Kasih Bapa Kepada MilikNya

* ANTING CT

Gara-gara iseng lihat-lihat bazaar Ramadhan di Lobby bawah minggu lalu, jadilah aku membeli anting-anting, tidak tanggung-tanggung, tiga pasang sekaligus karena memang harganya CT alias ceban tiga, sepuluh ribu dapat tiga pasang. Tentu saja CT di sini sama sekali tidak ada hubungan atau sangkut pautnya dengan Christ’s Teens, kursus evangelisasi yang dikelola oleh Sekolah Penginjilan Remaja Shekinah Jakarta.

Hari Rabu kemarin, kukenakan sepasang anting mutiara imitasi saat akan berangkat ke kantor, aku suka dengan modelnya dan rasanya tidak membuat penampilanku menjadi jelek. Sore harinya, seperti biasa aku berjalan santai menyebrang kantor menuju tempat perhentian bis kota . Ketika sampai di dekat tikungan jalan, aku merasa ada sesuatu yang terlempar mengenai dadaku, ku pikir mungkin saja orang iseng melemparkan kerikil, jadi kulanjutkan perjalananku. Barulah ketika sudah duduk di dalam Metromini jurusan Senen aku menyadari bahwa telingaku yang sebelah kanan kok plontos alias tidak ada lagi anting yang sebelumnya menggantung dengan manisnya di sana, tinggal yang sebelah kiri masih ada antingnya. Kemana ya anting itu? Aku mencoba mengingat-ingat dan merasa pasti bahwa antingku terjatuh saat aku merasa ada benda yang terlempar ke dada kananku tadi, dan aku berkata dalam hati, ya sudahlah, kalau barang tersebut memang milik ku maka besok toh akan kutemukan di sekitar tempat itu, dan karena jatuhnya di atas trotoar, lebih mudah lagi aku mencarinya, tak mungkin mutiara yang menempel di anting itu hancur dilindas kendaraan bermotor.

Esoknya, ketika pulang kantor, aku sempat melupakan anting tersebut, sampai saat aku sudah duduk di dalam Bajaj, baru ku ingat, yaaahhh, kenapa ya tadi tidak jalan kaki dulu mencari anting itu, baru memanggil tukang Bajaj. Tapi memang sudah seperti diatur, ternyata Bajaj yang kutumpangi memperlambat lajunya di dekat tikungan karena lampu merah. Langsung saja kuarahkan pandanganku ke atas trotoar untuk mencari antingku yang terjatuh kemarin, dan benar sekali, anting tersebut tergeletak begitu saja di sana. Horeee… kataku dalam hati, Puji Tuhan, antingku yang hilang kemarin bisa kutemukan kembali. Buru-buru kubuka pintu Bajaj dan kukatakan kepada bapak pengemudi bahwa aku turun sebentar untuk mengambil antingku yang kemarin jatuh. Kutinggalkan notebook dan tas yang berisi dompet, HP dsb nya di dalam Bajaj.

Ketika Bajaj sudah melaju aku merenung, gila juga ya, kok tadi aku nekad sekali meninggalkan notebook dan tasku di dalam Bajaj demi sebuah anting yang harganya sepasang tidak sampai 3500 rupiah. Mungkin saking gembiranya menemukan milikku yang sempat hilang sampai lupa dengan barang lain yang lebih berharga, anting itu kalau dilihat dari harga tidak ada artinya, tapi tetap saja adalah milikku yang sudah telanjur kusayangi, bisa jadi bagi orang lain tidak ada artinya sama sekali. Aku meneruskan lamunanku, apa begitu ya yang dikatakan dalam Kitab Suci, satu orang bertobat seisi surga bersukacita. Dan bukankah Yesus juga meninggalkan 99 ekor domba-Nya demi menyelamatkan seekor domba lainnya ?

