Syalom
Gereja ONKP adalah nama sebuah gereja besar di Nias. Kepanjangan ONKP (Orahua Niha Keriso Protestan = Himpunan Orang Kristen Protestan)anggota PGI yang berdiri pada 16 April 1952 dengan Kantor pusat di desa Tugala Lahomi kecamatan Sirombu Nias Sumatera utara – Indonesia. ONKP kini memiliki 54 resort dengan jumlah jemaat 229 buah gereja yang tersebar diseluruh Pulau Nias, daratan Sumatera dan Pulau Jawa.
Komunitas ONKP terbanyak konsentrasi di wilayah nias barat yang merupakan kawasan yang mengalami akibat terbesar dari hantaman tsunami 26 desember 2004 dan gempa bumi pada tahun 2005. Salah satu pasar sentral ekonomi yaitu kota Sirombu telah hilang dan tinggal kenangan karena tak ada lagi penghuni yang tinggal disana. Hampir seluruh gereja ONKP di Nias mengalami kerusakan ringan sampai hancur total bahkan ada yang hanyut terbawa tsunami seperti gereja di ONKP di Sirombu.
Namun jemaat anak-anak Tuhan tetap dalam sukacita bahwa Tuhan Yesus tetap menyertai anak-anakNya. Haleluya.
Dampak bencana alam tersebut sampai kini bahkan beberapa tahun mendatang masih dialami oleh masyarakat Nias dan dampak yang paling berakibat besar dan berkepanjangan adalah KETIDAKBERDAYAAN perekonomian masyarakat. Penghasilan masyarakat sangat minim sehingga tidak memiliki kemampuan utk membiayai hidup yang layak yang berdampak pada kesehatan dan pendidikan anak-anak. Sangat banyak anak-anak usia sekolah dan kuliah tidak bisa melanjutkan sekolahnya baik di SD, SMP,SMU dan kuliah karena tak ada biaya dari orang tua. Program BRR dan NGO yang ada disana hanya buat segelintir orang saja dan itupun penuh dengan nuansa kurang tidak adil (KKN).
Dampak kemiskinan ini 5 s/d 10 tahun kedepan maka kuantitas generasi Nias yang berpendidikan berada pada koridor yang tidak normal atau ciut hanya sedikit saja jumlahnya. RESIKO YANG HARUS Dicegah mulai dari sekarang.
Pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan solusi agar bisa membiayai kehidupan rumah tangganya seperti biaya hidup sehari-hari yang layak, biaya kesehatan dan pendidikan anak-anaknya.
Sektor pertanian, kerajinan, perdagangan koperasi, perikanan laut adalah yang paling cocok digiatkan dengan cara-cara yang profitable, efektif dan efisien seperti memberikan mentor/contoh yang baik. secara operasional maupun manajemennya.
Dan yang memiliki jaringan luas utk itu di Nias adalah organisasi Gereja. Cuman kualitas SDM dan finansial gereja ONKP juga belum memenuhi utk mengambil peran itu tetapi network dan kuantitas SDM yang dimiliki ONKP merupakan modal yang sangat baik bila ada lembaga-lembaga lain yang memiliki finansial yang mau berpartner utk memberdayakan generasi Nias dari jurang kemiskinan.
Hanya rasa kemanusiaan dari saudara-saudari yang lebih beruntung berkatnya yang sanggup menggerakkan hati utk berbuat sesuatu utk saudara/inya di Nias.
Nias salah satu wilayah basis yang penduduknya mayoritas kristen di Indonesia akan tetap teguh mempertahankan bahwa TERANG INJIL DI PULAU NIAS HARUS TETAP BERSINAR sehingga Nama Tuhan Yesus Kristus dimuliakan.
Biar apapun yang terjadi di Indonesia Pulau Nias adalah tempat dimana salib kristus tetap berdiri kokoh. Dan ONKP salah satu basisnya utk itu perlu diberdayakan, secara khusus utk bidang pendidikan.
Sangat banyak anak-anak Nias yang telah lulus SMU namun tak bisa melanjutkan pendidikannya dan salah satu jurusan favorit mereka adalah belajar di Theologia/kependetaan namun apa daya cita-cita mereka kandas karena faktor ekonomi.
Berapapun jumlah lulusan SMU yang dibutuhkan utk sekolah Theologi, kursus atau bekerja/karyawan/i,kuliah yang sekuler yang cewek atau yang cowok akan terpenuhi segera bila mengontak/menghubungi Bapak Ephorus ONKP (Pendeta Eliakim Waruwu, STh SIp atau Pengurus ONKP lainnya di Nias. Akhir bulan Juli 2008 ini akan datang ke Jakarta 10 orang utk kuliah di salah satu STT.
Hasil sinode besar XI gereja ONKP pada 26 juni-1 juli 2007 maka pengurus ONKP 2007-2012 adalah sbb :
Badan Pengurus Harian (BPH)
Ephorus : Pdt.Eliakim Waruwu STh SIP
Sekretaris jenderal : Pdt.Matias Daeli STh
Bendahara Pusat : Pdt.Yupiter Laia STh
MAJELIS PEKERJA LENGKAP (MPL)
1.Pdt.Eliakim Waruwu STh SIP (Ketua)
2.SNK.Mareko Zebua SH (Wakil ketua)
3.Pdt.Matias Daeli STh (Sekretaris)
4.Pdt.Yupiter Laia STh (Anggota)
5.Pdt.Saradodo Gulo STh (Anggota)
6.Pdt.Saridame Hia STh (Anggota)
7.Sin.Fatana’aro Duha (Anggota)
8.SNK.Fatolosa Halawa (Anggota)
9.SNK.Drs Folo’o Hulu (Anggota)
10.SNK.Itolo’o Gea (Anggota)
11.SNK.Yandel Jaya Daeli (Anggota)
12.SNK.Teori Hia (Anggota)
13.SNK.Toloni laia (Anggota)
14.SNK.Gatinia Gulo (Anggota)
15.SNK.S.Daeli (Anggota)
Badan Pertimbangan Pusat (BPP)
1.Pdt.Bagolo Hia SmTh SIP (Ketua)
2.Pdt.Yosefo Gulo SmTh (Wakil ketua)
3.Sin.Drs SW Hia (Sekretaris)
4.SNK.Sinufa Hia (Anggota)
5.SNK.Damari Hia (Anggota)
Badan Pengawas Organisasi Keuangan dan Administrasi (BPOKA)
1.SNK.Raradodo Daeli SIp (Ketua)
2.SNK.Ya’aro Bu’ulolo (Wakil ketua)
3.SNK.Edison Daeli (Sekretaris)
4.Pdt.Fl.Waruwu SmTh (Anggota)
5.SNK.Yupiter Gulo (Anggota)
Ket : Pdt = Pendeta
Sin = Sinenge = Ketua Majelis
SNK = Satua Niha Keriso = Penatua/Pengerja gereja
Kunjungi dan bergabunglaha di : http://groups.yahoo.com/group/
Terima kasih sudah mengunjungi blog ini
Semoga memberikan manfaat bagi kita semua.
GBU
ya,, semoga kita tetap semngat dalam melayani Tuhan
Saya dengar gereja onkp tahun ini ada mengirim mhsiswa/i ke Bandung, Malang dan Jakarta jumlahnya ada 8 orang.
Kasihan Mahasiswa SETIA..
Berbahagialah Anda jika pada malam hari Anda masih bisa tidur nyenyak tanpa gangguan basah karena hujan atau sengatan nyamuk hutan yang ganas. Berbahagialah Anda jika masih bisa menjalankan ibadah pada siang hari. Berbahagialah Anda jika masih bisa buang air besar ataupun kecil dengan tidak antri bak ular Karena semua ini sedang di alami oleh 500 orang mahasiswa Sekolah Tinggi Theologi di pengungsian mereka di Bumi Perkemahan Cibubur, 400 orang di Wisma Transito Jakarta TImur dan kurang lebih 450 orang di Bekas Kantor Walikota Jakarta Barat. Parahnya penderitaan ini sudah mereka alami selama 2,5 bulan lamanya.
Direktur STT SETIA Pdt. Dr. Matheus Mengentang, M.Th. kepada wartawan di Jakarta (6/10) mengatakan pihaknya sangat-sangat memprihatinkan keadaan anak didik mereka. “Bayangkan di Bumi Perkemahan ini kami tidur di atas tanah dan dibawah tenda sudah dua setengah bulan. Ini menyebabkan kurang lebih lima orang mahasiswi kami harus dilarikan ke rumah sakit karena sakit paru-paru. Sementara di Bekas Kantor Walikota Jakarta Barat ada tiga orang mahasiswa kami yang harus dilarikan ke rumah sakit untuk sedot kotoran di dalam usus mereka karena menahan buang air selama berhari-hari. Mengapa? Karena ketika mereka ingin buang air mereka harus antri sebanyak kurang lebih 50 orang sebab fasilitas MCK di sana sangat minim. Di Wisma Transito kami juga sangat tertekan karena mahasiswa kami dilarang beribadah pada siang hari karena di sana ada mesjid. Padahal kita tahu bersama negara ini menjamin kemerdekaan setiap warga negara untuk beribadah menurut agamanya masing-masing.
Curahan hati Mangentang sangat beralasan karena setelah kasus pengusiran paksa Mahasiswa STT Setia dari kampus sah mereka di Kampung Pulo Kec Makasar Jakarta Timur sekarang ini praktis tidak ada lembaga atau organisasi termasuk pemerintah yang bersedia turun tangan membantu mereka. “ Sejak tanggal 21 September yang lalu Pemda DKI melalui Bapak Bambang dari Kesbang sudah menyatakan bahwa Pemda DKI angkat tangan dalam pembiayaan di Bumi Perkemahan Cibubur. Dia menyuruh kami untuk segera relokasi dan pindah ke bekas Kantor Walikota Jakarta Barat. Padahal di sana sudah ada kurang lebih 450 orang mahasiswa yang sangat memrihatinkan hidupnya karena persolan air bersih, MCK dan berbagai fasilitas lainnya. Nah jika kemudian ditambah lagi dengan 500 orang Mahasiswa dari Bumi Perkemahan Cibubur ini mau jadi apa kami di sana . Sebetulnya kami hanya mengharapkan agar Pemda atau aparat memfasilitasi kami dan menjaga keamanan kami untuk kembali ke kampus. Karena kampus itu adalah sah milik kami. Kami memiliki dokumen yang resmi. Sejak 21 tahun lalu kami sudah tinggal di sana . Mengapa kami harus terusir hanya karena kami ini Kristen?,” tegas Mangentang.
