. Masih bisa mendengar orang lain atau merasakan hal-hal material.

Biasanya fenomena ini terjadi saat mata jasmani tertutup dan suasana tempat berdoa penuh dengan urapan/intensitas doa. Ini juga disebut dengan penglihatan roh. Tujuannya untuk memberi beban doa atau memberi penjelasan. Biasanya terjadi pada saat berada di dalam urapan doa yang kuat atau berdoa di tempat-tempat khusus dimana intensitas roh kuat (seperti ruang doa, bukit doa, dsb).
Bisa terjadi di dalam suasana ini, Tuhan memperlihatkan kepada kita seseorang yang mungkin sedang membutuhkan pertolongan dan kita sedang dipanggil oleh Tuhan untuk melakukan syafaat kepadaNya atas nama orang tersebut. juga sering terjadi, Allah menyatakan pesannya secara berulang di dalam penglihatan yang sama. Artinya, Allah sedang melepaskan panggilan untuk melakukan syafaat terhadap penglihatan tersebut.

b. Penglihatan Terbuka
Muncul berupa gambaran peristiwa yang utuh yang berjalan atau bergerak dimana kesadaran kita berada di dua tempat sekaligus yakni alam dunia material dan alam roh. Kita dapat mencatat peristiwa-peristiwa yang terlihat itu (seperti pewahyuan kepada Yohanes di Patmos). Mata jasmani kita meyaksikan peristiwa peristiwa di dalam roh seperti sedang menyaksikan layar bioskop dan juga dapat menyaksikan alam nyata (menulis kejadian tersebut). Dalam peristiwa ini mata jasmani terbuka. Telinga juga dapat memberi respon terhadap suara alam nyata. Kita seolah-olah berada di dalam dua dunia yang paralel.

Kesadaran kita terletak pada dua alam sekaligus. Beberapa contoh yang terjadi adalah penglihatan terhadap langit yang terbuka atau penglihatan terhadap manifestasi urapan di dalam diri seseorang saat berdoa atau melayani.

Contohnya cahaya tipis yang membungkus seseorang.

c. Trance (roh diliputi kuasa Ilahi)
Pada penglihatan jenis ini, semua indera kita terbuka terhadap alam roh tetapi tidak lagi terbuka terhadap alam nyata. Kita sama sekali tidak merasa berada di bumi tetapi di sebuah “tempat” lain dimana Roh membawa kita. Roh Allah menguasai kita sedemikian rupa sehingga orientasi indera kita hanya mampu menangkap fenomena yang terjadi di dalam dunia roh. Tubuh rohani kita sedang memberi respon terhadap manifestasi dunia roh dan tubuh fisik tidak melakukan apa-apa. Petrus mengalami kejadian ini saat berdoa di atas loteng sebuah rumah di Yope. Demikian juga dengan Yehezkiel sewaktu menerima pesan-pesan nubuatan dari Tuhan. Orang yang mengalami trance seperti ini, secara utuh memasuki dimensi Roh dan tubuh fisiknya untuk sementara “berhenti” berfungsi.

d. Kunjungan Ilahi
Ini adalah bentuk penglihatan supranatural dimana kita meyaksikan dengan indera kita, Tuhan/makhluk-makhluk sorga atau malaikat, menyatakan dirinya di alam nyata secara fisik atau dalam bentuk cahaya dan kita dapat merasakannya, menyentuhnya atau melakukan komunikasi. Kita juga tidak kehilangan orientasi terhadap alam nyata. Hal ini terjadi manakala makhluk Surgawi menyatakan dirinya di dalam dimensi menusia yang fana ini. Kunjungan seperti ini sangat jarang terjadi. Biasanya menyangkut sebuah peristiwa besar atau rancangan Allah yang besar di dalam sejarah umat manusia. Ada sebuah keadaan dimana Allah “meninggalkan” Surga dan menyatakan diri di bumi! Contoh yang pernah terjadi :
o Kunjungan malaikat Gabriel kepada Maria, Daniel, dll
o Kunjungan malaikat kepada Petrus yang membebaskannya dalam penjara
o Malaikat yang menjaga kubur Yesus
o Pernyataan kepada Zakaria
o Pergumulan Yakub dengan Malaikat Tuhan
o Kedatangan Malaikat di kemah Abraham saat penghancuran Sodom
Kunjungan Ilahi disebut juga teofani dan terjadi atas kedaulatan Allah di bumi. Teofani terjadi karena sebuah kebutuhan Surga yang mendesak untuk dikerjakan di tengah-tengah manusia.

Kesadaran Ilahi
Kesadaran Ilahi adalah sebuah bentuk pikiran yang ditransfer kepada kita oleh Roh Kudus.

Sering disebut juga sebagai pencerahan Roh, baik melalui ingatan kepada ayat-ayat Firman Tuhan tertentu, pengertian/penjelasan yang baru terhadap kejadian tertentu, ataupun kesadaran tentang kebenaran/ketidakbenaran. Kesadaran Ilahi juga mampu membawa kita pada arahan-arahan baru melalui intuisi, pikiran atau sikap hati kita. Melalui cara ini, pikiran kita tiba-tiba menjadi terbuka terhadap sebuah rahasia firman atau pergumulan yang ada.

Pengalaman Maria yang sempat mempertanyakan “kehamilan”nya oleh Roh Kudus, akhirnya membawanya pada kesadaran bahwa apa yang sedang berlangsung itu dapat dimengerti. Demikian juga pada diri Yusuf yang akhirnya “menyadari” bahwa ia harus mengambil Maria menjadi isterinya.

Kesadaran Ilahi dapat muncul dari sumber-sumber eksternal seperti peristiwa, kejadian, orang-orang, binatang, berita, lagu, pujian dan penyembahan, bacaan, dsb. Tetapi perlu disadari bahwa tidak semua yang terjadi secara eksternal dapat digunakan sebagai sumber kesadaran Ilahi. Hanya hal-hal yang signifikan dengan firman Tuhan dan sesuai (meneguhkan) beban doa yang sedang digumulkan. Hal ini terjadi karena pikiran manusia sangat terbatas dan tidak mampu memahami cara Allah bekerja. Melalui kesadaran Ilahi, terjadi sebuah inovasi di dalam roh manusia sehingga manusia bisa memaknai pekerjaan AllahNya. Tentu saja hal ini terjadi atas kedaulatan Allah.

Kesadaran Ilahi dapat juga disebut sebagai sebuah impresi. Melalui impresi kita merasakan ada sesuatu yang bersifat tekanan di dalam roh kita dan mengarahkan pikiran kita terhubung dengan pikiran Allah. Kesadaran ini sifatnya mendesak dan menuntun kita untuk bertindak.

Mimpi
Mimpi berbeda dengan penglihatan. Mimpi dapat dipakai Tuhan untuk menyatakan pesanNya. Tetapi tidak semua mimpi merupakan pesan profetik dari Tuhan. Kita harus mampu membedakan dan melatih roh kita sedemikian rupa sehingga mampu mengenali mimpi sebagai sebuah bunga tidur ataupun sebagai sebuah pesan profetik.

Beberapa kasus di dalam Alkitab :
Yakub mendapat mimpi yang di dalam pelariannya.
Dan Malaikat Allah berfirman kepadaku dalam mimpi itu: Yakub! Jawabku: Ya Tuhan! (Keluaran 31:11) Peringatan Allah kepada Laban Pada waktu malam datanglah Allah dalam suatu mimpi kepada Laban, orang Aram itu, serta berfirman kepadanya: “Jagalah baik-baik, supaya engkau jangan mengatai Yakub dengan sepatah katapun.” (Keluaran 31:24) Peringatan kepada orang Majus Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. (Matius 2:12)

Petunjuk Allah kepada Yusuf untuk meninggalkan tempat “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” (Matius 2:13)

Untuk menemukan perbedaan antara mimpi sebagai bunga tidur dan sebagai pesan profetik, kita dapat menggunakan materi “pesan” itu sebagai sebuah standard. Jika mimpi itu tentang perkara-perkara rohani atau pengungkapan tentang kejadian di masa depan, maka dapat dipastikan itu adalah sebuah mimpi profetik. Tetapi jika itu hanya sebuah khayalan atau
dinamika masa lalu, dapat dipastikan bahwa mimpi itu merupakan bunga tidur dan bukan sebuah pesan. Mimpi yang menghasilkan pesan adalah mimpi yang membawa tujuan Surga ke bumi dan mengandung otoritas Allah. Ada arahan dan gambaran yang jelas di dalam mimpi itu yang menegaskan sifat profetiknya. Mimpi profetik jauh dari unsur-unsur romantisme atau konflik psikologis alam bawah sadar.

Berikut ini terdapat beberapa point yang dapat kita gunakan untuk membedakan mimpi dengan penglihatan.
• Mimpi terjadi saat tidur, penglihatan terjadi saat berdoa.
• Mimpi terjadi begitu saja, penglihatan butuh kondisi-kondisi tertentu
• Mimpi menyampaikan materi yang bisa berulang-kali, penglihatan memberikan informasi sesaat.
• Mimpi biasanya akurat, penglihatan berupa arahan atau kepingan informasi.
• Mimpi memerlukan akal pikiran yang sehat untuk menerjemahkannya sedangkan penglihatan membutuhkan roh yang sehat.