Sahabat, bisa saja terjadi suatu saat kita merasa begitu tak berharga, sebuah anting yang murahan mungkin masih jauh lebih berharga daripada diri kita sendiri. Kita kerap merasa disisihkan, dicampakkan, ditinggalkan oleh teman-teman, merasa tidak berguna, hidup ini tidak ada artinya, pengap, sesak, tiada lagi harapan. Nah, kalau itu sampai terjadi mungkin ada baiknya mengingat-ingat bahwa kamu dan aku sangat berharga di mata Tuhan, manusia sih sah-sah saja mau mengatakan apapun tentang diri kita tapi yang terlebih penting adalah bagaimana kita di mata Tuhan. Aku percaya bahwa Tuhan selalu membuka mata-Nya, memandang kepada anak-anak-Nya yang telah meninggalkan-Nya, anak-anak yang tidak mau lagi menggubris atau mendengarkan panggilan Bapa-Nya, juga mereka yang merasa tidak layak, merasa menjadi manusia murahan, merasa sangat tidak pantas untuk kembali kepada hati Bapa, dengan sengaja menulikan telinga dan membutakan mata sendiri, tapi toh tetap saja tangan Bapa selalu terbuka lebar menyambuat setiap insan untuk kembali kepada-Nya dan sudah tentu Bapa akan menyediakan yang terbaik bagi kita, bukankah itulah sebabnya Bapa mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan kita, Bapa melepaskan anak-Nya yang amat dikasihi-Nya, yang amat sangat berharga demi keselamatan manusia-manusia seperti kita ini.

Jadi pertanyaannya sekarang adalah, beranikah kita datang menghadap kepada Bapa, mengaku dengan rendah hati bahwa kita adalah orang yang berdosa, penuh cacat dan cela. Semua berpulang kepada diri kita masing-masing, apakah mau tetap dalam situasi penuh dosa, jauh dari pengharapan atau mau berpaling kepada Bapa. Sadarilah bahwa yang ditunggu oleh Bapa adalah reaksi kita, seberdosa apapun diri kita, pasti akan terengkuh oleh Kerahiman Allah yang tiada batasnya, yang perlu kita lakukan hanyalah mengangkat tangan, meminta pertolongan Bapa seraya memohon ampun kepada-Nya. Kalau aku saja yang manusia penuh dosa ini begitu bersuka cita menemukan sebelah antingku, apalagi Bapa di Surga, pasti akan bersorak-sorai menyambut kepulangan anak-Nya; biji mata-Nya. Selamat mereguk Kemurahan Hati Allah, kemurahan Hati Yesus yang Mahakudus, Hati yang penuh dengan belas-kasih dan kerahiman.

* DISIPLIN

salah satu sahabat saya punya masalah, dia teriak dah gak kuat. Mau bilang apa saya? menghibur gak bisa, saya bukan orang yang bisa membujuk seseorang. paling paling saya katakan kuat aja, kalau kamu bilang gak kuat artinya kamu manja. Dia gak bakal ngasi sesuatu yang tidak dapat kamu pikul (1Kor 10:13). Saya jadi teringat waktu kami dikaruniakan anak pertama – tanpa pengalaman, harus mengajar dia. Ajaran pertama adalah membiasakan dia mandiri, tahu jam makan dan lainnya. Bayi yang baru berusian beberapa hari harus kami ‘beritahukan’ jam makan dan seterusnya. Hari hari pertama istriku menangis, walaupun dia bilang sama si bayi – udah malam sayang, waktu nyusu sudah selesai, besok pagi lagi ya. Kami mengangis bersama sama – tidak tega, tapi toh harus kami lakukan, demi disiplin nya dia.

Dan itu menjadi pembicaraan kami diwaktu santai sampai sekarang. Puji Tuhan si anak juga menjadi anak yang disiplin. Dia disiplin untuk hal hal yang membuat hati kami mengangis sekarang, tapi kami tahu itu adalah demi masa depan dia.
Aku yakin Bapa disurga juga menangis melihat anak anakNya bergelut, tapi demi kekuatan yang akan diberikanNya, Dia membiarkanNya. Cukuplah kasih KaruniaKu kepadamu (2Kor 12:9)
Tuhan berkati

Tinggalkan komentar

Filed under Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s