Mangentang kemudian membeberkan bahwa sebelum mereka diusir dari kampus mereka terlebih dulu dikata-katai dengan teriakan yang sangat menyesakkan. “Lewat pengeras suara dari Mesjid dekat kampus yang kami bantu pembangunannya dengan memberikan ratusan sak semen, puluhan truk pasir, besi, dan batu orang-orang itu mengusir kami dan mengatakan beragam kalimat yang tak pantas. Lalu ketika kami diusir paksa dengan kawalan polisi ada tujuh belas mahasiswa kami yang jadi korban mereka antara lain di siram dengan air panas, terkena lemparan batu, dibacok dengan clurit, ditikam dengan samurai, disiram dengan air keras di kepala, wajah dan leher, serta lebam-lebam karena dipukuli dan ditendang berkali-kali. Ini pelanggaran kemanusiaan yang sangat berat. Dan sangat kami sesalkan ini terjadi di Jakarta ibukota Republik Indonesia yang katanya negeri cinta damai dan yang mengalami kami orang Kristen, Mahasiswa Theologi SETIA yang berasal dari daerah yang mayoritas Kristen yakni dari Nias, Kalbar, Alor, Sumba, Mamasa, Atambua, dan Manado ,” kisah Mangentang sambil berurai air mata.
Beberapa isu yang beredar menyatakan sebelumnya pihak Yayasan Setia telah menerima dana milyaran untuk relokasi STT Setia namun ini dibantah Mangentang. “Tidak benar isu itu. Kami pihak rektorat maupun Yayasan yang sudah kami klarifikasi kebenarannya tidak pernah menerima uang itu. Isu itu sangat menyesatkan. Kami sudah cek kepada Almaharhum Ketua Yayasan sebelum beliau meninggal maupun pimpinan yayasan lainnya semua tidak pernah menerima uang,” tangkisnya.
Mangentang kemudian berharap agar semua pihak mendukung mereka kembali ke kampus mereka semula di Kampung Pulo Makasar Jakarta Timur. “Semua karena alasan kemanusiaan semata. Saya selaku Direktur tidak tega melihat penderitaan mahasiswa kami lebih lama lagi. Cukup sudah. Karena Pemerintah dalam hal ini Gubernur dan Wakil Gubernur bahkan Presiden sendiri telah memberikan pernyataan bahwa seusai lebaran kami boleh kembali lagi ke kampus kami. Nah sekarang sudah selesai lebaran jadi kami menagih janji itu,” katanya. (Hendra)
Kronologi Peristiwa Penyerangan terhadap Mahasiswa dan Kampus Sekolah Tinggi Theologi Injili Arastamar (SETIA) di Jakarta 25-27 Juli 2008
Mesjid Dijadikan Arena Provokasi
Waktu dan tanggal kejadian : JUMAT 25 Juli 2008
Pada hari Jumat 25 Juli 2208 jam 21.00 seorang mahasiswa Setia, Junius Koly berasal dari Alor NTT keluar dari Kampus Setia menuju ke Asrama Putra yang terletak di RT 04/RW 04 Kampung Pulo Pinang Ranti Makasar Jaktim. Ia berjalan kaki melintasi Gang Melinjo yang memisahkan Kampus Setia dan Asrama Putra. DI tengah jalan ia melihat seekor tikus melintas secara spontan ia mengambil sandal yang dipakainya dan melempar tikus itu. Sandal itu masuk secara tidak sengaja ke halaman rumah seorang warga yang ada di gang itu. Saat Junius akan mengambilnya tiba-tiba ia diteriaki maling. Sehingga dalam waktu singkat warga berkumpul dan menganiaya Junius. Akhirnya Junius diserahkan ke pihak kepolisian.
Pada hari Sabtu 26 Juli 2008 setelah diperiksa Junius tidak terbukti bersalah sehingga dikembalikan ke pihak STT SETIA. Jam 10 malam massa melempari asrama putra STT Setia lalu dari mesjid terdengar ajakan berjihad melawan Setia.
Hari Minggu 27 Juni 2008 Pukul 01.00 massa merusak dan menyerang asrama putri sambil berteriak Allahu Akbar, Allahu AKbar bahkan mereka mencoba membakar asrama tersebut. Penyerangan ini menyebabkan mahasiwi SETIA sangat ketakutan dan trauma mereka berteriak-teriak dan berlarian kesana kemari.
Selanjutnya pada Pukul 03.00 massa bergerak ke Kampus Utama SETIA dengan membawa beragam senjata tajam dan batu sambil berteriak-teriak bahwa mereka akan berjihad melawan Setia. Tapi saat itu pihak mahasiswa tidak melakukan perlawanan apa pun. Mereka bahkan mendoakan agar massa itu sadar akan kejahatan yang sedang mereka lakukan terhadap sesama dan agar mereka diberkati oelh Tuhan. Hingga pagi hari ribuan massa telah datang dan memblokir semua akses ke Kampus SETIA. Hal ini menyebabkan mahasiswa tersandera dan kelaparan. Pagi hari pihak kepolisian tampak bisa meredakan suasana dan mengendalikan massa .
Namun Pukul 21.30 dari arah mesjid terdengar lagi provokasi agar massa bersiap untuk berjihad. Sementara pihak polisi yang sudah tiba dilokasi sejak pagi itu tidak dapat berbuat apa-apa malahan menyuruh mahasiswa untuk waspada dan menghindari serangan.
Senin 28 Juli 2008 Pasukan Brimob dari Polda Metro Jaya bukannya menangkap para pelaku penyerangan dan provokator malahan memaksa Mahasiswi Setia untuk dievakuasi. Saat evakuasi terjadi mahasiswi dihujani dengan batu-batu besar sehingga membuat badan dan kepala mereka berdarah-darah sementara aparat polisi tidak menghardik penyerang atau mengusir mereka. Hal sama juga dialami para mahasiswa ketika mereka dievakuasi dari tempat kejadian itu. Mereka ditombak dengan bambu runcing, dipukuli, dibacok dan diclurit serta di siram dengan air keras. Hingga saat ini ada seorang mahasiswa Setia yang masih berada di rumah sakit dalam kondisi kritis karena kepalanya terkena siraman air keras.
Pada hari minggu itulah hingga dini hari pihak STT Setia terpaksa meninggalkan kampus mereka yang sudah didiami selama 21 tahun lamanya. Mereka terusir dari tanah dan bangunan yang sah yang mereka miliki. Mereka diejek, dihina, ditendang, dibacok hanya karena mereka Kristen. Mereka tidak lagi dianggap sebagai warga negara yang sah yang sama hak dan kedudukannya dimata hukum dan pemerintahan. (Seperti yang dituturkan Pdt Matheus Mangentang dan Pdt Edison Djama kepada Hendra Kasenda)
17 Korban STT Setia
(Mereka memilih mengalah dan membalas aniaya yang mereka alami dengan doa dan kepasrahan karena mereka adalah para Hamba Tuhan, Calon Pendeta dan Calon pendidik. Sebetulnya kalau mau mereka bisa saja mereka membalas tapi mereka memilih meniru apa yang Yesus katakan, “Jika ada yang menampar pipi kirimu berikanlah pipi kananmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”)
1. Ardian asal Sumba terkena siraman air keras di pundak kanan
2. Marthen Lalo asal Sumba terkena lemparan batu di pelipis kanan dan dipukuli di kepala bagian belakang
3. Gabriel Besi asal Atambua dibacok dengan clurit di bagian kepala dan kedua tangan
4. Jupiter asal Atambua ditikam dengan samurai di pundak dan ditikam dengan bambu runcing di perut
5. Lukas Asal Manado disiram dengan air keras di kepala, wajah dan leher
6. Yunus asal Alor disiram dengan air keras di leher, bahu, dan terkena lemparan batu
7. Ramaeli asal Nias luka di wajah dan kepala akibat lemparan batu
8. Disiplin asal Nias luka bakar di bahu karena terkena siraman air keras
9. Demaus asal Luwu Sulawesi luka kepala akibat lemparan batu
10. Henok asal Sumatra Utara Luka tusukan di leher akibat bambu runcing
11. Kristian asal Mamasa seluruh badan terkena siraman air keras
12. Alfred asal Kalbar luka-luka akibat lemparan batu
13. Gabriel Umbi asal NTT luka memar pada paha kiri akibat tendangan berkali-kali
14. Oktavianus asal Maluku luka di punggung akibat ditendang berkali-kali
15. Yohanes asal Sumba luka di kepala akibat pukulan benda keras
16. Daniel asal Sumba luka akibat pukulan kayu dan pecah bibir
17. Salmon asal Sulut luka di pelipis
SERUAN KEPADA SELURUH ANAK BANGSA
1. Pemerintah RI
Tolonglah lindungi dan jamin keselamatan dan keamanan seluruh warga masarakat Indonesia tanpa memandang agama, suku atau predikat apa pun.
2. Aparat Kepolisian
Tolonglah usut pelaku penganiyaan, penyerang dan provokator yang menyebabkan 1400 orang harus menderita selama berhari-hari. Tolonglah jangan takut dengan massa yang menggunakan atribut agama tertentu dan mengatasnamakan Allah untuk melakukan tindakan anarkis
3. Media Massa
Tolonglah menyampaikan pemberitaan dengan objektif sesuai dengan kenyataan di lapangan. Sebagai contoh kasus pada saat penyerangan itu seluruh Media Nasional hanya mengungkapkan bahwa peristiwa itu merupakan bentrokan kecil antara masyarakat dan mahasiswa SETIA. Padahal yang benar peristiwa itu merupakan penyerangan, penganiyaan, penyiksaan dan pengrusakan yang dengan sengaja dilakukan oleh massa beratribut agama ISLAM yang semesinya Rahmatan Lil Alamin.
4. Masyarakat Kristen
Tolonglah doakan Setia karena hingga hari ini kami masih dalam kondisi yang sangat memprihtinkan
5. Organisasi Kristen
Tolonglah lebih aktif membela umat dan bersuara dengan nyaring menjadi corong yang menggaungkan kelangsungan hidup damai, pelakuan yang adil dan hidup penuh cinta kasih sesama anak bangsa
6. Masyarakat Kampung Pulo yang Menolak Setia
Tolonglah bermurah hati memberikan kesempatan bagi SETIA untuk mempersiapkan kampus baru di tempat lain namun sekarang ini izinkan SETIA kembali beraktifitas dulu sambil menunggu kampus baru selesai dibangun
7. Seluruh anak bangsa
Marilah kita bergandeng tangan bersama membangun bangsa ini. SETIA telah turut membangun bangsa dengan menyediakan pendidikan bagi para guru agama agar anak-anak Indonesia beraklak baik di masa depan. Marilah buang kebencian dan kenakanlah cinta kasih diantara kita sesame anak bangsa.
Pengirim:
Hendra K.
hendra_k2000@ yahoo.com
Mau belajar bahasa Nias ada di
http://www.watchtower.org/ni/index.html
SIAPAKAH SAYA?