Suara
Suara adalah sebuah saluran pesan Tuhan. Pesan profetik secara audibel adalah pesan Surgawi yang bisa ditangkap dan di dengar jelas oleh telinga jasmani kita. Biasanya berupa perintah, teguran, arahan atau suara musik. Pada saat disampaikan, telinga rohani kita secara otomatis mampu menangkap sumber suara Surgawi. Pengalaman Paulus di dalam perjalanan ke Damsyik dapat menjadi sebuah kesaksian Alkitab tentang “suara” tersebut.
Suara ini biasanya memiliki karakter :
o tegas tapi lembut
o menegur tapi penuh dengan damai sejahtera
o memberi petunjuk atau arahan
o seperti suara laki-laki
o jelas terdengar
o punya otoritas dan membawa urapan
o menghasilkan perubahan

Allah ingin berkomunikasi dengan kita. Surga selalu penuh dengan sinyal-sinyal komunikasi yang tertuju ke bumi. Salah satu sifat Allah yang melekat di dalam diri-Nya adalah ingin menyatakan diri-Nya dan seluruh eksistensi-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. Allah ingin berkomunikasi dengan kita semua. Alkitab mengatakan bahwa Ia berdiri di depan pintu dan mengetok. jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku (Why. 3:20). Allah berinisiatif untuk berkomunikasi dengan manusia. Bahkan kehadiran Yesus ke dunia adalah salah satu bentuk komunikasi-Nya kepada kita. “Maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta (Ibr. 1:2)”

Tetapi satu hal yang paling spektakuler adalah perkataan profetik Yesus kepada Petrus perihal gereja. “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18).

Perkataan ini berarti bahwa gereja dibangun di atas pewahyuan dan bukan atas dasar metode atau atau cara atau program manusia. Dengan kata lain, gereja harus selalu menempatkan diri di dalam arus pewahyuan ilahi agar dapat berjalan di atas rel yang tepat. Pewahyuan adalah isi hati Allah kepada gereja!

Perhatikan kembali nubuatan Yoel dalam Yoel 2:28-32 yang diulang dalam khotbah KKR Petrus yang pertama di Yerusalem. “Akan terjadi pada hari-hari terakhir –demikianlah firman Allah– bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi” (Kis. 2:17).

Nubuatan itu menegaskan kepada kita semua bahwa hingga kedatangan-Nya yang kedua kali, Allah akan terus berbicara kepada manusia melalui pesan-pesan profetik.

Fakta tak terbantahkan adalah pewahyuan-pewahyuan yang dinyatakan pada misi penginjilan Rasul Paulus di mana ia benar-benar bergantung dari komunikasinya dengan Roh Kudus dan penyataan ilahi, untuk menentukan arah dan setiap tujuan pelayanan-nya. “Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga. Aku pergi berdasarkan suatu penyataan. Dan kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi –dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang– supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha” (Gal. 2:1-2).

Komunikasi Allah di dalam Alkitab
Alkitab penuh dengan pengalaman hubungan antara manusia dengan Tuhan. Dimulai di kitab Kejadian, terlihat berbagai bentuk komunikasi dan pernyataan Tuhan kepada manusia.

Perhatikan saat Tuhan berbicara kepada Adam dan Hawa. Lalu TUHAN Allah memberi perintah  ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2:16-17).

Komunikasi ini terus berlanjut pada keturunan Adam dan anak-anaknya. Sebelum air bah turun, Tuhan memberikan perintah kepada Nuh. Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi (Kej. 6:13). Lalu hadirlah Abraham di dalam sejarah hubungan manusia dengan Tuhan, yang kemudian melahirkan Iskak, Yakub dan dua belas anak Israel. Demikian seterusnya hingga pernyataan Tuhan sampai kepada para nabi-Nya. Abraham adalah salah satu tokoh Alkitab yang hampir setiap bagian penting di dalam hidupnya penuh dengan berbagai variasi komunikasi dengan Tuhan. Beberapa metode komunikasi tersebut adalah :
1 melalui firman (atau kalimat) yang audibel (telinga mendengar) – Kejadian 12:1
2 melalui penglihatan (mata melihat dan telinga mendengar) – Kejadian 15:1
3 melalui penampakan (bertemu Tuhan dan mendengar) – Kejadian 17:1
4 melalui kunjungan ilahi – Kejadian 18:2
5 melalui kunjungan malaikat – Kejadian 22:11

Metode inilah yang kemudian terulang di sepanjang pengalaman komunikasi manusia dengan Tuhan sampai dengan saat ini. Dan mencapai puncaknya dengan hadirnya Yesus, sebagai  Anak Allah sendiri, ke dunia. Melalui kehadiran Yesus, manusia mampu berkomunikasi dan bertatap muka dengan muka kepada Tuhan di dalam tataran yang sama (karena Allah menjelma menjadi manusia). Tetapi hubungan ini tidak berlangsung lama karena Yesus kemudian mati di kayu salib, dikuburkan dan secara supranatural terangkat ke surga. Apakah lalu komunikasi dengan Allah terhenti dengan naiknya Yesus ke surga? Tidak!

Sekalipun telah naik ke surga, gereja dan para murid-Nya selalu menerima pewahyuan-pewahyuan yang baru. Pewahyuan itu berguna bagi kita untuk melangkah dan memahami firman-Nya. Melalui aktivitas dan kehadiran para rasul di Yerusalem, terbukti pada kita bagaimana Allah ingin dan masih terus berbicara pada gereja-Nya.

Penyingkapan-penyingkapan profetik semacam itu masih terus berlangsung hingga kini dengan menggunakan situasi, bentuk, dan saluran yang berbeda. Apabila iman orang percaya mengakui bahwa doa adalah sebuah jalur komunikasi dengan surga, maka fakta tersebut membuktikan bahwa jalur komunikasi kita kepada Tuhan masih terbuka. Terlebih jika dikaitkan dengan jawaban doa dan pergumulan manusia, semakin jelas bahwa Tuhan yang kita sembah, adalah Tuhan yang hidup dan terus berbicara kepada milik kepunyaan-Nya sampai saat ini.

Pesan Profetik
Pesan Tuhan yang dinyatakan dalam berbagai bentuk itu disebut pesan profetik. Secara sederhana, istilah profetik adalah bagaimana mengetahui isi hati Allah terhadap diri seseorang atau umat-Nya atau keadaan tertentu yang menyangkut masa lalu, sekarang dan masa depan. Melalui pengungkapan tersebut, kehendak Allah dapat ditemukan sehingga manusia dapat berjalan dalam rencana Allah yang sempurna. Jadi orang yang bergerak di dalam gerakan profetik memposisikan dirinya sebagai saluran rahasia hati Allah atau sebagai pengantara antara Allah dengan orang-orang yang ingin dijangkau Allah. Orang-orang ini berada di dalam kasih karunia-Nya. Oleh sebab itu, seorang pengantara harus menjamin dirinya bersih sebagai sebuah saluran belaka dan opini pribadi tidak boleh mencampuri “kemurnian” pesan yang melalui saluran tersebut.

Kita melayani Allah yang ajaib yang suka menyatakan isi hati-Nya dan pikiran-Nya, kepada kita. Pikiran Allah tidak pernah membatalkan firman-Nya. Pikiran-Nya bermanfaat untuk menyatakan pengajaran, kesalahan, memperbaiki perilaku, menghibur dan mendidik kita. Juga menguatkan dan membuat kita sadar bahwa ia mengasihi kita.

Orang-orang yang bergerak di dalam jalur profetik (pendoa atau nabi) menyatakan perkataan-perkataan yang diilhami dan diberikan kepada mereka melalui kuasa dan manifestasi Roh Kudus. Perkataan profetik yang keluar dari dalam mulut mereka adalah perkataan yang berasal dari isi hati Allah yang memakai mereka sebagai media komunikasi. Oleh sebab itu mereka dituntut memperhatikan tiga hal penting berikut ini, yaitu :
1 kerendahan hati di hadapan Allah
2 kepekaan terhadap pimpinan Roh Kudus
3 rasa belas kasihan terhadap orang lain

Penglihatan
Salah satu saluran dari pesan profetik itu adalah melalui penglihatan. Penglihatan adalah penyataan dimensi roh secara visual yang berisi pesan Tuhan kepada gereja-Nya atau perseorangan tertentu, yang dapat ditangkap melalui indra manusia, atau melalui indera rohani (dalam hal ini mata atau kesadaran batin di dalam roh seseorang). Penglihatan dapat terjadi saat kita sedang terlibat dan berinteraksi dengan Tuhan. Mungkin dapat muncul ketika kita melakukan suatu aktivitas ibadah sehingga menempatkan kita dalam sebuah atmosfir rohani yang demikian kuatnya, mengimpartasi roh kita sehingga mengalami resonansi dengan hadirat Allah.

Jadi syarat utama penglihatan adalah koneksi dengan Allah. Hubungan seperti ini dapat dicapai melalui aktivitas di bawah ini seperti : Doa syafaat atau doa pribadi Doa menggunakan bahasa roh, Memuji dan menyembah Allah, Merenungkan (meditasi) firman Allah. Semua aktivitas tersebut membawa kita memasuki dan tinggal di dalam hadirat Allah.

Pada saat itulah, biasanya pesan profetik diteruskan ke dalam roh kita. Salah satunya melalui penglihatan. Semakin kita memiliki gaya hidup yang melekat kepada Tuhan (artinya takut akan Allah) seperti dikatakannya, berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui (Yer. 33:3), semakin kita akan menerima pengungkapan rahasia-rahasia-Nya.