=====================
1. Saya adalah garam dunia (Matius 5:13)
2. Saya adalah terang dunia (Matius 5:14)
3. Saya adalah anak Allah ( Yohanes 1:12)
4. Saya adalah ranting dari pokok anggur yang benar sebuah saluran kehidupan Kristus (Yohanes 15:1,5)
5. Saya adalah sahabat Kristus (Yohanes 15:15)
6. Saya dipilih dan ditunjuk oleh Kristus untuk menghasilkan buah (Yohanes 15:16)
7. Saya adalah hamba kebenaran (Roma 6:18)
8. Saya adalah hamba Allah (Roma 6:22)
9. Saya adalah anak Allah; Allah adalah Bapa saya secara rohani (Roma 8:14,15; Galatia 3:26; 4:6)
10. Saya ini ahli waris bersama dengan Kristus, ikut menikmati warisan yang diperoleh Kristus (Roma 8:17)
11. Saya ini bait-tempat tinggal-Allah. Roh Allah dan kehidupan Allah ada di dalam saya (1 Korintus 3:16; 6:19)
12. Saya dipersatukan dengan Tuhan Yesus sehingga menjadi satu roh dengan Dia (1 Korintus 6:17)
13. Saya adalah anggota tubuh Kristus (1 Korintus 12:27; Efesus 5:30)
14. Saya ini ciptaan baru (2 Korintus 5:17)
15. Saya sudah diperdamaikan dengan Allah, dan saya ini dipercaya untuk melaksanakan pelayanan perdamaian (2 Korintus 5:18-19)
16. Saya ini anak Allah dan satu di dalam Kristus (Galatia 3:26,28)
17. Saya ini ahli waris Allah karena saya adalah anak Allah (Galatia 4:6-7)
18. Saya ini orang kudus (Efesus 1:1,2; 2 Korintus 1:2; Filipi 1:1; Kolose 1:2)
19. Saya ini buatan Allah – hasil karya Allah – yang diciptakan di dalam Kristus untuk melaksanakanNya (Efesus 2:10)
20. Saya ini sesama warga surga bersama dengan anggota lain dalam keluarga Allah (Efesus 2:19)
21. Saya ini tawanan Kristus (Efesus 3:1; 4:1)
22. Saya ini di dalam kebenaran dan kekudusan (Efesus 4:24)
23. Saya ini warga negara surga, sekarang ini saya sudah mendapat tempat disurga (Filipi 3:20; Efesus 2:6)
24. Saya ini tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah (Kolose 3:3)
25. Saya ini pertanyaan kehidupan Kristus sebab Kristus adalah kehidupan saya (Kolose 3:4)
26. Saya ini pilihan Allah, kudus dan sangat dikasihi (Kolose 3:12; 1 Tesalonika 1:4)
27. Saya ini anak terang dan bukan anak kegelapan (1 Tesalonika 5:5)
28. Saya ini mendapat bagian dalam panggilan surgawi (Ibrani 3:1)
29. Saya ini beroleh bagian dalam kehidupanNya (Ibrani 3:14)
30. Saya ini salah satu batu hidup Allah, yang di dalam Kristus sedang dipergunakan untuk membangun rumah rohani (1 Petrus 2:5)
31. Saya ini umat Allah yang terpilih, imamat rajani, bangsa yang kudus,dan umat kepunyaan Allah sendiri (1 Petrus 2:9-10)
32. Saya ini pendatang dan perantau di dalam dunia ini dan dunia ini hanya tempat tinggal saya yang sementara (1 Petrus 2:11)
33. Saya ini musuh iblis (1 Petrus 5:8)
34. Saya ini anak Allah dan saya akan menjadi serupa dengan Kristus pada waktu Ia datang kembali (1 Yohanes 3:1-2)
35. Saya dilahirkan dari Allah, si-jahat – iblis itu tidak dapat menyentuh saya (1 Yohanes 5:18)
36. Saya ini bukan ‘Aku adalah Aku’ yang maha besar itu (Keluaran 3:14; Yohanes 8:24,25,58), tetapi oleh karena kasih Allah, saya ada sebagaimana saya ada sekarang ini (1 korintus 15:10)
Karena Saya Berada Di Dalam Yesus Kristus, Dan Oleh Karena Kasih Karunia Allah …
37. Saya dibenarkan – sepenuhnya diampuni dan dijadikan orang benar (Roma 5:1)
38. Saya mati bersama dengan Kristus, dan mati terhadap kuasa dosa yang mau menguasai kehidupan saya (Roma 6:1-6)
39. Saya dibebaskan untuk selamanya dari kutuk dosa (Roma 8:1)
40. Saya ditempatkan di dalam Kristus hanya oleh karena perbuatan Allah (1 Korintus 1:30)
41. Saya sudah menerima Roh Allah di dalam kehidupan saya supaya saya mengetahui hal-hal yang diberikan Allah secara cuma-cuma kepada saya (1 Korintus 2:12)
42. Saya sudah memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2:16)
43. Saya sudah dibeli dengan harga tunai, saya bukan milik saya lagi, saya ini milik Allah (1 Korintus 6:19-20)
44. Saya sudah ditetapkan, diurapi dimateraikan oleh Allah di dalam Kristus, dan kepada saya sudah diberikan Roh Kudus sebagai materai yang menjamin warisan saya (2 Korintus 1:21-22; Efesus 1:13-14)
45. Karena saya sudah mati, maka saya tidak lagi hidup bagi diri saya sendiri, saya hidup bagi Kristus (2 Korintus 5:14-15)
46. Saya sudah dibernarkan (2 Korintus 5:21)
47. Saya sudah disalibkan bersama dengan Kristus dan sekarang bukan lagi saya yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam saya. Kehidupan yang sekarang sedang saya jalani ialah kehidupan Kristus (Galatia 2:20)
48. Saya sudah diberkati denga segala berkat rohani (Efesus 1:30)
49. Saya sudah dipilih di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan supaya menjadi kudus dan tak bercacat dihadapan Kristus (Efesus 1:4)
50. Saya sudah ditebus dan diampuni, saya menerima rahmat dan kasihNya yang besar.
51. Saya sudah dihidupkan bersama dengan Kristus (Efesus 2:5)
52. Saya sudah dibangkitkan dan diberi tempat bersama-sama dengan Kristus disurga (Efesus 2:6)
53. Saya dapat langsung menghadap Allah oleh Roh Kudus (Efesus 2:18)
54. Saya mendapat jalan masuk kepada Allah dan dapat menghadap Dia dengan sepenuh keberanian dan kepercayaan (Efesus 3:12)
55. Saya sudah dilepaskan dari kuasa iblis dan dipindahkan ke dalam kerajaan Kristus (Kolose 1:13)
56. Saya sudah ditebus dan semua dosa saya sudah diampuni. Hukuman dosa yang seharusnya saya tanggung sudah dihapus (Kolose 1:14)
57. Saya ada di dalam saya (Kolose 1:27)
58. Saya dengan kokoh berakar di dalam Kristus dan sekarang sedang dibangun diatas Dia (Kolose 2:7)
59. Saya sudah disunat secara rohani. Diri saya yang lama, yang belum lahir baru, sudah dilenyapkan (Kolose 2:11)
60. Saya sudah disempurnakan di dalam Kristus (Kolose 2:10)
61. Saya sudah dikuburkan, dibangkitkan dan dihidupkan di dalam Kristus (Kolose 2:12-13)
62. Saya sudah mati bersama Kristus dan saya dibangkitkan bersama Kristus. Kehidupan saya sekarang tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah. Kristus adalah kehidupan saya (Kolose 3:1-4)
63. Saya sudah diselamatkan dan dikhususkan oleh karena maksud dan kasih karunia Allah (2 Timotius 1:9; Titus 3:5)
64. Karena saya sudah dikuduskan dan sudahsatukan dengan Dia yang menguduskan saya. Ia tidak malu untuk mengakui saya sebagai saudaraNya (Ibrani 2:11)
65. Saya mempunyai hak untuk datang dengan berani menghadap takhtah Allah dan mendapatkan belas-kasihan serta kasih karunia pada waktu saya membutuhkan pertolongan (Ibrani 4:16)
66. Saya sudah diberi janji-janji yang luar biasa oleh Allah, dan karena janji-janji itu saya ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Petrus 1:4).
Ungkapan Miring tentang Orang Nias
Friday, January 2nd, 2009
Tak jarang kita mendengarkan ungkapan-ungkapan yang menyebutkan bahwa “orang Nias” itu adalah pendendam, pencemburu (cemburu melihat orang lain maju), pembunuh, dan berbagai macam kata sifat negatif lainnya yang digunakan untuk menggambarkan orang Nias. Karena sifat-sifat seperti inilah, maka sebagian orang berpendapat bahwa orang Nias tidak bisa maju.
Ungkapan-ungkapan negatif tersebut dikemukakan bukanlah tanpa alasan. Di Tanah Karo (Kabanjahe) misalnya, beberapa orang Nias terlibat dalam kasus pembunuhan. Maraknya kasus perampokan dan pembunuhan beberapa tahun yang silam di P. Nias, sehingga muncul istilah “daerah 05 (kosong lima)” – yakni suatu istilah/angka dalam erek-erek TOGEL (Toto Gelap) untuk menyebut perampok – turut memperburuk image tentang orang Nias.
Sangat disayangkan bahwa pernyataan-pernyataan negatif dan berbau pesimistis tersebut justeru muncul (untuk tidak mengatakan disebarkan/dipromosikan) oleh putera/i Ono Niha sendiri. Saya menyebutkan “disayangkan” sebab tanpa disadari, tatkala orang Nias sendiri mengatakan bahwa orang Nias itu pencemburu, suka menyebar fitnah, dan sejenisnya, pada saat yang sama mereka juga telah melakukan hal yang sama. Dan hal ini seakan mengaffirmasi image buruk tentang orang Nias sendiri.
Bila demikian muncul pertanyaan, apakah putera/i Nias harus menutupi/mendiamkan sifat-sifat (perbuatan) buruk dari segelintir orang-orang Nias yang jelas-jelas tampak di depan mata dan didengar oleh telinga kita? Jawabannya adalah tidak. Tulisan ini tidak bermaksud mengajak sesama orang Nias untuk menutupi hal-hal buruk yang pernah terjadi atau sifat-sifat negatif dari segelintir orang Nias. Tulisan ini hendak mengajak kita semua untuk melihat apakah sifat-sifat Negatif seperti disebutkan di atas, melekat pada atribut “Orang Nias”?
Generalisasi Tergesa-gesa
Pernyataan-pernyataan seperti: orang Nias adalah pendendam, orang Nias adalah pencemburu, dan sejenisnya, merupakan generalisasi tergesa-gesa yang menghasilkan suatu gambaran negatif tentang semua orang yang mempunyai asal-usul dari Pulau Nias. Lebih parah lagi, ungkapan-ungkapan seperti itu seakan-akan telah menjadi identitas atau kepribadian suatu daerah (yakni Nias).
Berkaitan dengan ilmu logika, pernyataan yang sifatnya generalisasi dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru. Misalnya: Semua siswa/i SMA Xaverius rajin belajar. Andi adalah siswa SMA Xaverius, maka Andi rajin belajar. Dalam contoh ini, kesimpulan bahwa Andi rajin belajar seakan-akan otomatis sebab ia SMA Xaverius. Padahal mungkin saja Andi ini termasuk salah seorang siswa yang malas belajar, suka bolos dari sekolah. Hal yang sama dapat juga diterapkan dalam pernyataan-pernyataan negatif tentang orang Nias. Misalnya: orang Nias itu adalah pendendam. Rosa adalah orang Nias, maka Rosa adalah pendendam. Kesimpulan bahwa Rosa adalah pendendam dalam contoh ini, juga merupakan kesimpulan yang bisa keliru, sebab mungkin saja Rosa justeru mempunyai sifat yang mau memahami dan mengampuni orang lain. Dengan demikian jelaslah bahwa sesungguhnya sifat-sifat negatif tersebut di atas tidak melekat pada atribut “orang Nias”.
Pemisahan antara Inividu dan Atribut Kedaerahan
Berbicara tentang sifat-sifat (baik, jahat, cantik, jelek, dendam, cemburu, dll) berkaitan erat dengan kepribadian individu. Dalam istilah psikologi, kepribadian biasanya diartikan sebagai kesatuan utuh dan dinamis dari berbagai karakter fisik, mental, moral dan sosial dalam diri seorang individu, sebagaimana tampak di depan orang lain (J. Drever, A Dictionary of Psychology, 1976, Penguin Books, hlm. 208). Kepribadian ini memperlihatkan kekhasan seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Oleh karena itu, kepribadian seseorang dapat juga dianggap sebagai identitas seseorang. Karena kepribadian itu bersifat dinamis, maka kepribadian seseorang tidak pernah berhenti sebagai kepribadian yang mati. Dengan kata lain, seorang pribadi masih akan terus mempribadi selama ia masih hidup. Persona akan terus-menerus mengalami proses personisasi.
Karena keunikan/kekhasan masing-masing pribadi inilah, maka karakter masing-masing pribadi juga tidak selalu sama. Dalam konteks inilah pernyataan yang melekatkan sifat-sifat negatif pada atribut “orang Nias” tidak dapat dibenarkan. Menurut data statistik Kabupaten Nias, jumlah penduduk Kabupaten Nias hingga tahun 2004 (belum termasuk Kabupaten Nias Selatan) adalah 433.350 orang (bdk. Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias, Nias dalam Angka 2004, hlm.43-56). Tentu saja, jumlah penduduk Kabupaten Nias tersebut masing-masing mempunyai keunikannya tersendiri. Karena itu tidaklah serta-merta ketika saya – sebagai salah seorang dari orang Nias – suka minum tuak maka orang Nias yang lain juga otomatis suka minum tuak.
Dalam hal ini dibutuhkan suatu pemilahan antara karakter dari setiap individu dengan atribut kedaerahan (orang Nias). Bukankah sifat-sifat buruk, dendam, cemburu, dsb, juga kita temukan tatkala kita berhadapan dengan orang lain yang berasal dari suku luar Nias?
Penutup: Himbauan dan Seruan
Tak dapat disangkal bahwa pernyataan-pernyataan negatif tentang orang Nias sudah menyebar luas dan (kalau boleh dikatakan) telah membentuk opini publik (perhatikan beberapa pernyataan dalam diskusi yang ada di http://www.niasisland.com). Dengan memasukkan sifat-sifat individu dalam konteks daerah, maka itu seakan-akan menjadi ‘kepribadian’ (ciri/karakter) daerah juga.
Berkaitan dengan itu terbersit suatu harapan, himbauan sekaligus seruan agar sifat-sifat yang baik, yang telah diwariskan oleh leluhur masyarakat Nias di dalam fondrakö lebih dikembangkan lagi. Dengan itu, image tentang “orang Nias” bukan lagi melulu negatif tetapi lebih bersifat positif.
“Sejarah Kedatangan Teuku Polem di Gunungsitoli Pulau Nias”
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, wilayah
kesultanan Aceh di bagi dalam beberapa sub wilayah pemerintahan.
Wilayah bagian Barat saat itu berkedudukan di Preumbeue Meulaboh dan
sebagai kepala pemerintahannya adalah Teuku Cik dari Meuraksa Kutaraja
(Banda Aceh) Mukim XXVI.
Teuku Cik mempunyai 2 putra dan 1 putri, yaitu: Teuku Polem, Teuku
Imeum Balo dan Siti Zalikha. Teuku Polem sebagai anak tertua diangkat
menjadi pembantu ayahnya di bidang keamanan sedangkan Teuku Imeum Balo
ditugaskan di bidang keagamaan. Teuku Polem sering memimpin langsung
operasi pengamanan sepanjang pantai barat hingga ke Natal yang sering
diganggu oleh perampok dan bajak laut.
Suatu ketika saat memimpin operasi dan kembali ke Tapak Tuan, Teuku
Polem mendapat kabar duka bahwa ayahandanya telah wafat, dan berhubung
Teuku Polem tidak berada di Meuloboh maka adiknya Teuku Imeum Balo
diangkat sebagai pejabat sementara. Namun sekembalinya Teuku Polem di
Meulaboh, beliau menolak diangkat menjadi pengganti ayahandanya dan
menyerahkan tampuk pemerintah kepada adiknya yang telah diangkat
menjadi pejabat sementara.
Teuku Polem justru melanjutkan tugasnya sebagai pemimpin keamanan.
Kira-kira tahun 1642 M. Teuku Polem meninggalkan Meulaboh dengan 5
armada (Pincalang/ Kapal Layar) dan memutuskan hijrah dari Meulaboh dan
bertekad bulat dimana menjumpai daratan maka disitulah tanah tumpah
darahnya serta anak cucunya.
Armada ini akhirnya tiba di Pulau Nias dan berlabuh persisi sekitar
Luaha Laraga Idanoi. Setelah menyusuri Luaha Laraga hingga ke hulu,
rombongan Teuku Polem bertemu dan diterima dengan baik oleh penguasa
daerah tersebut, yaitu Balugu Harimo. Daerah kekusaan Balugu Harimo ini
bernama Onozitoli Laraga. Balugu Harimo mempunyai 3 orang putra dan 1
orang putri, yaitu:
1. Balugu Mangaraja Fagowa Harefa
2. Balugu Kaowa Kahemanu Harefa
3. Kahomo Harefa
4. Bowoanaa Harefa
Setahun setelah bermukim di Onozitoli Laraga, Teuku Polem menikahi
putri Balugu Harimo; Bowoanaa Harefa. Sehingga putrinya ini resmi
menjadi Istri Teuku Polem dan memeluk agama Islam. Saat itu kepercayaan
yang dianut masyarakat Nias masih animisme dan dinamisme.
Setelah Bowoanaa memeluk Islam, keponakannya (anak dari Mangaraja
Fagowa Harefa) yang bernama si Acah Harefa memeluk Islam. Keturunannya
hingga saat ini adalah penduduk kampung Miga Oritabaloho Dahana
Kecamatan Gunungsitoli.
Keturunan dari Kahomo Harefa juga mengikuti jejak yang sama dan
keturunannya sekarang sebagian tinggal di Desa Mudik Kec. Gunungsitoli
dan sebagain di Sifahandro Kec. Tuhemberua.
Sedangkan keturunan dari Balugi Kaowa Kahemanu Harefa kebanyakan
memeluk agama Kristen Protestan dan keturunannya berdomisili di Lasara
Hili Oritabloho Dahana, namun sebagian ada yang memeluk Islam dan
selanjutnya berdomisili di Desa Mudik dan Sifahandro.
Pada tahun 1644 Balugu Harimo beserta keluarganya juga Teuku Polem
pindah dari Onozitoli Laraga ke arah lembah sebuah sungai (Kali Nou)
tepatnya di Dahana. Di daerah ini sebelumnya telah bermukim saudara
Balugu Harimo yaitu Tua Laowo. Selanjutnya pada tahun yang sama,
anak-anaknya Balugu Kaowa Kahemanu dan Kahomo pindah dari Dahana ke
Lasara. Sedangkan Teuku Polem sekeluarga pindah ke Siwulu atau Geri’i
(atua si lo niha/ hutan tak berpenghuni), yang sekarang ini adalah
wilayah Desa Mudik.
Selama bermukim di Siwulu, Teuku Polem dan istrinya Bowoanaa Harefa
dianugrahi seorang Putra bernama Simeugang (lahir 1653) dan Siti Zohora
(lahir tahun 1654). Selanjutnya beberepa kerabat Teuku Polem ada yang
kembali ke Aceh dan ada juga yang menuju arah Selatan dan Utara Pulau
Nias dan membuka pemukiman baru. Sejak itu lambat laun mulailah ramai
berdatangan pedagang-pedagang dari Aceh, Natal dan Sumatera Barat.
Selama kurang lebih 11 tahun bermukim di Siwulu, Teuku Polem
selanjutnya berpindah lagi ke dekat Heleduna pada tahun 1655, dan
sebagian kerabatnya ada yang memilih menetap di Siwulu/ Geri’i.
Kemungkinan besar Heleduna dibuka sebagai pemukiman baru, karena disitu
terdapat sumber mata air yang lebih besar dan lokasinya juga tidak
terlalu jauh dengan pemukiman saudara-saudara iparnya di Lasara.
Pada tahun 1674 datang serombongan utusan Teuku Imeum Balo (adik Teuku
Polem) dari Meulaboh untuk meminta Teuku Polem kembali ke Aceh, namun
karena sudah bertekad bulat menetap di Pulau Nias, permintaan tersebut
tidak dapat dipenuhi Teuku Polem. Pada tahun 1675 kembali datang utusan
dengan maksud yang sama. Untuk tidak mengecewakan adiknya, Teuku Polem
mengutus anaknya Simeugang sebagai penggantinya (pada saat itu telah
berusia 22 tahun) disertai keponakannya si Acah Harefa (anak dari
Balugu Mangaraja Fagowa). Mereka mereka belajar tentang agama Islam di
Meulaboh selama 14 tahun.
Pada tahun 1690 M. Siti Zohora dikawinkan dengan Datuk Ahmad, seorang
bangsawan yang datang dari Padang Pariaman. Tidak lama kemudian mereka
dikaruniai seorang putra.
Setelah melahirkan putra pertama mereka, Datuk Raja Ahmad diminta oleh
istrinya Siti Zohora dan mertuanya Teuku Polem untuk menjemput kakak
iparnya Simeugang dan si Acah ke Meulaboh.
Teuku Simeugang dan Si Acah akhirnya pulang kembali ke Nias dengan
membawa beberapa tanda mata peninggalan kakeknya Teuku Cik berupa
persenjataan dan meriam, Badi Suasa, Cerana Perak dan barang-barang
berharga lainnya.
Dua pucuk meriam tersebut masih ada hingga kini, satu berada di halaman
masjid Jami’ Desa Mudik dan satu lagi berada di depan rumah dinas
Bupati Nias. Dulunya kedua meriam tersebut berada di Desa Mudik, namun
pada masa pemerintahan Belanda, oleh asisten Resident Nias atas seizin
cucu-cucu Teuku Polem diambil dan diletakkan di depan kediaman Asisten
Resident Nias, yang kini jadi rumah dinas Bupati Nias.