Artinya, kalau kita mau menjadi saluran hal-hal besar yang menjadi rahasia-Nya, maka kita perlu meningkatkan kapasitas roh kita sedemikian rupa sehingga dapat memasuki sebuah tingkat hubungan yang bisa didengar dan dijawab Tuhan, yang bisa mendengar dan menjawab Tuhan.

Penglihatan Total atau Trance
Penglihatan jenis ini, tubuh fisik dan semua indra kita tidak lagi memiliki kepekaan terhadap lingkungan, selain kepada suasana atau atmosfir Roh. Atmosfir roh yang sangat kuat meliputi itu, telah membuat kita kehilangan kesadaran materi. Inilah yang dialami oleh Rasul Petrus sewaktu berdiri di atas loteng sebuah rumah ketika mendapat penglihatan kain lebar yang dihuni berbagai jenis binatang hidup. “Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku. Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung. Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah! Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.

Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari surga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram! Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit(Kis. 11:5-10).

Perhatikan kembali kesaksian Petrus tersebut. Penglihatan yang dialaminya didahului oleh sebuah peristiwa, Petrus berdoa! Doa adalah sebuah pintu baginya untuk memasuki dimensi roh. Doa menghantar kita untuk berada di dalam hadirat Allah, yang mampu membiarkan roh kita memasuki dimensi roh. Pada waktu itu, ada sebuah fase yang sangat penting yang dimasuki Petrus, yakni rohnya diliputi kuasa ilahi.(Kejadian ini juga menjelaskan sebuah praktik okultisme para dukun yang sengaja membiarkan dirinya diliputi kuasa roh jahat untuk menjadi medium. Mereka juga bisa mengalami trance dan kehilangan kesadaran fisik. Tetapi yang menguasai mereka bukan kuasa ilahi, melainkan roh-roh najis atau unclean spirit).

Pada waktu Roh Allah telah menguasai kita, maka anggota tubuh kita tidak lagi memberi respons terhadap keadaan sekitar. Kita mendapati diri berada dalam alam lain dan bisa melakukan sejumlah aktivitas, memberi respons terhadap penglihatan yang sedang dibukakan.

Kesadaran kita satu-satunya hanyalah alam roh. Kita ada disana! Kesadaran fisik baru akan muncul setelah penglihatan selesai, kita sadar dan kuasa ilahi terangkat, tidak lagi melingkupi kita. Orang dalam penglihatan seperti itu disebut trance dalam kuasa Roh. Meski berada di bumi, ia kehilangan kesadaran terhadap alam nyata. Tetapi dalam beberapa kasus tertentu, akibat hebatnya pengalaman dan respons di dalam alam roh, kita dapat melihat orang-orang tersebut memberi reaksi fisik seperti berlari, mengangkat tangan, menangis, meloncat-loncat dan sebagainya.

Penglihatan Terbuka
Jenis penglihatan yang lain adalah penglihatan terbuka. Di dalam penglihatan ini, kita memiliki dua kesadaran sekaligus, yakni terhadap alam nyata dan terhadap alam roh. Dalam peristiwa ini, saluran-saluran roh sedang terbuka di sekeliling kita dan fisik kita dapat memberikan respons terhadap penglihatan itu, misalnya menulis, mendengar, menggerakkan tangan, atau berlari bahkan melihatnya dengan mata jasmani. Dalam jenis penglihatan ini, mata jasmani kita juga terbuka!

Penglihatan terbuka dapat berupa langit yang terbuka atau layar dengan episode yang bergerak. Juga dapat berupa “lubang” di angkasa yang terbuka lebar dan kita dapat melihat dengan leluasa sesuatu yang berada di balik lubang itu. Kitab Wahyu yang dituliskan oleh Yohanes diturunkan kepadanya dengan mencatat peristiwa demi peristiwa yang muncul melalui penglihatan terbuka di Patmos.

Pada saat penglihatan terbuka terjadi, kita tidak kehilangan kesadaran fisik. Kita tetap menyadari berada di mana dan sedang melakukan apa. Dua dimensi ini (alam nyata dan alam roh) ada di satu tempat yang sama, tetapi keduanya tidak saling mempengaruhi. Penglihatan jenis ini sangat istimewa karena orang lain yang sedang berada dengan kita, bisa tidak melihat apa-apa atau merasakan apa yang sedang kita alami di dalam dimensi roh karena mata rohaninya tertutup. Perhatikan peristiwa di mana Elisa membuka mata rohani bujangnya, Gehazi, sewaktu rumah mereka dikepung para prajurit. Elisa melihat apa yang tidak terlihat! Karena itu dirinya tenang sebab yang menyertai mereka jauh lebih banyak daripada prajurit yang terlihat secara fisik oleh Gehazi. Apa yang dilakukan Elisa untuk membuat Gehazi berada di dalam “frekuensi” ilahi tersebut? Ia berdoa agar mata rohani bujangnya yang ketakutan itu dibukakan oleh Tuhan! Maka dikirimnyalah ke sana kuda serta kereta dan tentara yang besar. Sampailah mereka pada waktu malam, lalu mengepung kota itu. Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya, “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”

Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka.” Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa (2 Raj. 6:15-17.)

Seseorang yang mengalami peristiwa penglihatan terbuka, erat kaitannya dengan mata rohaninya yang terbuka. Artinya, seseorang itu telah memiliki kepekaan terhadap fenomena/dimensi roh yang ada di sekitarnya. Tidak semua orang memiliki kepekaan tersebut, meskipun hal tersebut dapat dilatih.

Penglihatan Sesaat
Penglihatan jenis ini umum dan lazim terjadi saat seseorang berdoa, berada di dalam suasana penyembahan atau ketika menerima impartasi. Dalam kondisi mata tertutup, akibat kuatnya atmosfir roh karena doa atau pujian penyembahan yang sangat agresif. Pada saat itu, seseorang yang berada di dalam lingkup hadirat Allah, dapat menerima informasi dari alam roh berupa benda, simbol, kejadian, angka, huruf, kalimat, suara atau apa pun yang sifatnya tidak bergerak dan berlangsung dalam situasi yang sangat cepat. Saking cepatnya penglihatan ini sehingga bagi yang kurang peka, seseorang dapat saja mengabaikannya. Informasi yang disampaikan biasanya sepotong-sepotong dan sifatnya simbolis (mewakili sebuah peristiwa dan kejadian tertentu yang membutuhkan hikmat untuk memahami artinya).

Penglihatan jenis ini lazim terjadi dalam hadirat Allah yang kuat. Siapapun bisa mengalaminya. Kalau hadirat Allah tersebut terangkat kembali, maka kita tidak dapat menerima informasi apa pun. Saul pernah dianggap seperti Nabi hanya karena tidak sengaja dirinya berada di dalam jangkauan impartasi atmosfir profetik yang sangat kuat, sewaktu serombongan nabi sedang bernubuat di Gibea. Ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia dengan serombongan nabi; Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka. Dan semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada yang lain: “Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi?” (1 Sam. 10:10-11)

Apakah Saul lantas disebut nabi setelah ia bernubuat? Tentu saja tidak. Keadaan seperti inilah yang mayoritas menjadi pengalaman rohani anak-anak Tuhan di dalam kelompok-kelompok doa, para pendoa syafaat, yang mendapat sebuah gambaran di dalam roh mengenai hal-hal profetik. Tidak lantas para pendoa tersebut dianggap sebagai seorang nabi atau pelihat. Penglihatan sesaat bisa menjadi pengalaman rohani yang temporer bagi kebanyakan jemaat.

Tetapi bila seseorang terus melatih kepekaan rohnya melalui hubungan pribadi dengan Allah, maka frekuensi informasi yang mengalir di dalam rohnya saat berdoa atau menyembah Tuhan, tentu akan semakin tinggi.

Penglihatan karena Kunjungan (Teofani)
Teofani adalah penglihatan yang sangat istimewa. Atas sebuah kepentingan surga yang  mendesak dan harus segera dinyatakan di bumi, Tuhan sendiri atau makhluk-makhluk surgawi, menyatakan diri secara FISIK kepada manusia. Melalui penyataan ini, kita dapat melihat, meraba atau berkomunikasi langsung dengan Tuhan. Hal tersebut berlangsung atas kedaulatan Tuhan sendiri dan manusia tidak dapat mengatur atau merekayasanya.

Beberapa contoh kejadian di dalam Alkitab tentang peristiwa ini dapat dicatat sebagai berikut:

a. Pemanggilan Musa – Allah menyatakan diri dalam bentuk api di semak-semak. (Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah” – Kel. 3:4.)

b. Pemusnahan Sodom dan Gomora – Allah menyatakan diri dalam bentuk
makhluk surgawi/malaikat. (Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah – Kej. 19:1.)

c. Teguran terhadap Bileam – Malaikat Tuhan menghalangi keledai Bileam yang hendak memenuhi undangan para pemuka Moab dalam sebuah konspirasi untuk melepaskan kutukan kepada orang Israel. (Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tangan-Nya, menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan – Bil. 22:23.)

d. Jari tangan yang menulis di dinding – Peringatan keras dari Allah kepada Raja Belsyazar yang menggunakan perkakas Bait Allah untuk menyelenggarakan pesta dunia di kerajaannya. (Pada waktu itu juga tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana raja, di depan kaki dian, dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu – Dan. 5:5.)

e. Berita kelahiran Yesus – Malaikat Tuhan diutus untuk bertemu Maria dan gembala-gembala yang ada di padang. (Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret – Luk. 1:26.)

f. Pembebasan Petrus – Malaikat Tuhan diutus kepada Petrus yang sedang berada di dalam penjara dan membebaskannya. (Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus – Kis. 12:7.)

g. Peneguhan untuk Paulus – Suara yang didengar oleh Paulus untuk meneguhkan hatinya di dalam pelayanannya di Korintus. (Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! – Kis. 18:9.)

h. Hukuman mati untuk Herodes – Malaikat Tuhan dikirim untuk menampar Herodes yang menganggap dirinya sama dengan Allah. (Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing – Kis. 12:23.)