Teuku Polem wafat kira-kira tahun 1698 M. dan atas kesepakatan Teuku
Simeugang dengan pihak paman dan iparnya, Teuku Polem dikebumikan
ditempat yang jaraknya sama jauhnya dari rumah Teuku Simeugang dengan
rumah adiknya Siti Zohora istri Datuk Raja Ahmad. Tulisan ini di sadur dari tulisan M. Idlim Polem
Pengalaman SeUmur HiDup ku
http://yeuhendrik.blog.friendster.com
RELAWAN KEMANUSIAAN YANG JUGA JADI KORBAN
( Catatan Hendrik Yanto H, saat jadi relawan YEU dan menjadi korban gempa Nias )
Hari Minggu mengguncang
Minggu tanggal 26 Desember 2004, pukul 08.15 Wib setelah 20 menit terjadinya gempa berkekuatan 8,9 Pada Skala Richter, tiba-tiba air laut naik kedaratan + 12 M yang secara berangsur-angsur menghancurkan rumah penduduk, masyarakat berteriak histeris dan berlari menyelamatkan diri, bagi mereka yang tidak sempat menyelamatkan diri akhirnya tewas diterjang gelombang dahsyat, ribuan nyawa melayang dan tidak terhitung lagi kerugian harta benda serta fasilitas umum. seluruh jagat tersentak dengan bencana tsunami dan menggugah hati masyarakat dunia untuk membantu baik tenaga sukarela, menyumbang harta dan berbagai bantuan lainnya. Manusia yang memiliki perasaan dank ash saying seperti halnya.
Pukul 10.00 aku didatangi oleh seorang dari Kelompok kami kebetulan kami memiliki suatu wadah untuk pemuda yang kami bentuk sendiri dan kami beri nama “PERINTIS 99” yang mana wadah ini terbentuk pada tahun 1999, ia kemudian menginformasikan kalau di Aceh dan daerah kami (Sirombu dan Lahewa juga beberapa kecamatan lainnya) telah terjadi gempa berkekuatan 6,8 pada Skala Richter, dan aku diberitahu untuk segera mengadakan pertemuan dimana ia telah memberitahu kepada teman-teman lainnya. Adikku berkata tadi ada berita di TVRI bahwa ada gelombang besar di Aceh akibat gempa. Selang beberapa saat aku mendegar suara ORARI yang berada di sebelah rumah tempat tinggalku bahwa Kota Sirombu dan Lahewa telah tenggelam malahan ada pula yang tenggelam akibat gelombang besar
Akhirnya aku mengadakan pertemuan dengan beberapa teman yang sempat di panggil secara lisan maupun lewat telepon, hasilnya pukul 11.00, aku dan teman-teman harus menuju lokasi saat itu sebelum banyak isu yang akan tersebar mengenai hal ini, dimana kami kurang yakin akan adanya pulau-pulau yang tenggelam, dengan berbekal penggalaman di beberapa tempat kami langsung menuju lokasi kejadian dengan mengendarai motor dan ambulans milik pemerintah yang secara kebetulan berada di rumah teman kami.
Disinilah pertama sekali aku bersama teman dari perintis membawa mayat
Sesampainya di lokasi kami disambut seperti selebritis yang cukup terkenal celoteh salah seorang temanku, hingga kami sulit keluar dari dalam ambulans dimana para pengungsi langsung mengerubungi mobil ambulans yang kami tumpangi, dikarenakan kami di sangka berasal dari RSUD Gunungsitoli, tanpa basa-basi lagi, kami langsung menanyakan di mana sebenarnya kejadian awal, dari salah seorang penduduk yang tak kami kenal, dia langsung bercerita bahwa air laut itu datang dengan tiba-tiba dan dengan suara yang cukup besar, kemudian kami minta untuk diantar langsung namun tak ada yang berani untuk kembali ke lokasi rumah mereka sebab taku akan adanya gelomang yang lain lagi.
Namun dengan mimic yang meyakinkan warga agar mereka dapat menunjukkan lokasinya, dan kami hanya di berikan petunjuk secara lisan dan teman kami yang lain langsung mencoba menggambarkan arahnya. Kami neuju ke lokasi dan saat mulai menjumpai akhir air laut yang telah menggegerkan dunia itu, kami mulai kelihatan kesulitan menuju lokasi sebab banyaknya sampah dn pohon-pohon yang terbawa arus. Saat kami menemukan mayat pertama kami langsung memeriksa keadaan sekitar siapa tahu ada mayat lainnya.
Sementara teman lainnya mencari sesuatu untuk dapat menggotong mayat. Kami embawanya kemblai dimana banyak warga mengungsi dan setelah sampai kami dihampiri seorang ibu, beliau langsung menrik mayat tadi yang rupanya anak perempuanya. Barulah mulai banyak warga yang datang bersama kami untuk mencari keluarganya yang tidak mengungsi bersama mereka.
Hari-hari dalam pencarian mayat bersama warga, TNI, POLRI dan instansi lainnya, aku minta izin ke teman-teman agar dapat kembali ke gunugsitoli, namun mereka menghalangi niat tersebut. Malahan mereka mengatakan “KERJA BELUM SELESAI”, setelah saya beritahu keadaan bahwa saya juga mengajar di suatu sekolah dan menyakinkan teman bahwa aku akan kembali.
Pukul 05.30 aku sudah harus berangkat ke Gunugsitoli agar dapat mengejar jam pelajaran ke dua, tiba di rumah mandi dan menuju sekolah, saya diketahui oleh Bapak Kepala Sekolah yang mana langsung menanyakan keadaan terakhir, sebab mereka telah mengetahui aku telah berada di loaksi beberapa jam setelah kejadian. Salah seorang temanku mengajar minta untuk menjumpai seorang teman yang baru saja datang dari medan sehubungan dengan bencana Tsunami, namu aku menolak sebab aku yang lagi kecapean dan ia meminta dengan haru agar aku dapat menjumpainya. Terpaksa aku menuruti sebab selain teman juga sangat akrab dengan ku bila waktu mengajar kami kosong. Aku di perkenalkan dengan seorng laki-laki dan menyebut namanya MISRAN, kemudian dia menanyakan ada berapa mayat yang baru dapat dievakuasi saya mengatakan baru sekitar 50 mayat yang baru di evakuasi dan teman-temanku juga sudah mulai kehabisan bahan untuk bertahan.
Sekitar pukul 11.00 aku dan Bang Misran berangkat menuju Sirombu dan Mandrehe dengan menyewa sepeda motor Mega Pro. Perjalanan ke Mandrehe memang sangat melalahkan karena kondisi jalan yang buruk, licin, berlumpur dan berlubang, banyak pendakian dan jembatan yang rusak. Perjalanan dari Gunung Sitoli ke Mandrehe sepanjang 80 KM ditempuh dengan waktu sekitar 3 jam.
sekitar pukul 14.30 akhirnya kami tiba di lokasi penampungan pengungsi Mandrehe. Para pengungsi ditampung disebuah Gereja BNKP. Di papan tulis aku melihat data korban bencana tsunami, tercatat 129 orang meninggal dan hilang. Sementara itu di dalam gereja aku melihat tumpukan barang-barang dan juga pengungsi. Dapur umum dibuat di tempat parkir gereja. Seorang relawan dari PMI yang aku temui mengatakan bahwa saat ini pencarian terus dilakukan oleh Perintis 99, TNI, PMI dan juga masyarakat. Sementara posko bencana baru sebatas memberikan kebutuhan makanan saja. Bang Misran sempat bertemu dengan petugas posko dari kantor camat Mandrehe, namanya Pak Fatizaro. Ia mengatakan kalau pelayanan kesehatan sangat mendesak dibutuhkan karena para pengungsi sudah banyak yang sakit. Setelah mencatat temuan-temuan dipengungsian Mandrehe, kami melanjutkan perjalanan ke Sirombu. Di Sirombu bang misran menyaksikan sebuah desa yang hancur karena terjangan gelombang tsunami. Desa ini terletak ditepi pantai, ketinggi hanya 0,5 meter dari permukaan laut. Memang tidak banyak korban jiwa di Sirombu, tercatat 7 orang ditemukan meninggal dan 1 orang sampai saat ini belum ditemukan. Aku begitu terharu melihat hancur nya sebuah desa yang padat penduduk, Sirombu memang dikenal sebagai pusat perdagangan kawasan Nias bagian Barat.
Wajah Sirombu yang hancur
Bang misran sempat mewawancarai beberapa masyarakat yang sedang berada direruntuhan rumah mereka untuk mencari barang-barang yang tersisa. Menurut seorang warga pak Daely (55 tahun), naiknya air laut dengan terjadi gempa hanya berjarak sekitar 30 menit, pada saat setelah gempa masyarakat melihat air laut surut sampai 2 KM dan terlihat pasir putih yang terhampar luas, kami semua heran dengan kejadian ini. Tapi kami pernah mendengar cerita dari orang-orang dulu kalau air laut surut jauh maka biasanya akan terjadi gelombang besar, maka sebelum sempat air laut naik kami sempat menyelamatkan diri, itu makanya di Sirombu tidak banyak korban. Berbeda dengan Mandrehe, ketika air laut surut banyak masyarakat yang berhamburan ke pantai untuk mengambil ikan-ikan yang terkapar. Gelombang besar di Sirombu terjadi sebanyak 4 kali dengan ketinggian mencapai 5 meter.
Kota Sirombu Yang Hancur Pasca Tsunami
Suasana di pengungian
Penampungan pengungsi korban tsunami di Sirombu berada di Kompleks kantor Camat di Tetesua. Pengungsi menempati dua unit gedung (balai pertemuan dan kantor PKK). Tercatat 236 KK atau 1055 pengungsi di Sirombu, tidak ada tenda-tenda pengungsian sehingga pengungsi menumpuk di dua bangunan. Gedung seluas kira-kira 15 x 10 meter di tempati sekitar 70 200-300 orang. Memang tidak semua pengungsi berada di penampungan, ada juga yang tinggal dirumah-rumah penduduk. Mereka tinggal dengan kondisi yang padat, dan ruangan yang tidak sehat, lantai semen tanpa tikar, orang bercampur dengan barang-barang.
Seorang ibu mengeluhkan karena tidak ada bantuan pakaian dalam, juga tidak ada alat pengaman untuk kebutuhan khusus perempuan yang sedang menstruasi. Sehari-hari mereka juga hanya mengkonsumsi nasi putih dan mi instan, tidak ada susu untuk anak-anak mereka. Seorang petugas posko pengungsi bernama Ama Lesta (Sekretaris Posko) mengatakan masalah utama yang kami hadapi adalah tidak adanya layanan kesehatan, meskipun saya mendengar katanya Dinas Kesehatan sudah menurunkan tim medis tapi tidak ada sampai ke posko ini, sehingga kemarin ada seorang anak yang sakit parah tidak ada yang mengobatinya. Petugas ini juga mengharapkan kalau bisa secepatnya kami mendapatkan bantuan kesehatan karena keadaan mereka tidak semakin buruk.
Setelah mencatat semua informasi dari lokasi bencana dan camp pengungsian, kami segera bersiap untuk kembali ke Gunung Sitoli. Sekitar pukul 19.00 WIB kami berangkat dari Sirombu dan baru tiba di Gunung Sitoli sekitar pukul 23.00. kami harus mengendarai motor sedikit pelan, karena kondisi jalan buruk, apalagi perjalanan malam hari tidak ada lampu penerangan jalan. Tiba di Gunung Sitoli.
Setelah itu aku di ajak Bang Misran untuk bergabung bersama dan menawarkan sejumlah untuk menutupi beberapa hari saya tidak mengajar, dalam hati saya mengatakan itu belum seberap mengganti nyawa korban. Aku di berikan kartu tanda pengenal dan tertulis YEU-PKPA, maka resmilah aku jadi relawan.
Hari-hari bersama para pengungsi yag ada di Sirombu dengan segala macam rupa dan keluhan, sampaikan kepada kami, ketika melakukan assessment. Dimana tim medis YEU juga telah di kepung oleh pasien-pasien yang menanti dengan tidak sabar hingga beberapa kali di peringati untuk antri, ya maklum namanya juga warga di kampong tidak mengenal kata antri, sehingga membuta tim medis kewalahan menangani pasin yang sedang di periksa.
Berselang beberapa hari, minggu dan bulan aku bersama YEU-PKPA, namun di akhir bulan Februari kami mengadakan pertemuan yang pertama sekali oleh seluruh tim YEU di Brastagi.
G E M P A menggegerkan dunia
Kegiatan kami di Sirombu waktu malam hari adalah membuat laporan harian.waktu itu,sambil membagi logistik untuk Sirombu dan Orahilibadalu yang baru saja dibawa bang Nano dari G Sitoli dan membicarakan rencana kami untuk esok hari. Tiba – tiba ada banyak aku mendengar dari luar rumah teriakkan yang semakin ramai, sesaat aku merasakan kaki bergetar dan saat aku melihat lampu bergoyang sentak aku memberitahukan ke teman-teman agar tidak panic dan ternyata, telah terlebih dulu Mbak Yuli dan Bnta mengeluarkan air mata, aku melihat ked lam rumah nampakku Mbak Naning sedang mengunci pintu tengah, aku berteriak ada gempa mbak, aku kelura rumah, wah koq tambah goyang pikirku.
Aku berlari kesan-kemari akibat hentakan tanah, aku lihat tiang listrik bergoyang bersama talinya dan rumah yang sudah ada berbunyi detuman , aku tidak tahu bunyi apa itu, aku kembali ke posko denga tujuan mengambil kunci motor, karena menurutku dapat aku pergunakan, setelah kembali mengambil kunci aku bingung mencari letak di mana motor yang tadi sore telah aku parker, eh ternyata telah jatuh, aku langsung berdirikn dan memesukan kunci ternyata, hanya untuk memasukkan kunci saja ga bisa seperti biasanya, karena tidak bisa masuk ke lobang kunci motor tadi langsung aku hempaskan begitu saja dan meuju mobil double cabin yang telah siap untuk berangkat, aku berteriak eh .. eh .. tunggu aku melihat mas bowo berari langsung memanggil mas bowo untuk segera naik ke mobil, dan kulihat juga lampu minyak,rumah sebelah posko terjatuh..
Mobil berjalan sambil membuyikan klakson terus menerus karena semua orang berlarian kejalan dan berusaha menyetop kami.Sepanjang jalan kuamati air laut naik atau tidak.bahkan kami tidak berhenti ketika kami melewati rumah yang telah roboh dan ada orang berteriak-teriak kalau orang tuanya masih didalam terhimpit beton.
Beberapa ratus meter mobil berjalan ada tiang listrik yang tumbang di jalan,bang Nano berusaha melewatinya tapi ternyata tidak bisa karena terlalu tinggi. Aku turun dari mobil dan menuju di mana terdapat tiang listrik telah tumbang serta bersam dengan pemuda lainnya berusaha menarik kepinggir jalan tidak bisa karena terlalu berat dan kabelnya masih tersambung.Keadaan semakin kacau karena setiap orang ingin lewat dan ada beberapa truk dibelakang kami. Kulihat bu Naning sudah keluar dari mobil dengan membawa Nona anaknya bang Nano dan orang-orang yang di ada bak belakang aku suruh keluar dan berlari menuju Tetesua, dan aku melihat seorang bayi yang dibawa Wina. Ku dengar mas Bowo minta mbak yuli supaya selalu bersama. ternyata setelah beberapa saat dan dengan segala upaya mobil tidak bisa lewat. akhirnya kami putuskan untuk berjalan kaki. Aku dan bersama dengan Mas Bowo bang Nano, Pak Sapto, Rajman dan beberapa orang lainnya masih tinggal untuk menyingkirkan tiang listrik.
Setelah tiang listrik kedua terlewati kembali getaran bumi menggonyang dan semakin membuat kami untuk terus berusaha agar mobil dapat mencapai tetesua, hasilnya sia-sia, aku mengatakan kalau mobil tinggal saja dan Bang Nano kelihata sedih, saya langsung bilang ke Bag Nano kalu nyawa lebih berharga dari pada mobil, nanti biar saya yang bertanggungjawab kepada Mbak Shinta kalu mobil terjadi sesuatu, hanya sekedar meyakinkan bang nano. Setelah itu kami di ingatkan oleh seseorng bahwa posko msih dalam keadaan terbuka dan ia telah menguncinya
Aku berjalan dijalan yang keadaannya parah. Jalan aspal yang tadinya sudah rusak banyak lubang disana sini, semakin parah. Banyak patahan yang tercipta karena gempa yang baru saja terjadi. Terlebih jalan didaerah rawa yang patahannya cukup dalam dan lebar. Kulihat juga perumahan Delasiga yang baru dibagun temboknya sudah runtuh.
Ditengah perjalanan aku bertemu dengan seseorang bapak yang di papah oleh orang yg tidak aku kenal, dan langsun saja tanpa melihat dia berasal dari mana aku mencoba menggantikan posisi yang memapah beliau, ternyata ia tahu aku dari YEU, tiba-tiba ada motor lewat langsung saja aku teriyaki dan bapak pengendara motor kembali kea rah kami, aku katakana bahwa bapak ini harus di bawa ke Tetesua ia setuju dan kami menuju tetesua belum sampai lagi ternyata jembatan perbatasan pasar sirombu dan tetesua tidak bisa di lalui oleh kendaraan roda dua.
Sesampai di sekita lapangan tetsua aku melihat banyak orang berkumpul untuk menyelamatkan diri. Sambil mencari teman-teman kami berjalan menuju lapangan. Aku bawa bapak tadi ke puskesmas sirombu dan langsung aku tinggalkan sebab di sana telah banyak orang berkumpul, dilapangan orang-orang sudah bergerombul, yang beragama islam menjadi satu megumandangkan zikir dan yang Nasrani berdoa Bapa Kami dan Pengakuan Iman Rasuli.
Ternyata gempa tidak berhenti begitu saja.sebentar-sebentar terjadi gempa susulan yang terasa besar dan didahului dengan suara bergeretak. bahkan ditengah situasi yang belum tenang muncul berita bahwa air laut naik. Kami memutuskan untuk pindah ke puskesmas.Sambil memapah MasBowo aku melihat Gereja BNKP, gereja yang terbagus didaerah Tetesua sudah roboh rata dengan tanah dan Tower Gereja BNKP satunya tempat kami biasa melakukan pelayanan juga sudah roboh.
Sesampai kami di puskesmas tugas masih memanggil kami, karena korban yang luka-luka dibawa kesana. Aku bertanya kepada dokter sapto bagaimana jika banyak yang luka , ya kita tidak ada obat, aku berlari menuju rumah kepala puskesmas dianya tidak berada di rumah, dan aku mencoba berunding dengan dokter sapto kembali, bagaimana jika puskesmas kita dobrak saja, awalnya kurang setuju danmungki karena masih ragu, dan tanpa piker panjang lagi aku mengambil ancang-ancang dan langsung menghujamkn kakiku ke pinta dan terdengar bunyi gubrakkk, orang-orang melihat aku aku ulangi lagi menendang pintu, barulah di susul beramai ramai ternyata bobol juga.
Kami semua masuk dan saya katakana ke dokter sapto obat-obat apa saja yang diambil, tanpa piker panjang katanya cari yang berbau bius, atau apa saja, dokter sapto kembali membobol pindu farmasi dibantu warga, bobol juga. Setelah dirasa cukup Akhirnya dengan cara yang gila kami mendapatkan alat-alat untuk manjahit, obat di bawa keluar dan langsung mengobat org yang luka orang yang datangnya entah darimana.yang lukanya lebar-lebar kami hanya bisa menolong dengan betadhin dan menghentikan perdarahan dengan cara ditekan dengan perban.Sampai kemudian tandu darurat yang berisi seorang ibu yang terluka cukup parah lengannya,yang apabila tidak segera ditolong akan mendatangkan kematiaan karena ada fraktur terbuka dengan perdarahan hebat.semula kami hanya memberinya bethadin dan perban.
Sempat saya lihat mbak yuli bersitegangn dengan orang asing,yang ternyata seorangn perawat dari hawai yang baru datang guna melakukan pelayanan di pastoran karena ia melarang kami melakukan tindakan.Setelah kami menerangkan bahwa kami adalah tim medis YEU dari Yogya dan Pak Sapto adalah seorang dokter baru ia menyerahkan pasien itu untuk dilakukan tindakkan.Pak Sapto melakukan tindakkan pada si ibu dibantu beberapa orang dari pastoran,bu Naning dan saya membantu dimana diperluka pak sapto.
Ternyata alam tidak selalu bersahabat,lama kelamaan bulan yang kami andalkan menghilang tertutup awan,dengan penerangan lampu senter kami melakukan perawatan.entah senter siapa yang kami pakai. Diwaktu melakukan tindakan Pak Sapto mengalami LBP, kemudian mbak yuli yang disuruh mengantikannya. Tapi apa yang terjadi? ternyata setiap mbak yuli menarik benang tangannya gemetar dan jahitan tidak jadi alias benangnya tidak mau merekat. dia putuskan memanggil Bu Naning untuk mengantikannya.
Hujan Semakin deras, orang-orang sudah berteduh di teras rumah-rumah yang masih utuh. Sedangkan kami masih menjahit luka, akhirnya kami putuskan untuk pindah ke dalam puskesmas. Juga di dalam puskesmas masih kami merasakan gempa dan setip terjadi gemap kami berlari meninggalkan yang kami jahit lukanya, begitu dankalu aku tidak lupa itu ada empat kali berlaku, hingga aku putuskan untuk istrahat sejenak di luar.