Masih banyak lagi contoh di dalam Alkitab penglihatan yang muncul akibat kunjungan surgawi.  Penting dipahami bahwa kunjungan surgawi hanya terjadi untuk sebuah rencana besar Allah yang melibatkan manusia di dalamnya. Pesan pesan yang muncul dari penglihatan ini membawa manusia memiliki pengalaman langsung dengan Allah yang berhubungan dengan peneguhan, panggilan, teguran atau misi yang sangat penting.
————————-
PENGAMPUNAN

Pendahuluan
Diantara sejumlah perkara bagi orang Kristen yang paling sulit dilakukan adalah pengampunan.

Fakta konseling membuktikan banyak hal, betapa pengampunan amat sulit dilakukan oleh orang percaya. Ada anak yang bertahun-tahun menyimpan dendam kepada orang tuanya yang pernah menelantarkannya. Ada jemaat yang bertahun-tahun bahkan akhirnya pindah gereja karena sulit mengampuni gembalanya. Bahkan mungkin kita sendiri, di dalam sudut hati paling dalam, masih menyisakan dendam dan sikap sulit mengampuni orang-orang yang pernah menyakiti kita. Berdasarkan sejumlah pengalaman itu, muncul satu pertanyaan klasik, benarkah pengampunan itu merupakan satu perkara yang paling sulit dilakukan?

Yesus Telah Melakukannya
Yesus Kristus sebagai sebuah teladan hidup bagi kita, dapat dijadikan acuan dalam hal pengampunan. Dalam sebuah penderitaan puncak di kayu salib, terhadap orang-orang yang menyakiti dan membuatnya luka, menanggung hukuman atas tindakan yang tidak dilakukanNya, Yesus mengucapkan sebuah kalimat yang sangat terkenal. Dia berkata di dalam kesakitan itu dan berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34) Perkataan paradoks itu sangat bertolak belakang dengan kenyataan. Yesus sebetulnya berhak dendam karena, pertama, Dia dihukum bukan karena perbuatanNya melainkan karena perbuatan kita dan kedua, Dia adalah anak Allah yang mampu melampiaskan dendamNya kepada orang-orang yang menyakitiNya. Tetapi, Yesus memilih tindakan lain, mengasihi orang-orang tersebut dengan berdoa kepada Bapa-Nya agar mereka diampuni. Bukankah tindakan tersebut mencerminkan kasih dan pengorbanan yang sejati?

Saya ingat perkataan Mother Theresa sewaktu berkata, “Ketika kita mengasihi dan menjadi terluka karenanya, maka tidak ada lagi luka kecuali kasih!”. Pengampunan yang Yesus nyatakan telah mendeklarasikan kasih kepada orang-orang yang menyakiti dan menyebabkanNya menderita (termasuk kita).

Bahkan jauh-jauh hari sebelum di salib, Yesus mengajar dengan sangat praktis perihal pengampunan tersebut. Hal itu menjelaskan ada sebuah nilai (inner values) di dalam diriNya mengenai betapa pentingnya pengampunan di dalam hidup ini. Yesus ingin memperlihatkan kepada kita bahwa selalma hidup berjalan, kita memang berpotensi disakiti atau bahkan juga menyakiti sesama. Di dalam kejadian itulah, tidak baik membalas kejahatan dengan kejahatan.

Pengampunan adalah jalan penyelesaian terbaik yang menjadi hukum kerajaan surga. Beberapa pengajaran yang penting adalah sebagai berikut.

a.Yesus menghubungkan pengampunan dengan doa. Di dalam Markus 11:25 diajarkanNya, “  Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Tidak ada gunanya kita berdoa munafik, memohon Bapa mengampuni dosa dan kesalahan kita sementara hati kita sendiri masih menyimpan dendam dengan orang lain. Hal ini dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang tidak tulus dihadapanNya. Kemunafikan ini seringkali kita bawa di dalam ibadah dan persekutuan kita dengan Tuhan. Kita bicara atau mengkhotbahkan pengampunan tetapi kita sendiri masih menyimpan dendam kepada orang lain atau sesama pelayan.

b.Yesus menghubungkan pengampunan dengan hukum sebab akibat. Siapa yang mengampuni akan diampuni. Tentu saja sebaliknya, siapa yang tidak mengampuni, maka dirinya juga tidak diampuni. Hal tersebut ditegaskannya di dalam Lukas 6:37 “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni”. Artinya sangat jelas. Pengampunan yang kita berikan kepada orang lain, sekaligus membebaskan dan membuka pintu bagi kita untuk menerima pengampunan dari kesalahan-kesalahan kita sendiri, baik dari sesama terlebih dari Allah. Dalam pengajaran ini, orang yang sulit mengampuni akan sulit juga diampuni!

c.Yesus menghubungkan pengampunan sebagai tindakan untuk tidak terus menerus menghakimi dan menempatkan orang di dalam kesalahannya. Ketidaksediaan mengampuni dapat membuat “mata kita” buta di dalam melihat pertobatan dan buahnya di dalam diri orang lain. Itu sebanya Yesus memberi peringatan di dalam Lukas 17:3, “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia”. Respon kita biasanya adalah, ketika seseorang berdosa, maka kita cenderung terus menganggapnya berdosa sementara ia telah mengalami pemulihan di hadapan Allah. Akibatnya, kita menjadi sulit mengampuni dan terus menghakiminya. Padahal, kita bukanlah Allah. Banyak orang Kristen yang terjebak di dalam sikap seperti ini.

Kita Sudah Diampuni
Di dalam Kolose 3:13, Rasul Paulus menekankan satu pokok yang sangat penting di dalam pertumbuhan rohani orang percaya. Dituliskannya, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian”.

Artinya, sebetulnya sangatlah tidak tepat menyisakan atau menyimpan dendam terhadap orang lain, akibat kesalahannya, sebab kitapun manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan dan dosa. Terhadap diri kita sendiri, Allah sudah mengampuni kita ! Jadi kalau kita menjadi pribadi yang sudah diampuni atau ditebus di atas kayu salib sehingga tidak menjadi manusia yang terhukum, lantas tidak mau mengampuni sesama, kita menjadi orang-orang yang tidak tahu diri! Sudah diampuni malah tidak mau mengampuni.

Kejadiannya persis sama dengan seorang hamba yang memiliki hutang kepada raja dan meminta pengampunan sehingga atas belas kasihan raja tersebut, dia dibebaskan dari hutangnya. Tetapi, dia tidak tahu diri. Kepada orang yang berhutang padanya, dia tidak mau melakukan tindakan seperti diterimanya dari raja. Di dalam Matius 18:28, ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Inilah gambaran kita orang Kristen yang tidak mau mengampuni sesama. Tidak berarti kejadian tersebut berhenti begitu saja. Raja yang mendengar sikap tidak tahu diri si hamba yang jahat ini lantas menangkapnya kembali. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya:
“Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya”. (Matius 18:32-34)

Kesimpulan
Dengan memahami pengajaran Yesus dan tindakan hidupNya serta kasih Allah kepada kita, maka sebetulnya kita mengerti bahwa yang namanya mengampuni, bukanlah sesuatu yang berat dilakukan. Juga bukan merupakan pilihan karena itu merupakan gaya hidup ilahi di dalam diri kita, orang percaya, yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Pengampunan adalah sesuatu yang harus kita lakukan, tanpa memberi syarat apapun (biasanya kita mengampuni dengan bersyarat). Tuhan sendiri tidak menetapkan syarat apapun bagi kita.

Dengan mengampuni maka kita menjadi pribadi yang merdeka. Kenapa? Dendam akan melahirkan kemarahan berkepanjangan di dalam diri kita dan tanpa disadari, dendam itu berbuah kepahitan. Orang yang dendam dan pahit hati adalah orang yang sebetulnya terikat.

Iblis akan menggunakan celah itu untuk menguasai hidup kita. Dengan mengampuni, maka kasih akan mengalahkan kebencian yang ada di dalam diri kita. Dengan sendirinya kita akan mengalami kemerdekaan di dalam banyak hal. Kalau tidak percaya? Coba saja !
——————–
MEMAHAMI OTORITAS

Pendahuluan
Banyak orang memahami bahwa otoritas adalah sebuah bentuk kekuasaan seseorang atas diri orang lain. Pada waktu seseorang memiliki otoritas, misalnya di dalam lingkup pekerjaan tertentu, maka kekuasaan menjadi mutlak miliknya.

Baik itu kekuasaan untuk mengatur, mengontrol atau memutuskan sesuatu. Tentu saja jika digunakan oleh orang yang tidak tepat atau memiliki motivasi yang tidak baik, maka otoritas tersebut tidak berfaedah untuk membangun sebuah sistem malah meruntuhkannya. Bukan hanya itu, otoritas di tangan orang yang tidak tepat, akan dapat disalahgunakan untuk menjajah orang lain, mencari keuntungan sendiri dan menghasilkan perlakuan atau tindakan semena-mena. Betapa baiknya otoritas untuk tujuan yang baik dan betapa buruknya otoritas untuk tujuan yang menyimpang. Otoritas haruslah berada di tangan orang yang tepat, yang mampu menggunakannya secara bertanggung-jawab.

Praktek tangan besi yang menguasai orang lain yang diperlihatkan oleh rezim-rezim militer di dunia, negara-negara komunis yang demikian ketatnya mengontrol informasi dan sangat campur tangan terhadap hak-hak sipil warga negaranya, adalah sebuah contoh buruk penggunaan otoritas pemerintahan. Demikian juga dengan pimpinan perusahaan yang berlaku sekenanya dengan menempatkan diri sebagai penguasa atas karyawan dan staf tanpa mempedulikan kepentingan, usulan ataupun keluhan mereka, adalah contoh buruk mengenai pemanfaatan otoritas. Dari situlah kemudian muncul kata otoriter, untuk menggambarkan pelaksanaan otoritas di dalam diri seorang pemimpin yang berorientasi pada kekuasaan dan pemaksaan kehendak atas diri orang lain. Dalam konteks ini, siapa yang melawan atau berseberangan sikap dengan pemegang otoritas, pasti akan menghadapi konsekuensi hukum.

Bisa jadi, orang mengikuti pemimpin, bukan karena pengaruh yang dimilikinya melainkan karena otoritas di dalam dirinya. Sejarah membuktikan dunia memiliki sejumlah pemimpin negara yang menggunakan otoritasnya dengan pendekatan kekuasaan.

Para pemimpin tersebut menganggap dirinya pemimpin sejati. Kenyataannya, mereka dikuti karena orang-orang takut pada kekuasaan yang dimilikinya. Hitler, Mussolini, Kim Ill Sung, Nikolai C, Saddam Hussein, Kaisar Nero, Fidel Casro, Junta Militer Myanmar, adalah contoh orang-orang yang menempatkan otoritasnya sebagai alat kekuasaan. Mereka pada akhirnya terbentuk menjadi tokoh yang otoriter di dalam menjalankan kekuasaannya.

Lain halnya jika otoritas digunakan dengan cara yang benar. Segala sesuatu pasti akan berjalan dengan baik, di dalam sebuah sistem pemerintahan, pekerjaan atau bahkan lingkup pelayanan. Otoritas bermanfaat untuk membuat semua berada di dalam langgam kerja yang dinamis. Semua orang tunduk dan taat serta tidak bisa bersikap semau-maunya sendiri. Aturan ditegakkan dan menjadi acuan bersama. Pemimpin yang mengendalikan situasi, menggunakan otoritas dengan bertanggung-jawab dan tidak menempatkan diri sebagai alat kekuasaan untuk mempengaruhi orang lain.

Otoritas digunakan untuk membuat semua sistem bekerja dengan baik dan mencapai tujuan sebagaimana ditetapkan bersama. Dalam konteks ini juga berlaku seorang pemimpin diikuti karena otoritas yang dimilikinya dan bahkan karena pengaruh yang dimilikinya. Billy Graham adalah seorang tokoh pemimpin yang memiliki kapasitas pengaruh yang besar di kalangan pengikut bahkan dunia. Demikian juga dengan Marthin Luther King, Jr, Bunda Theresa, Abraham Lincoln dan sebagainya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, baik buruknya otoritas, serta akibat yang ditimbulkannya, tidak ditentukan oleh otoritas itu, melainkan oleh orang yang mendapatkan atau menggunakan otoritas tersebut.

Hubungan Otoritas dengan Pengaruh
Dalam konteks kepemimpinan, seseorang yang menggunakan otoritas sebagai alat kekuasaan, bukanlah pemimpin. Sebab, kepemimpinan adalah pengaruh dan bukan otoritas. Otoritas dapat menghasilkan pengaruh. Sebaliknya, pengaruh dapat menghasilkan otoritas. Perbedaanya adalah, jika pengaruh lahir dari otoritas, maka pengaruh tersebut hanya bersifat sementara selama seseorang memiliki otoritas di dalam dirinya. Orang-orang akan mengikuti dan berada di dalam pengaruhnya semata-mata karena otoritas yang dimilikinya. Akan tetapi, jika otoritas lahir dari pengaruh, maka pengaruh tersebut bersifat jangka panjang. Orang-orang akan mengikuti seorang pemimpin yang memiliki pengaruh yang kuat sekalipun tidak lagi memiliki otoritas tertentu. Ketika seorang pemimpin mampu membangun suatu pengaruh yang kuat di kalangan pengikutnya, maka dengan sendirinya pemimpin itu mendapatkan otoritas dari orang-orang yang dipimpinan-nya.

Otoritas (authority) adalah hal yang berbeda dengan pengaruh (influence). Otoritas memang dapat melahirkan pengaruh. Tetapi ketaatan yang timbul dari pengaruh semacam itu adalah sementara. Pengaruh semacam itu muncul akibat otoritas yang ada di dalam diri seseorang. Saat tidak lagi memilikinya, maka otomatis dirinya tidak lagi berpengaruh pada orang lain. Seorang pemimpin yang diikuti karena otoritas, tidak akan mampu bertahan lama. Pemimpin seperti ini hanya diikuti karena otoritas yang dimilikinya.

Itu sebabnya, pada diktator dunia, melakukan berbagai macam cara untuk mempertahankan dirinya selalu berada di dalam kekuasaan, supaya otoritas tersebut tidak pindah kepada yang lain. Mereka cenderung mempertahankan otoritasnya dengan cara-cara kekerasan, menyebar teror dan intimidasi melalui kekuasaan. Lain halnya jika pemimpin memiliki otoritas akibat pengaruh positif dirinya di lingkungan tempatnya berada. Sekalipun sudah tidak memiliki otoritas dan tidak memiliki jabatan, orang masih dapat mengikutinya dan menjadikannya teladan bahkan mendengar perkataannya. Jika seorang pemimpin memiliki pengaruh yang kuat, orang-orang yang berada di dalam wilayah pengaruhnya, sebetulnya telah memberikan otoritas kepada pemimpin itu dengan sendirinya.

Apakah yang di maksud dengan otoritas?
Banyak orang berbicara memiliki otoritas tanpa memiliki pengertian yang benar mengenai otoritas itu sendiri. Di bawah ini beberapa pengertian otoritas dari sumber-sumber resmi.
Menurut Education Yahoo Dictionary, otoritas mengandung pengertian seperti berikut ini.
a. The power to enforce laws, exact obedience, command, determine, or judge.
b. One that is invested with this power, especially a government or body of government officials: land titles issued by the civil authority.
c. Power assigned to another; authorization: Deputies were given authority to make arrests.
d. An accepted source of expert information or advice: a noted authority on birds; a reference book often cited as an authority. A quotation or citation from such a source: biblical authorities for a moral argument.
e. Justification; grounds: On what authority do you make such a claim?
f. A conclusive statement or decision that may be taken as a guide or precedent.
g. Power to influence or persuade resulting from knowledge or experience: political observers who acquire authority with age.

Kamus American Heritage menuliskan bahwa otoritas adalah kuasa untuk menegakkan hukum, untuk menciptakaan ketaatan, kemampuan memerintahkan atau menghakimi. Kuasa untuk mempengaruhi, mengatur orang lain, otorisasi.
Kamus Barons menyebutkan bahwa otoritas adalah kemampuan untuk mengarahkan supaya pekerjaan dapat terlaksana dengan baik. Otoritas hanya bisa berjalan baik jika seseorang mau menerima arahan tersebut.

Menurut Weber, kata authority diturunkan dari kata bahasa Latin “auctoritas”, biasanya digunakan di dalam hukum Roma untuk menghadapi orang-orang yang menentang pemerintahan atau keputusan pemerintah. Dalam Weberian sociology, authority dianggap sebagai bagian dari kekuasaan. Otoritas dianggap sebagai kuasa yang terlegitimasi dan terlindungi secara hukum untuk menjalankan kekuasaan atas diri orang lain. Otoritas dianggap sebagai hak atau kuasa yang terjustifikasi untuk memerintah, menegakkan hukum bahkan mengadili, yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi atau memerintah orang lain.

Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa otoritas itu berhubungan dengan kekuasaan yang dimilliki seseorang atau sekelompok orang yang memiliki hak, wewenang dan legitimasi untuk mengatur, memerintah, memutuskan sesuatu, menegakkan aturan, menghukum atau menjalankan suatu mandat bahkan untuk memaksakan kehendak.

Melalui pengertian tersebut, otoritas memiliki kaitan yang sangat erat dengan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang.

Ditinjau dari sudut pandang pemilik otoritas dan orang yang berada di bawah otoritas, kedudukan mereka tidak sama. Kedudukan orang yang berada di bawah otoritas berada minimal satu peringkat di bawah orang yang memegang otoritas. Hal itu memberi indikasi bahwa otoritas, seperti di lingkungan militer, lebih merupakan jalur komando daripada hubungan yang sejajar (neben). Bisa saja terjadi, seorang pemilik otoritas, sesungguhnya juga merupakan orang yang berada di bawah otoritas, berdasarkan jalur atau hierarkhi kekuasaan.