Sesampai di luar aku merasakan mao buang air kecil, aku bingung mau membuang dimana, WC di puskesmas aku tidak tahu letaknya, dan mencari tempat lain dimana-mana ada orang terpaks aku berjalan tidak jauh dari puskesmas, dan sebelum membuang aku di panggil beberapa warga untuk membantu persalinan seorang ibu, ya ampun aku mau buang air kecil terpaksa aku tahkan saja dulu. Setelah selesai persalinan si ibu tadi tanpa basa-basi aku berlari keluar yang kebetulan terjadi gempa susulan.
Aku kembali mencari teman-teman yang aku tinggal di puskesmas tadi dan bertemu dengan mereka yang telah terlebih dulu berteduh di salah satu ujung atap seng puskesmas.
Hingga pagi harinya, kami kembali teringat dengan bu dwi dan herman yang ada di orahilibadalu dan kami mengambil kesimpulan jika dalam beberap jam lagi sebelum keberangkatan belum ada tanda-tanda mereka kembali, kami harus menuju gunungsitoli.
Sebelum berangkat aku bersama dokter sapto dan mas bowo kembali ke posko dan diperjalan di peringati oleh beberapa warga bahwa air sudah mulai surut jadi hati-hati sajaah dan setiba di posko tanpa piker lagi aku mengumpulkan semua yang bis terbawa oleh ku. Segera aku teriyaki mas bowo dan dokter sapto untuk segera kembali ke tetesua.
Sekembalinya kami aku melihat di kumpulan tim ada bu dwi, dan aku senang langsung memeluknya dengan erat serasa tidak mau melepaskan. Kemudian bu naming meminta aku untuk menemaninya kembali ke posko sebab ia masih ada keperluan beberapa yang perlu di ambil di posko, sesampai dan tak jauh dari posko aku berhenti dn menurunkan bu naming serta mengatakan waktu ibu hanya 10 menit ya…, kalau ga aku tinggal lho bu ….
Dengan tergopoh ia berlari dan kembali sebelum 10 menit, kami kembali menuju teman-teman, dan mengadakan pertemuan kecil apakah akan kembali di gunungsitoli, dokter sapto menanykan satu persatu kepada teman-teman dan aku hanya menyimak saja sebab aku juga bingung bagaiamana dengan orang tuaku dan adikku di gunungsitoli, dokter sapto mengembalikan semuanya jawaban teman-teman kepadaku bahwa semua akan ke gunungsitoli, bagaimana mas hendrik seru dokter sapto, keputusannya dari mas hendrik, aku terkejut dan tanpa piker panjang aku langsung berkata ayo kita ke gunungsitoli, dan kami berangkat kulihat binti menangis, saat kami pamitan, aku tahu bahwa ia masih ingin bersama kami.
Sebelum sampai di gunungsitoli, kami masih di halangi oleh sebuah jembatan yang betul-betul putus total, bang nano merasa ia bertanggungjawab akan keselamatan kami langsung enjumpai salah seorang pemuda yang katanya ia kenal, dan kami bersama teman lainya megambil keputusan bahwa harus ada orang yang sampai ke gunungsitoli untuk memberitahukan keadaan, aku dan mas bowo di utus untuk ke gunungsitoli, di perjalana aku bertemu mas roby yang memang telah gelisah akan keadaan kami, maklum dia juga adalah Area Manage YEU di NIas.
Dia menanyakan keadaan teman-teman, kami katakana semua selamat dan dia cerita bahwa 80% gunungsitoli telah hancur, aku terpental bathin, keluargaku bagaimana. Di perjalanan atau dekat desa botombawo kami istrahat kata mas robby, tak lama mobil double cabin lewat dan semua berjumpa dengan mas robby, selanjutnya kami ke gunungsitoli.
Sesampai di masjid jami yang telah di konsentrasikan terlebih dulu bang misran dan teman lainnya. Aku minta izin ke mas robby untuk melihat rumah, di depan rumah aku bertemu adik-adik ku ternyata mereka selamat dan aku Tanya mama dan bapak dimana, jawab mereka di TK Bhayangkari, aku menuju kesana dan langsung saja mamaku memeuku dengan erat sambil menangis, aku juga ikut menangis bahagia sebab melihat mereka semua selamat.
Hari-hari menangani korban Gempa.
Setelah beberapa lama aku bersama keluarga, aku kembali bergabung dengan tim yeu lainnya, aku terkejut bahwa jumlah kami semakin banyak, saja setiap hari, aku mengambil tugas membantu medis dan mencari data korban.
Mendengar telah ada pos kesehatan yeu di pelita tanpa berat aku kesana disana telah ada dokter edy dan mas bambang teman yeu dulu waktu pasca tsunami.
Selang beberapa hari, minggu, bulan hingga saat ini aku masih bersama yeu, kin saat menulis lanjutan kisahku, masih saja ada gempa aku duga bahwa aku hanya kelelahan ternyata bukan , sebab lampu yang di gantung ikuti bergoyong , oh Tuhan kapan semua ujian ini berakhir.
Sukses untuk ONKP
Apakah Anda “Digerakkan” atau “Terpanggil”?
Dalam bukunya yang terkenal, Ordering Your Private
World, Gordon MacDonald membandingkan kata
“digerakkan” (driven) dan “terpanggil” (called). Kata
“digerakkan” identik dengan motif negatif atau egois,
sedangkan kata “terpanggil” identik dengan panggilan
Tuhan. Ia menyatakan bahwa seharusnya menjadi
“terpanggil” lah yang mendasari motivasi kita. Ia
menjelaskan juga bahwa hanya dengan menyerah kepada
panggilan Tuhan kehidupan kita akan damai.
Dalam pengalaman hidup dan pelayanan, saya penah
mengalami baik situasi “terpanggil” maupun
“digerakkan.” Saya percaya ada sisi positif dari
situasi “digerakkan” – Yesus digerakkan oleh Roh Kudus
ke padang belantara untuk dicobai (Markus 1:12).
Tetapi, ada juga sisi negatif yang berasal dari
situasi “digerakkan”, yaitu oleh keinginan diri
sendiri, nafsu, ketakutan atau kompetisi.
Pengajar Alkitab, Dudley Hall menceritakan kisah
panggilan Yesus terhadap Petrus. Ia menjelaskan bahwa
Yesus tidak pernah bertanya apakah Petrus mengasihi
domba-domba-Nya atau secara khusus memperhatikan
domba-domba-Nya. Yesus bertanya pada Petrus, “Apakah
engkau mengasihi Aku?”
Dengan demikian, kasih terhadap Yesus lah yang
seharusnya menjadi motivasi kita untuk melayani Tuhan
dan gereja. Saya ingin “terpanggil” – dan dengan
demikian saya pun akan “digerakkan”. Saya ingin
mengalami hal itu oleh dorongan Roh Kudus dan bukan
karena ketakutan, ambisi pribadi atau motivasi saya.
Berikut ini adalah sebuah perbandingan dalam
Perjanjian Baru yang ingin saya tunjukkan untuk
menjelaskan perbedaan antara “terpanggil” dan
“digerakkan,” yaitu perbandingan antara Yohanes dan
Yudas.
Yudas, tidak diragukan adalah seorang yang
“digerakkan”. Alkitab berkata bahwa Yudas menjadi
marah terhadap wanita yang menuangkan parfum mahal di
kaki Yesus sebelum penyaliban-Nya. Karena kehidupannya
hanya sekadar “digerakkan”, Yudas mengeluh bahwa
parfum tersebut dapat dijual dan uangnya diberikan
kepada kaum miskin.
Dalam Yohanes 12:6, Roh Kudus menyingkapkan apa yang
sebenarnya ada dalam hatinya, Hal itu dikatakannya
bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang
miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia
sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang
dipegangnya.
Injil Matius mengatakan bahwa setelah Yudas dan para
murid lainnnya ditegur oleh Yesus karena mengkritik
wanita dengan parfum mahal itu, Yudas pergi ke Imam
Kepala dan mengajukan persepakatan keji untuk
mengkhianati Yesus.
Sebelumnya, Yudas – seperti para murid lainnya -
mengharapkan Yesus dapat menjadi pemimpin politik dan
militer yang besar dan akan menggulingkan pemerintahan
Romawi serta membangkitkan kembali bangsa Israel.
Yesus secara keras menolak pemahaman tersebut. Ia
berkata dengan terus terang kepada para murid bahwa Ia
tidak akan membangkitkan revolusi seperti itu. Bahkan,
sebenarnya Ia akan menyerahkan diri-Nya sendiri kepada
Romawi untuk dihukum mati.
Hal ini mungkin membuat Yudas berpikir bahwa Yesus
telah kehilangan akal-Nya. Penyangkalan ini mungkin
telah menjadi pukulan bagi Yudas.
Selain itu, menurut Yudas Yesus juga sering melakukan
hal yang bertentangan dengan yang lazim pada saat itu.
Yudas kemudian merasa bahwa “kapal akan segera
tenggelam”. Karena itu, Yudas yang “digerakkan” ini
mungkin menyimpulkan bahwa ia perlu menutupi
kerugiannya akibat proses tersebut . Pemikiran ini
diakibatkan karena Yudas termakan tipuan iblis,
sehingga ia memilih berkhianat terhadap Pribadi yang
telah mengasihi dan melayaninya selama tiga tahun.
Dorongan keinginan pribadi Yudas dikombinasikan dengan
pengaruh setan, akhirnya berakhir pada bunuh diri yang
mengerikan yang dilakukan oleh tokoh tragis ini.
Berbeda dengan Yudas, kita juga melihat murid yang
dikasihi Tuhan, Yohanes – penulis sebuah Injil, tiga
surat dan Kitab Wahyu. Yohanes mempunyai pengaruh yang
mendalam pada gereja – yang masih terasa sampai
sekarang. Ia adalah manusia biasa, seperti kita semua.
Yohanes pun pernah menunjukkan beberapa cela di masa
awal perjalannya bersama Yesus. Ia pernah meminta agar
ia dan saudaranya, Yakobus dapat duduk di sebelah
kanan dan kiri Tuhan Yesus dalam kemuliaan di sorga
kelak. Bahkan, ia pernah meminta agar Tuhan
mencurahkan api surga bagi desa tempat orang tidak
percaya.
Tetapi kemudian, kita melihat kekuatan karakternya
yang terlihat saat ia tetap mengikuti Yesus sepanjang
jalan menuju kematian-Nya ke Kalvari. Yohanes lah yang
tinggal bersama Yesus, meskipun semua murid lainnya
melarikan diri karena ketakutan. Yohanes membahayakan
hidupnya sendiri dengan tetap tinggal bersama Teman
dan Tuhannya.
Yohanes ada di taman pengadilan saat Petrus menyangkal
Yesus. Yohanes juga yang menenangkan Maria di kaki
salib dan ia diberi kepercayaan oleh untuk menjaga
Maria.