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa otoritas, di dalam dunia ini, di dalam konteks apapun, merupakan mandat yang berjenjang. Tidak ada otoritas tertinggi. Kecuali satu, otoritas rohani !
————–
MENGAPA HARUS BERDOA
Percayakanlah masa depanmu yang tidak engkau ketahui itu, kepada ALLAH yang engkau ketahui, melalui doa. (Hudson Taylor)

Mengapa Harus Berdoa?

Mengapa saya harus berdoa jika Tuhan maha tahu? Pertanyaan tersebut menjadi alasan rasional untuk membuat orang percaya enggan berdoa dan merasa tidak perlu berdoa.

Memang Tuhan maha tahu. Tetapi di dalam kemahatahuan-Nya itu, Tuhan butuh kerjasama kita untuk membuat Dia bekerja dan menjawab atau menyediakan setiap keperluan kita. Itulah gunanya kita berdoa. Kita perlu meminta kepada-Nya, meminta seperti anak kepada Bapa. Dia adalah Allah yang senang jika kita terhubung dengan-Nya. Maka doa adalah peluang kita satu-satunya untuk melakukan hubungan itu. Dengan demikian, penting bagi seorang Kristen untuk berdoa dan menjadikannya sebagai gaya hidup. Tanpa doa kekristenan akan kehilangan nafas.

Seringkali saya bertemu dengan orang orang Kristen yang bertanya soal topik tersebut. Sekilas, itu pertanyaan yang agak naif tetapi kenyataannya, banyak orang Kristen yang berdoa akhirnya terjebak di dalam rutinitas dan sikap agamawi. Mereka beranggapan bahwa berdoa adalah sebuah kewajiban agamawi ketimbang kebutuhan pemenuhan spiritualitas manusia. Agaknya, mereka lupa bahwa, doa adalah sebuah hubungan yang dapat menjembatani antara bumi dan Surga dan hubungan itu timbal balik. Tidak searah dari bumi ke Surga saja melainkan juga sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut sebetulnya dapat dipahami bahwa doa, merupakan salah satu bentuk komunikasi kita yang paling efektif dengan pencipta.

Itu sebabnya, agama manapun, sangat menganjurkan umatnya untuk berdoa, dengan satu tujuan, melalui cara seperti itu, hubungan dengan pencipta, bisa terbentuk. Kita orang Kristen bahkan bisa kalah dengan mereka-mereka dari agama lain yang punya jadwal doa sangat ketat.

Doa adalah hubungan
Doa adalah sebuah hubungan. Sebagaimana sesuatu yang ‘dihubungkan’ maka akan tercipta aliran dari hubungan yang berlangsung itu. Ibarat selang air, maka air akan mengalir melalui hubungan tersebut. Seperti carang anggur, maka akan dapat berbuah, jika telah terhubung dengan pokok anggur. Pokoknya, hubungan akan menciptakan aliran. Nah, jadi jika kita berdoa, sebetulnya, kita sedang menyediakan diri kita terhubung dengan Tuhan dan menerima aliran-aliran-Nya di dalam roh kita. Maka kelihatan, orang yang sungguh-sunggu berdoa, akan memiliki hati, sikap dan karakter yang serupa dengan Allah dan bahkan, sifat-sifat kemuliaan Allah dapat melekat banyak di dalam dirinya. Kejadian wajah Musa yang bersinar sewaktu bertemu Allah, adalah salah satu contoh kemuliaan Allah yang telah diimpartasikan ke dalam diri manusia. Coba saja lihat, orang-orang yang suka berdoa, wajahnya terlihat berbeda dengan orang lain.

Kesimpulannya, melalui doa, kita terhubung dengan Allah. Hubungan dengan Allah yang semakin intens akan membuat kita mendekati serupa gambaran-Nya. Kita dapat memiliki mata seperti mata-Nya memandang manusia, kita dapat punya hati seperti hati-Nya mengasihi jiwa-jiwa, dan semua sifat-sifat-Nya dapat melekat ke dalam diri kita. Oleh karena itu, hubungan yang tercipta di dalam doa, hendaknya jangan dilakukan sebagai sebuah kewajiban agamawi belaka. Kalau hal seperti itu tercapai, kita tidak akan mendapat apapun, selain membuang-buang waktu. Tetapi, kalau kita membangun hubungan sebagai sebuah kebutuhan roh, maka kita tidak akan terpaksa berdoa. Doa akan menjadi sebuah kebutuhan jasmani dan terlebih rohani kita, dimanapun dan kapanpun. Semakin kita lama berdoa dan menjadikan doa sebagai sebuah gaya hidup, maka ‘kedahsyatan Tuhan’ akan turun atas kita.

Kita melayani, sebagaimana Dia melayani! Itulah yang disebut dengan urapan. Orang-orang yang banyak berdoa akan menerima urapan yang melimpah ruah, berbual-bual, sehingga dapat dinikmati orang lain. Jamahan Allah terjadi, lawatan Allah ke atas diri orang lain, hikmat dan pewahyuan yang luar biasa adalah hal-hal yang akan dialami oleh orang-orang yang punya jam doa radikal.

Sebuah pengalaman pribadi. Setiap kali berdoa, saya merasa seolah-olah Tuhan di depan saya, memegang pundak dan memeluk seperti seorang Bapa yang penuh kasih. Saya tidak pernah merasakan intensitas pertemuan seperti ini sebelumnya. Pada titik doa tertentu, misalnya berbahasa roh, hubungan itu terasa sangat dekat, seperti menyatu antara saya dengan Dia. Saya merasa memiliki dan tidak ingin melepaskanNya. Serasa tidak mau berhenti berdoa! Sangat dekat dan tidak ada jarak lagi. Saya mampu merasakanNya, menikmatiNya dan hidup di dalamNya. Kalau ini sudah terjadi, saya lupa diri, lupa waktu dan lupa segalanya. Cuma Dia!

Doa melahirkan kuasa
Doa melepaskan kuasa. Tidak mengherankan jika orang-orang yang berdoa, mampu membawa serta di dalam dirinya kuasa Tuhan. Sebab apa? Hidupnya setiap hari adalah hidup yang melekat kepada Tuhan sebab, seperti dikatakan oleh Benny Hinn, siapapun membutuhkan kuasa Tuhan.

Orang yang punya hubungan khusus dengan Tuhan akan membuat Surga terbuka setiap kali dirinya berdoa. Kalau Surga terbuka, maka dirinya akan berada di depan tahta kasih karunia Tuhan. Orang yang seperti ini memiliki kasih karunia yang besar di dalam dirinya karena mata dan hati Tuhan selalu tertuju kepada-Nya. Pada waktu orang ini berdoa, hubungan yang telah tercipta sebelumnya akan mengalirkan apa yang menjadi isi hati orang tersebut kepada Bapa.

Inilah yang disebut dengan doa yang di dengar Tuhan. Ya. Melalui doa, kita bisa dengar-dengaran dengan Tuhan. Kita bisa menyampaikan isi hati kita sehingga Ia mendengar.

Jawaban Tuhan selalu dimulai dari apa yang didengar-Nya melalui mulut anak-anak-Nya. Doa seperti ini selalu menghasilkan kuasa; kuasa untuk menerima jawaban Tuhan. Ya, seorang yang berdoa, mampu melepaskan kuasa Surga ke atas bumi sehingga sesuatu terjadi. Jawaban Tuhan dapat membuat sesuatu terjadi. Pergumulan di jawab, orang sakit disembuhkan dan dipulihkan, lawatan terjadi atas diri orang lain. Itu semuanya berasal dari satu sumber yang sama yakni kuasa. Apa yang diikatnya di bumi akan terikat di Surga. Apa yang dilepaskannya di bumi akan terlepas di Surga. Doa dapat melahirkan kuasa dan membuat kita menjadi orang-orang yang memiliki otoritas. Sungguh luar biasa! Terlebih jika ada kesepakatan (misalnya antara dua orang), maka kuasa akan berlipat kali ganda terjadi. Itu sebabnya kita belajar melihat penginjil penginjil besar dalam sejarah kebangunan rohani, selalu memiliki pendoa-pendoa syafaat pribadi, dimana mereka bersepakat sehingga pelayanan demi pelayanan sang penginjil senantiasa melepaskan kuasa. Tanpa pendoa syafaat pribadi, tidak ada kuasa di dalam pelayanan penginjilan.

Saya ingat Charles Finney yang secara khusus dipakai Tuhan dengan hadirat yang sungguh nyata. Ketika ia memasuki sebuah kota maka kuasa Tuhan bisa dirasakan mencengkeram seluruh kota itu. Kuncinya adalah kehadiran seorang tua, yang selalu berpuasa dan mengikuti kemana Finney pergi menginjil. Ia berpuasa untuk Finney. Ia bersepakat di dalam roh untuk Finney. Ia mengerang dan berdiam dihadapan Tuhan (to stand before the Lord) untuk pelayanan-pelayanan dan kehidupan Finney. Hasilnya? Kuasa yang dahsyat.

Api Roh Kudus yang turun di atas loteng Yerusalem, lahir dari sebuah doa. Yesus memberi pesan kepada murid-murid untuk tidak meninggalkan Yerusalem sampai apa yang dijanjikan itu dikirim.

Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49). Kata diperlengkapi di dalam kalimat di atas artinya sama seperti jika seseorang sedang diberikan jubah. Yesus memberikan janji kepada murid-murid-Nya bahwa mereka semua akan dipelengkapi (baca: akan dipakaikan jubah) dan perlengkapan itu bukan berasal dari manusia melainkan dari tempat maha tinggi. Itu adalah jubah kuasa (the power on high) yang melaluinya, murid-murid akan memiliki kemampuan supernatural di dalam meneruskan misi Yesus di dunia ini.

Di dalam Kisah Para Rasul sudah ada peringatan dini, bahwa murid-murid akan menerima kuasa kalau sesuatu yang datang dari atas itu turun atas mereka. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. (Kisah 1:8)

Perlengkapan kuasa itu ada hubungannya dengan Roh Kudus yang dijanjikan dan terkait dengan pemberitaan Injil sebagai tujuan. Jadi kuasa akan turun jika Roh Kudus turun dan kuasa itu adalah menjadi saksi Kristus sampai ke ujung bumi.

Kelihatannya, murid-murid masih belum mengerti tetapi mereka taat dan mau menanti.

Penantian itu bukan penantian yang dipenuhi dengan diskusi atau perdebatan. Mereka berada di atas loteng Yerusalem untuk berdoa. Untuk berapa lama harus berdoa, tidak ada satupun di antara mereka yang dapat memastikan. Mereka berdoa sampai sesuatu terjadi !
Berdoa sampai sesuatu terjadi, itulah kunci dari revival. Kita harus menggempur sampai surga memberi responnya. Itulah sebabnya kita berdoa. Doa orang percaya dibutuhkan Allah untuk bertindak menggenapi janjinya di dalam kehidupan anak-anak-Nya. Ketika orang-orang yang ada di atas loteng Yerusalem itu berdoa, mereka mendapatkan janji itu. Api turun di atas kepala mereka. Satu orang satu lidah api.

Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, dimana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kisah 1:1-4)

Tidak ada lidah api korporat. Satu lidah api di atas satu kepala. Setiap kepala mendapat lidah api untuk menjadi bagiannya sendiri. Doa melahirkan kuasa. Apa yang diturunkan Tuhan melalui doa bersifat pribadi, bagi setiap orang yang menginginkannya. Maka jelaslah bahwa jawaban doa adalah sebuah jawaban pribadi, yang juga lahir dari sebuah hubungan pribadi. Doa membawa setiap pribadi mengalami kepenuhan kuasaNya dan kuasa itulah yang membuat sesuatu terjadi. Anda butuh kuasa untuk apa?

Jawabannya cuma satu. Kita butuh lidah api di atas setiap kepala kita untuk mendapatkan kuasa. Banyak manfaatnya. Kuasa kesembuhan, kuasa pemulihan, kuasa pertobatan, kuasa berkat, kuasa untuk mematahkan belenggu-belenggu, kuasa menciptakan yang tidak ada menjadi ada dan kuasa pemberitaan Injil. Semuanya merupakan janji Tuhan bagi anak-anak-Nya; yang berdoa!

Doa membuat api tetap menyala Api Roh Kudus bukan hanya untuk satu generasi. Tugas pemberitaan Injil sampai ke ujung bumi tidak akan selesai hanya di dalam satu generasi. Itu sebabnya setiap generasi ilahi yang bergerak di dalam dinamika kuasa, bertanggung jawab membuat api tetap menyala. Tujuannya cuma satu; agar api dapat diteruskan pada generasi berikutnya.

Tugas Yesus yang belum selesai menjadi tanggung jawab generasi berikutnya. Itu sebabnya api harus terus menyala. Apa yang membuatnya tetap menyala? Jawabannya cuma satu, doa!

Tuhan memberi sebuah pesan profetik bagi setiap generasi. Pesan itu sudah ribuan tahun lalu tersegel melalui nabi Yoel. Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. (Yoel 2:28)

Warisan api revival adalah milik generasi muda. Warisan itu bertahan dan terpelihara karena doa. Itu sebabnya kita berdoa, supaya api tetap menyala. Supaya generasi setelah kita dapat menggenapi nubuatan tersebut di waktu sezamannya. Kalimat penting di dalam nubuatan itu adalah di dalam kata ke atas semua manusia. Ini berarti pencurahan akan terus berlangsung sampai semua manusia mendapatkan apa yang menjadi janji Tuhan bagi setiap generasi.

Pencurahan dimulai bagi 120 orang di atas loteng Yerusalem. Kemudian menjamah 3000 orang yang bertobat pada hari pertama Pantekosta. Jumlah itu masih belum menggenapi semua manusia. Waktu terus berjalan. Setiap generasi menjadi bagian dari semua manusia. Ini tidak akan berhenti. Hanya ada satu kali pencurahan dan itu di atas loteng Yerusalem. Saat ini pencurahan terus terjadi. Dari satu waktu ke waktu yang lain. Dari satu generasi kepada generasi yang lain. Sampai semua manusia mendapatkan api-Nya! Sampai Tuhan Yesus datang kembali ke dunia ini. Luar biasa. Doa membuat api terus menyala!

Membangun Manusia Roh
Doa dapat membuat manusia roh kita terbangun. Manusia itu terdiri dari tubuh, jiwa dan roh.  Tetapi saya lebih sering mengajarkan begini. Manusia itu adalah makhluk roh yang memiliki jiwa dan tinggal di dalam daging. (analog orang Batak tinggal di Jawa atau sebaliknya, sipendatang ini tetap memegang teguh adatnya, tdk mesti dia mengadopsi adat di tempat barunya. Roh hrs tetap sbg penguasa, tubuh dan pikiran hanya sekedarnya saja) Nah, seringkali kita membangun ketidakseimbangan. Kita makan dan memberi prioritas pada tubuh fisik kita dengan makan dan minum. Kita berinteraksi dengan orang lain untuk membangun jiwa kita. Bagaimana dengan roh? Kita lupa membangunnya.

Akibatnya, kedagingan kita pengaruhnya lebih kuat dibandingkan roh kita. Padahal seharusnya, roh kitalah yang lebih kuat dari daging. Roh kita yang seharusnya mengendalikan daging. Tapi bagaimana roh bisa mengendalikan daging jika roh itu sendiri lemah? Maka kita harus berdoa!
Doa dapat menjadi pembangun utama manusia rohani kita. Apabila manusia rohani itu kuat, maka semua keinginan daging dapat dicegah dan dikendalikan. Yesus tahu betul hal ini. Ia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Artinya di dalam dirinya ada sifat-sifat daging.

Itu sebabnya, Ia punya gaya hidup doa. Setiap pagi Ia selalu menyepi dan berdoa di sana. Ia membangun manusia rohNya sehingga ia berada di dalam level yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang dilayaniNya.

Manusia roh dapat membuat kita berada di dalam level yang lebih tinggi untuk menghadapi dunia, sistemnya dan orang-orangnya. Kita akan kalah dan kena siasat dunia jika kita menghadapi dunia ini di dalam level yang sama. Alkitab mengatakan bahwa anak-anak dunia lebih cerdik daripada anak-anak terang. Itu sebabnya kita harus mengalahkan kecerdikan mereka saat berhadapan dengan semua sistem dunia. Caranya, jangan dengan daging tetapi dengan kualitas roh. Salah satu cara untuk membangun manusia roh adalah selalu berada di dekat Allah. Mengapa? Allah adalah Roh. Hanya Roh yang bisa terhubung dengan roh. Daging manusia tidak akan bisa terhubung dengan Roh. Itu sebabnya kita berdoa. Roh kita dapat terhubung dengan Roh Tuhan dan di dalam hubungan itu, tanpa disadari, roh kita dibangun!

Roh yang kuat akan mampu berada di dalam level yang lebih tinggi dibandingkan apa yang ada di dalam dunia. Kekuatan roh akan melepaskan kuasa dan hardikan terhadap setiap belenggu, ikatan dan masalah.

Pengalaman pribadi saya membuktikan hal itu. Selalu disetiap sesi doa, saya menggunakan bahasa roh untuk membangun manusia roh. Memang pada awalnya terasa membosankan dan menghabiskan energi. Tetapi setelah berada di dalam dinamika itu, setiap saya saya dapat membangun manusia roh dimanapun dan kapanpun. Saya merasakan sesuatu yang bergolak di dalam roh ketika mulai berdoa. Saya percaya bahwa sewaktu berdoa dengan bahasa roh, maka roh akan menyampaikan keluhan-keluhan yang tak terucapkan kepada Bapa. Ini yang dahsyat. Bahasa roh adalah (salah satunya) bahasa doa. Saya melatih ini sejak saya melayani. Dampaknya, kita menjadi sangat peka.

Nah, kembali ke pertanyaan tersebut di atas. Apa yang perlu kita lakukan saat berdoa? Tentu saja kita harus punya keinginan yang kuat untuk berdoa. Doa yang lahir dari sebuah keinginan yang kuat akan punya kualitas yang dahsyat, seperti sebuah anak panah yang tajam, yang dilepaskan dengan kecepatan tinggi. Saya selalu bergairah untuk berdoa. Keinginan yang kuat adalah sama pengertiannya dengan apa yang Yakub lakukan sewaktu bergumul di tepi sungai Yabok dengan ‘seorang’ malaikat Tuhan. Yakub tidak mau melepaskan malaikat itu sampai ‘mendapatkan’ sesuatu.
Selain keinginan yang kuat, tentu saja kita perlu berkonsentrasi kepada Tuhan. Setiap kali saya berdoa saya membayangkan diri saya berada di hadapanNya dan sinar kemuliaanNya turun atas diri saya. Pada waktu itu terjadi, saya merasakan ada mantel yang sangat tebal yang turun ke atas pundak saya dan bisa saya impartasikan kepada orang-orang yang terhubung dengan saya detik itu juga. Tidak ada gunanya doa tanpa pikiran dan hati yang tertuju kepada Tuhan. Banyak orang berdoa sekedar berdoa dan mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Tetapi pikiran dan hatinya tidak tertuju kepada Tuhan. Ini yang tidak tepat!

Tentu saja percaya adalah kualitas berikutnya. Tanpa rasa percaya, maka doa itu akan sia-sia dan menghabiskan tenaga. Kita harus percaya bahwa Tuhan mendengar kita. Sebab melalui doa, kita sedang melangkah lebih dekat lagi kepadaNya. Bukankah firman Tuhan berkata, bahwa kalau kita mendekat kepadaNya maka Ia akan mendekat kepada kita? Percaya dengan Tuhan dan dengan cara-caraNya adalah kualitas yang harus dimiliki oleh seorang pendoa syafaat. Tetapi yang paling penting dari semua itu adalah beban. Saya memiliki pendoa syafaat pendoa syafaat yang saya tahu punya beban untuk mendukung pelayanan saya dihadapan Tuhan.
Bebanlah yang membuat kita menjadi radikal di dalam Tuhan. Tanpa beban, maka doa-doa kita akan kosong dan meluncur begitu saja tanpa makna. Saya percaya kalimat ini, ditulis oleh Dutch Sheets di dalam bukunya Watchman Prayer, bahwa para pendoa adalah orang-orang yang menciptakan sejarah. Pendoa adalah a history maker. Mereka ada tetapi tidak terlihat.

Mereka dapat menyentuh hati Tuhan. Luar biasa. Jadilah seorang pendoa yang menciptakan sejarah !

Karena Yesus berdoa Yesus menjadi sebuah teladan bagi kita untuk doa. Dia tidak hanya mengajar murid-muridNya bagaimana berdoa tetapi Yesus juga menganjurkan kita untuk berdoa. Bahkan dengan tidak jemu-jemu. Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk enegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. (Lukas 18:1)

Kata harus selalu artinya terus berdoa di sepanjang waktu, kapanpun dan dimanapun. Terlihat sangat jelas bahwa doa adalah ibarat nafas bagi orang percaya dimanapun dia berada. Jangan sampai nafas itu berhenti. Kehidupan langsung berhenti sesaat setelah nafas terhenti. Yesus sendiri punya gaya hidup doa di dalam dirinya. Jadi kita berdoa karena Yesus menghendaki kita berdoa sebagaimana diri-Nya selalu terhubung dengan Bapa-Nya. Perhatikan ayat-ayat berikut ini. Yesus memperlihatkan bahwa Dia juga punya kebiasaan berdoa di waktu-waktu tertentu.

Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. (Mat 14:23) Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa disana. (Markus 1:35)

Yesus selalu menyediakan waktu di sela-sela kesibukan-Nya melayani, untuk berdoa dan terhubung kembali dengan Bapa-Nya. Yesus tahu bahwa apa yang dilakukan-Nya di dunia ini bukan atas kehendak dan kemauan-Nya pribadi melainkan menjalankan kehendak Bapa.
Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. (Yoh 4:34)

Jadi ketika kita berdoa, sebetulnya kita sama seperti yang Yesus lakukan. Kita butuh  terhubung kembali dengan Bapa, untuk menyegarkan roh kita, untuk mengetahui apa yang menjadi rancangan dan kehendakNya bagi kita. Doa akan mengarahkan pikiran, sikap dan tindakan kita ke arah yang selaras dengan apa yang Bapa kehendaki. Keselarasan dengan Surga akan membuat kita mengenali rancangan-rancangan apa yang sedang dipersiapkan bagi kita.

Apakah doa itu?
Apa adalah komunikasi dengan Tuhan. Melalui doa kita dapat berseru meminta pertolongan

Tuhan atau jawaban dari Tuhan atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak kita mengerti. Doa adalah sebuah seruan yang membuka komunikasi dengan Tuhan. Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui. (Yer 33:3)
Apakah artinya komunikasi? Tentu saja sesuatu yang berlangsung dua arah. Manusia bicara Tuhan mendengarkan. Saat Tuhan bicara, manusia mendengarkan. Semuanya hanya didapatkan di dalam doa. Doa bukanlah komunikasi searah, seperti yang selama ini disalah mengerti oleh sebagian dari kita. Terlalu salah kaprah menganggap doa sebagai sarana dimana kita meluapkan semua keluhan-keluhan kita kepada Allah. Doa adalah komunikasi. Ada saat dimana kita bicara kepada Tuhan dan sebaliknya, ada saat dimana kita diam dan mendengar Allah berbicara. Itulah doa! Untuk bicara dan mendengar. Doa akan melatih kita bukan saja terampil menggunakan kata-kata yang indah menyampaikan apa yang menjadi isi hati kita kepada-Nya melainkan untuk peka terhadap suara-Nya saat kita terdiam. Banyak kesalahan doa terjadi saat orang percaya terlalu banyak berbicara sehingga Allah bahkan tidak punya kesempatan untuk menyampaikan isi hati-Nya.

Doa adalah waktu dimana kita mendengar. Itu yang Yesus lakukan di saat-saat pagi hari menjelang matahari terbit. Dia perlu mendengar suara Bapa. Dimensi doa yang seperti ini juga harus kita bawa di dalam kehidupan dan praktek doa yang kita lakukan. Tutup mulutmu dan dengar apa kata Tuhan! Terlihat agak kasar tetapi memang demikianlah adanya. Doa terlalu kita pahami sebagai hubungan searah dari manusia ke Surga. Kita lupa, bahwa doa juga hubungan antara Surga dan bumi, tempat dimana manusia berada.

Hasil dari doa sebetulnya bukanlah jawaban doa, melainkan keintiman. Jawaban doa cuma dampak yang muncul dengan sendirinya saat orang percaya berdoa. Bisa saja Tuhan menjawab ya, tidak atau tunggu. Yang jauh lebih penting adalah keintiman lahir dari sikap doa yang benar di hadapannya. Tujuannya adalah membuat kita dan Allah menjadi satu. Kesatuan itu terlihat dari bentuk komunikasi yang terjadi secara bolak balik antara Allah dengan manusia.
Dengan demikian dipahami bahwa doa bukanlah sarana untuk memuaskan kebutuhan atau kepentingan manusia. Doa lebih merupakan bentuk hubungan dan keintiman antara manusia (hasil ciptaan) dengan Allah, penciptanya. Inilah pencapaian rohani tertinggi yang sebetulnya Allah kehendaki di dalam hidup kita; persekutuan manusia dengan Allah. Orang menyebutnya sebagai intimacy! Doa melahirkan keintiman. Pada waktu keintiman terjadi, kuasa dilahirkan. “Kebetulan” demi “kebetulan” mulai terjadi. Sesuatu yang supernatural menyertai tangan orang-orang yang terangkat kepada Tuhan. Doa adalah sebuah undangan persekutuan dengan Tuhan atas segala situasi dan masalah yang ada. Tiba-tiba kita mendapat semua menjadi baik karena Allah bekerja dengan caranya yang ajaib dan melampaui segala akal pikiran manusia.

Keintiman akan membawa kita pada suasana hati Allah. Manusia memiliki hati Allah, memandang seperti Ia memandang dan bekerja sebagaimana tangan-Nya bekerja.  Dampaknya? Tanda tanda supernatural terjadi. Urapan meningkat dengan kuat. Orang-orang sakit disembuhkan. Lawatan Allah terjadi. Ikatan-ikatan dan belenggu roh jahat diputuskan.

Pesan-pesan dan pewahyuan yang luar biasa tercurah dengan dahsyat. Bukan hanya itu, peperangan dimenangkan, sebab Allah turut bekerja “membela” bagian yang ada di dalam dirinya.

Ketika Musa berdoa dan mengangkat tangannya ke langit (Kel 17:8-13) bangsa Israel memenangkan pertempuran melawan Amalek di lembah Rafidim. Ada kekuatan di dalam diri orang-orang Israel. Seperti itulah yang terjadi saat kita berdoa dan mengangkat tangan untuk memenangkan pertempuran melawan musuh-musuh yang dikirim iblis di dalam kehidupan kita.

Persekutuan dengan Tuhan akan memberi kekuatan baru kepada kita, kekuatan supernatural. Juga ketika Yosua berdoa di lembah Ayalon (Yosua 10:11-12), Allah turut bekerja membela bangsa Israel menghadapi orang Amori. Batu-batu dijatuhkan dari langit dan menewaskan musuh-musuh Israel. Bukan hanya itu. Matahari berhenti di tempatnya untuk memberi waktu bagi Israel menumpas musuh-musuhnya. Sesuatu yang supernatural akan menjadi ciri dari orang-orang yang berdoa dan mengangkat tangan kepada Tuhan. Orang yang berdoa tidak berdiri di depan manusia, melainkan berdiri di depan Allah yang hidup dan maha kuasa.  Maka dari itu, berdoalah !
http://sonnyelizaluchu.blogspot.com/2008/03/mengapa-harus-berdoa.html

Tinggalkan komentar

Filed under Umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s