Setelah hari Pantekosta, Yohanes menjadi salah satu
rasul yang menjadi tumpuan gereja awal, bersama dengan
Petrus, Yakobus dan Paulus. Itulah keajaiban kecil,
berbeda dengan hidup yang “digerakkan” seperti Yudas
yang berakhir pada tragedi, hari-hari akhir Yohanes
yang “terpangil” dipenuhi dengan Pewahyuan mulia
sebagai titik puncak masa kembalinya Kristus.
Saya percaya bahwa hal ini sangat jelas. Berlaku egois
dan “digerakkan” untuk pelayanan, posisi, kekuasaan
dan prestis dapat menyebabkan kerusakan. Sedangkan,
“terpanggil” oleh Tuhan dan melayani Dia dengan rendah
hati berarti kita benar-benar dipimpin oleh Roh Tuhan.
Saat kita mati terhadap keinginan daging, digerakkan
dan kemudian meminta Tuhan untuk hidup di dalam serta
melalui kita, kita pun akan dimampukan untuk memenuhi
tujuan kerajaan Tuhan dan tujuan hidup kita. Seperti
Paulus yang “terpanggil” – yang tadinya Saulus yang
“digerakkan” – kita dapat berkata, “Malahan segala
sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus
Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh
karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan
menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,”
(Filipi 3:8). (“Yes, everything else is worthless when
compared with the infinite value of knowing Christ
Jesus my Lord. For his sake I have discarded
everything else, counting it all as garbage, so that I
could gain Christ…” [Phil. 3:8 NLT]).
Sumber: Craig von Buseck
DPH (Dewan Pengurus Harian) PMHS Periode I Tahun 2009-2012
1.Ketua : Ir. Tiberius Zaluchu (Ama Edgar) HP.0818902979
2.Wakil Ketua : Arosokhi Marunduri (Ama Deasy) HP.081319750808
3.Sekum/Humas : Teguh F. Marundrury, SE (Ama Rubeno) HP.08174855822, 081210031174.
4.Bendahara : Djudjur S. Maruhawa, SE. HP.081314337272
5.Sekretaris I : Hendrik Maru’ao. HP.081218501081
6.Sekretaris II : Fari’awosa Marunduri (Ama Frisda) HP.081210020195
7.Wakil Bendahara : Yales Warae (Ama Jezan) HP.085215667640.
Kantor Sekretariat :
Griya Segara
Jl.Pinus II No.218 Blok A Perum.Harapan Jaya
Bekasi Utara 17124.
Telp: (021)88962376. Fax: (021)88959663
E-mail : pmhs_center@rocketmail.com
Demikian info PMHS, terima kasih..
Sekum / Humas
Menambah kecepatan akses internet sangat diinginkan para pengguna internet. Ada banyak cara digunakan untuk menambah kecepatan akses koneksi internet, dari cara simpel menonaktifkan loading gambar pada browser hingga penggunaan software tertentu dari gratis hingga berbayar. Posting ini hanya akan memberi 2 alternatif cara menambah kecepatan koneksi internet anda.
Tweak 1: Un-reserving bandwidth
Secara default, XP menyimpan 20% dari bandwith anda untuk penggunaan aplikasi dari XP itu sendiri. Kita bisa ubah menjadi 0% untuk menambah kecepatan akses internet anda.
1. Buka Group Policy Editor dengan mengetikkan gpedit.msc pada Run box (Windows Start kemudian klik Run). Lihat gambar dibawah.
2. Pada panel sebelah kiri, klik Computer Configuration/Administrative Templates/Network/QOS Packet.
3. Pada panel kanan, terdapat menu Limit reservable bandwidth, klik kanan dan pilih properties.
4. Pada tab setting, pilih atau klik pada Radio Button Enabled kemudian ubah Bandwith limit ( % ) dibawahnya menjadi 0 . Seharusnya seperti gambar dibawah ini.
5. Klik OK lalu tutup Group Policy Editor.
Selesai! Mudah dan cepat kan?!
Tweak 2: Optimizing TCP/IP settings
Tweak ke-dua ini, Anda membutuhkan freeware SG TCP Optimizer. Aplikasi kecil ini sanggup meng-optimalkan cara kerja PC saat mengirim dan menerima data packets saat Anda terhubung ke internet. Tools ini lebih efektif untuk pengguna koneksi broadband, walapun bisa digunakan untuk semua jenis koneksi internet.
1. Download SG TCP Optimizer. Tanpa perlu install, cukup double-click dan tools ini akan running. Lihat gambar dibawah ini untuk lebih detail :
2. Kita hanya akan bekerja dengan beberapa klik saja, abaikan saja menu lainnya. Dibawah tab General Settings, drag slider-nya pada kecepatan koneksi yang Anda inginkan. Lalu, pada jendela yang sama di bagian bawah, pilih radio button Optimal Settings dan click Apply Changes.
3. Selanjutnya Anda akan temui tampilan seperti gambar dibawah ini.
4. Pastikan pada box Backup dicentang lalu click OK.
5. Restart PC Anda.
6. Setelah restart, coba browsing internet Anda pada halaman web yang tidak terlalu “berat” atau memakan bandwith terlalu banyak. Jika anda merasa kecepatan koneksi internet justru melambat atau menurun Anda bisa melakukan restore pada original setting. Start SG TCP Optimizer, click File dan pilih restore backed up settings. Anda akan dibawa pada dialog box yang Anda gunakan untuk navigasi tempat dimana mendownload program. Disitu Anda akan menemui file dengan extension .spg dan filename yang mengandung tanggal. Contoh, jika anda melakukan perubahan 21 February maka “sg_backup_2008-02-21-xxxx.spg” merupakan filename-nya, dimana xxxx bisa diisi dengan nomor apa saja. Buka file tersebut. Anda akan dibawa pada dialog box seperti yang ditunjukkan diatas. Click OK lalu restart. Original settings Anda telah kembali.
Sukses buat ONKP
Salam,
Menifati Hia.
pangan-kita.blogspot.com
http://pangan-kita.blogspot.com/
REBUT KANAAN!!! (bagian 1)
Beberapa catatanku, pada khotbah bertema “REBUT TANAH KANAAN!!”
~ Yosua 1 : 1-8 ~
tau ga, ternyata merebut “Tanah Kanaan” dalam hidup kita itu adalah PERINTAH!! suatu keWAJIBan dan keHARUSan..
mari kita lihat..
apa si KANAAN itu? kalau kita baca di ULANGAN 8 : 7-10, inti dari Tanah Kanaan adalah suatu negeri (kehidupan) yang BAIK,
jadi Tuhan Yesus tarik umat pilihanNYA dari Tanah Mesir (lambang perbudakan, ikatan, keterbatasan, kesakitan, penyiksaan dan kekurangan.. kehidupan dalam DAGING) untuk ditempatkan di Tanah Kanaan, tanah yang BAIK, kehidupan yang BAIK..
kalau begitu, bagaimana perjuangan kita untuk mencapai kehidupan yang BAIK itu?
bagian Tuhan adalah menyediakan Tanah Kanaan untuk kita, manusia-manusia pilihanNYA..
dan bagian kita hanyalah berjalan mengikuti Tuhan.. seMUDAH itu?? siapa bilang MUDAH?? (keMUDAHan dalam penyerahan TOTAL kepada Kristus, dita!) :p
ada 3 hal yang harus kita LEWATI..
1. Padang Gurun (ULANGAN 8 : 2-3)
aku baru tau, ternyata.. jarak Mesir – Kanaan itu hanya 40 hari perjalanan kaki, tetapi karena keBANDELan, keDEGILan, terlalu KERAS KEPALAnya dan terlalu NAKALnya umat pilihan ALLAH, maka atas KUASA dan PROSES Tuhan, DIA jadikan perjalanan itu selama 40 tahun..
ada hal penting yang aku cerna dari bagian ini..
“direndahkanNYA hatimu dan dicobaiNYA engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya” ULANGAN 8 : 16b
(mari kita renungkan baik2, maksud dan rencana Tuhan melalui ayat ini dalam kehidupan kita)
–> padang gurun melambangkan kehidupan yang sulit, kehidupan yang keras, kehidupan yang membosankan (makan MANNA setiap hari.. kita yang setiap hari berganti menu makan aja, seringkali masih BOSEN!!)
ada ular, kalajengking, tanah gersang dan tidak ada air..
2. Sungai Yordan (Yosua 1 : 2)
–> sungai Yordan melambangkan “arus kehidupan dunia”,
ARUS hidup sex bebas, hedonisme, KKN, dll.
manusia akan gagal melewati ARUS ini, karena manusia terlalu TAKUT, tidak bisa berenang (tidak memiliki PENGETAHUAN dalam Kristus) dan terlalu NEKAT..
harus ada MUJIZAT ALLAH untuk membantu kita menyeberangi “arus” ini.. dan MUJIZAT itu hanya bisa kita dapatkan kalau kita hidup DALAM TUHAN..
3. Penduduk Asli Kanaan
Setelah sampai di Tanah Kanaanpun, kita masih harus mengalahkan penduduk asli yang menempati Tanah itu..
–> penduduk asli di Tanah Kanaan ini melambangkan sifat-sifat dan sikap-sikap kita.. hidup DAGING kita..
* Bangsa Filistin (bangsa yang gemar perang.. ngotot, mau menang sendiri)
* Bangsa Amon – keturunan Lot (bangsa yang mengumbar nafsu, kenikmatan daging.. TEGASnya : zinah, cabul, mabuk, rakus, rokok,dll!!)
* Bangsa Het (bangsa orang-orang besar yang merasa diri penting, sombong, angkuh)
* Bangsa Amori (bangsa yang suka menyerbu, emosi yang tidak terkendali, tidak mengenal pengampunan)
maju untuk onkp secara khusus greja onkp medan
pos pelanan martubung greja medan kota
mari kita pelayanan tuhan bekerja diladang tuhan
amin yaahowu
dari kelurga ama ina linda gulo
hp 081397300044
hp08126529127
tel 0617032801
Pada Sidang Sinode Besar XI Gereja ONKP menetapkan visi dan misi sebagai berikut:
Visi Gereja ONKP ”TERWUJUDNYA KUALITAS IMAN DAN KESEJAHTERAAN WARGA JEMAAT MELALUI TRI PANGGILAN GEREJA.
Misi Gereja ONKP:
1. Meningkatkan tugas penggembalaan gereja dalam mewujudkan kualitas iman warga jemaat ONKP melalui Tri Panggilan yaitu: marturia, Koinonia dan Diakonia;
2. Meningkatkan peran gereja dalam mewujudkan kesejahteraan warga jemaat ONKP melalui pendidikan dan pelatihan di bidang ekonomi dan usaha (kewirausahaan)
3. Meningkatkan penguatan kelembagaan organisasi melalui penataan produk kebijakan dan peningkatan pelayanan administrasi gereja kepada warga.
4. Mewujudkan sistem akuntabilitas kinerja organisasi gereja yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.